Manis Legit Tape Ketan Bakung, Warisan Rasa yang Bertahan

Devteo Mahardika - detikJabar
Minggu, 20 Sep 2026 14:31 WIB
Proses pembuatan tape bakung (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar).
Cirebon -

Aroma khas tape ketan begitu terasa dari sebuah rumah produksi sederhana di Desa Bakung Lor, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Di tempat inilah, beras ketan diolah menjadi tape yang memiliki cita rasa manis, segar, dan sedikit asam rasa khas yang membuat pelanggan terus kembali.

Tak banyak yang mengetahui, Desa Bakung merupakan salah satu sentra produksi tape ketan di Kabupaten Cirebon. Salah satu produsen yang hingga kini masih bertahan adalah usaha milik Ibu Munil.

Usaha tape ketan tersebut telah berjalan lebih dari satu dekade. Kini, usaha yang dirintis generasi sebelumnya itu diteruskan oleh generasi kedua. Di tengah perubahan selera konsumen dan perkembangan teknologi pemasaran, Ibu Munil memilih mempertahankan cara produksi yang telah diwariskan dari keluarganya.

Salah satu hal yang masih dipertahankan adalah penggunaan daun pisang sebagai pembungkus tape.

Menurutnya, penggunaan daun pisang bukan sekadar untuk membungkus produk. Daun pisang diyakini turut memengaruhi aroma dan cita rasa tape ketan yang dihasilkan.

"Kalau menggunakan daun pisang, rasanya berbeda. Itu yang sampai sekarang masih kami pertahankan," katanya, Selasa (15/9/2026).

Proses pembuatan tape bakung (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar).

Proses Panjang di Balik Rasa

Untuk menghasilkan tape ketan yang matang sempurna, diperlukan proses yang tidak sebentar. Bahan utama berupa beras ketan terlebih dahulu direndam selama sekitar 10 menit.

Setelah itu, beras ketan dikukus selama kurang lebih dua jam hingga matang. Ketan yang telah matang kemudian tidak langsung diberi ragi. Ketan harus terlebih dahulu didinginkan selama sekitar dua jam.

Tahap berikutnya menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembuatan tape, yakni pemberian ragi. Setelah ragi ditaburkan secara merata, ketan kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan dibiarkan melalui proses fermentasi hingga menghasilkan tape dengan rasa khas.

Setiap hari, Ibu Munil rata-rata memproduksi sekitar tujuh kilogram tape ketan. Namun, jumlah tersebut dapat meningkat drastis ketika ada pesanan dalam jumlah besar.

Dalam kondisi tertentu, pesanan bahkan bisa mencapai satu kuintal. Untuk menjaga kualitas, pemasaran tape ketan Bakung hingga kini masih didominasi wilayah Ciayumajakuning, yakni Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Pengiriman ke wilayah yang lebih jauh masih menjadi tantangan. Selain biaya pengiriman yang cukup tinggi, ada kekhawatiran tape mengalami perubahan tingkat kematangan selama perjalanan.

"Kalau dikirim terlalu jauh terkendala ongkos kirim dan takut matangnya di jalan," ujarnya.


(mso/mso)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork