Meski titik api sudah berhasil dipadamkan, kebakaran hutan dan lahan yang melanda Gunung Ciremai sejak Rabu (21/10/2026) menyisakan dampak yang cukup signifikan, salah satunya adalah hilangnya habitat satwa endemik Gunung Ciremai.
Koordinator Urusan Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Eska Nata Suryana memaparkan bahwa kebakaran yang melanda Gunung Ciremai kemarin memang memberikan dampak langsung bagi satwa endemik Gunung Ciremai.
Menurutnya, area hutan yang terbakar tersebut berada di ketinggian 1.000 mdpl yang menjadi habitat satwa langka seperti surili, elang jawa, dan macan tutul. Bahkan, untuk area Bintangot dan Panyusupan yang terbakar merupakan area monitoring macan tutul.
"Pasti terkena karena kawasan TNGC secara keseluruhan merupakan habitat alami satwa di dalamnya, termasuk untuk 3 satwa kunci (keystone species) kita macan tutul, elang jawa, dan surili. Ada tiga spesies kunci, seperti halnya yang di Bintangot, kemudian Panyusupan, itu kan kita juga menjadi area untuk monitoring macan tutul," tutur Eska, Senin (26/10/2026).
Eska memaparkan hewan endemik tersebut kemungkinan lari ke area yang belum terbakar atau ke zona inti Gunung Ciremai untuk menyelamatkan diri dari kebakaran hutan. Meski begitu, pihaknya belum bisa memastikan berapa jumlah hewan yang terdampak akibat kebakaran tersebut.
"Bisa jadi lari ke zona inti sebelah atasnya. Namun secara visual kita belum dapatkan dokumentasinya, kecuali yang postingan anakan surili itu sudah kita verifikasi kebenarannya. Nah, ini saya nggak bisa jawab ya, karena memang harus ada kajian ini sejauh mana dampak kebakaran ini terhadap keberadaan satwa liar, terutama satwa-satwa yang memang menjadi satwa kunci," tutur Eska.
Eska memaparkan untuk memulihkan habitat hewan langka tersebut, pihaknya akan melakukan pemulihan ekosistem di area yang terbakar dengan beberapa cara seperti penanaman, pemeliharaan sekat bakar, hingga pengayaan tanaman.
"Jadi nanti pemulihan ekosistem itu ada beberapa mekanisme, ada dengan penanaman intensif, kemudian ada dengan suksesi alam, ada dengan pengkayaan tanaman, ada pemeliharaan sekat bakar," tutur Eska.
Dari segi durasi, proses pemulihan area yang terbakar tersebut membutuhkan waktu minimal tiga tahun. Pada tahun pertama difokuskan pada penanaman, sementara tahun kedua dan ketiga dilanjutkan dengan pemeliharaan intensif yang dibiayai melalui APBN. Kendati demikian, sinergi dengan masyarakat dan kelompok tani lokal tetap menjadi kunci jangka panjang.
"Selanjutnya kita bekerja sama dengan kelompok tani dan masyarakat, walaupun misalkan dari sisi keuangan APBN-nya tidak ada lagi untuk anggarannya, tapi volunteer kelompok tani ini bisa terus merawat tanaman ataupun pohon yang telah ditanam sampai betul-betul tumbuh dan menjalankan fungsinya di alam," tutur Eska.
Eska memaparkan hingga kini luas area lahan Gunung Ciremai yang terbakar masih belum bisa diumumkan ke publik. Meski begitu, pihaknya mengimbau masyarakat luas agar bersama-sama menjaga kelestarian kawasan Gunung Ciremai dari ancaman kebakaran di masa mendatang.
"Luas areal terbakar sudah ada tapi belum ada komando untuk. Ditunggu saja. Bahwa Ciremai ini adalah milik kita semua. Itu artinya yang akan pertama kali merasakan baik buruknya dari kualitas Ciremai adalah masyarakat yang ada di sekitarnya, bukan masyarakat yang jauh. Oleh karena itu kami menghimbau, mari kita sama-sama menjaga gunung Ciremai ini supaya tetap lestari," pungkas Eska.
(sud/sud)