6 Kuliner Khas Kuningan selain Tape Ketan yang Wajib Dicoba!

6 Kuliner Khas Kuningan selain Tape Ketan yang Wajib Dicoba!

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Jumat, 27 Mar 2026 18:00 WIB
Hucap atau kupat tahu khas Kuningan Kang Jamal
Hucap, salah satu makanan khas Kuningan. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Bandung -

Kabupaten Kuningan yang bertengger di kaki Gunung Ciremai menjadi salah satu destinasi mudik favorit di wilayah timur Jawa Barat. Saat momen Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah pada Maret 2026 mendatang, kawasan ini diprediksi bakal diserbu para perantau yang pulang kampung serta wisatawan yang merindukan udara sejuk pegunungan.

Selain tersohor dengan panorama alamnya, Kuningan menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang menggoda selera. Daerah ini memang identik dengan tape ketan manis nan legit yang dikemas unik dalam ember. Satu ember biasanya berisi 80 hingga 100 buah tape ketan.

Namun, selain tape ketan ember, Kuningan memiliki deretan makanan tradisional lain yang lahir dari perpaduan budaya lokal dan Tionghoa. Berikut adalah enam kuliner khas Kuningan selain tape ketan yang wajib Anda cicipi atau dibawa pulang sebagai buah tangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

6 Makanan Khas Kuningan Selain Tape Ketan

1. Hucap

Salah satu primadona kuliner Kuningan adalah Hucap, yang merupakan akronim dari tahu dan kecap. Hidangan ini menjadi menu sarapan wajib bagi masyarakat lokal karena perpaduan rasanya yang gurih, manis, dan mengenyangkan.

ADVERTISEMENT

Hucap sering dianggap sebagai simbol akulturasi kuliner Sunda dengan pengaruh Tionghoa. Sekilas, tampilannya mirip dengan kupat tahu. Namun, hucap memiliki karakter rasa yang berbeda dan lebih pekat.

Bahan utamanya adalah tahu goreng khas Kuningan yang bertekstur padat dengan semburat rasa asam yang tipis. Tahu tersebut disajikan bersama potongan ketupat, lalu disiram saus kacang yang teksturnya sangat halus dan kental.

Kunci kelezatannya terletak pada penggunaan kecap manis lokal yang memiliki cita rasa manis-gurih yang kuat, serta limpahan taburan bawang goreng di atasnya.

Salah satu tempat legendaris untuk mencicipi hidangan ini adalah Hucap Ma Iroh di Jalan Dewi Sartika, atau menyambangi beberapa kedai di kawasan Pasar Baru Kuningan. Harga satu porsinya cukup terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000.

2. Nasi Kasreng

Awalnya 'Kasri', lama-lama menjadi 'Kasreng'. Demikian silsilah nama Nasi Kasreng khas Kabupaten Kuningan. Nasi Kasreng memiliki komposisi yang unik; nasi putih yang biasanya disajikan di atas kertas nasi, lalu diberi taburan udang rebon goreng, tauge mentah, dan sambal terasi pedas. Lauk pendamping yang paling pas adalah gorengan hangat seperti bakwan atau gehu.

Dahulu, makanan ini merupakan menu andalan para sopir bus dan kernet yang singgah di Terminal Luragung pada era 1970-an. Menurut arsip detikJabar, nama 'Kasreng' sendiri berasal dari seorang pedagang bernama Kasri, tepatnya Bu Kasri, yang pertama kali menjajakan nasi dengan lauk sederhana ini. Perpaduan nama Kasri dan gorengan inilah yang kemudian melahirkan sebutan Kasreng.

Kini, Nasi Kasreng telah naik kelas menjadi kuliner favorit wisatawan. Sebuah tempat bernama Nasi Kasreng Luragung Mandiri bisa menjadi tujuan utama untuk menikmati hidangan ini. Harga satu porsinya mulai dari Rp15.000, tergantung pada lauk tambahan yang Anda pilih.

3. Kwecang

Kuliner berikutnya yang tak kalah unik adalah Kwecang. Kudapan berbahan dasar ketan ini memiliki bentuk segitiga yang menyerupai bacang. Makanan ini berakar dari tradisi masyarakat Tionghoa yang biasanya disajikan saat perayaan Festival Peh Cun atau Festival Perahu Naga. Seiring berjalannya waktu, kwecang diadopsi oleh masyarakat Kuningan menjadi camilan sehari-hari.

Kwecang terbuat dari beras ketan yang direndam dalam air abu merang, sehingga menghasilkan warna kuning transparan dengan tekstur yang kenyal. Ketan tersebut dibungkus daun bambu berbentuk limas segitiga, lalu direbus selama berjam-jam hingga matang sempurna.

Kwecang biasanya dinikmati dengan siraman gula aren cair yang memberikan sensasi manis legit. Kudapan ini mudah ditemukan di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Siliwangi atau pedagang tradisional di pagi hari dengan harga Rp5.000 hingga Rp7.500 per buah. Biasanya, kwecang dijual per ikat berisi 10 buah.

4. Ketan Pencok

Ketan Pencok merupakan makanan tradisional yang sangat populer di wilayah Cibeureum, Kuningan. Meski menyandang nama 'pencok', hidangan ini sama sekali tidak berkaitan dengan sambal mentah seperti pada rujak pencok.

Istilah tersebut merujuk pada bubuk kacang dan serundeng yang menjadi pelengkap utama ketan. Hidangan ini menyerupai uli ketan yang ditaburi bumbu kacang. Selain di Kuningan, kudapan serupa juga dapat ditemukan di daerah tetangganya, Bumiayu, Brebes.

Dalam proses pembuatannya, beras ketan putih dikukus bersama santan. Setelah matang, ketan tersebut ditumbuk namun tidak sampai terlalu halus, kemudian dicetak pipih sebelum dipotong-potong.

Ketan yang sudah siap kemudian dicelupkan atau digulingkan ke dalam bubuk kacang dan serundeng. Bubuk ini biasanya diracik dengan bawang putih, kencur, dan daun jeruk sehingga menghasilkan aroma rempah yang sangat khas.

Makanan ini banyak tersedia di toko oleh-oleh kawasan Ciawigebang maupun pusat kota Kuningan, dengan harga berkisar Rp20.000 hingga Rp40.000 per kotak.

5. Ketempling

Bagi pencinta camilan renyah, ketempling adalah oleh-oleh yang wajib diborong. Makanan ini merupakan keripik berbahan dasar singkong yang memiliki tekstur ringan. Di daerah lain, camilan ini mungkin dikenal sebagai keripik gemblong, namun versi Kuningan memiliki ukuran lebih kecil dengan bagian tengah yang sedikit menggelembung.

Proses pembuatannya dimulai dari singkong yang direbus dan ditumbuk halus, lalu dicampur bumbu bawang putih dan garam. Adonan kemudian dibentuk bulat pipih dan dijemur hingga kering sebelum digoreng hingga mengembang.

Selain varian rasa orisinal, tersedia juga ketempling dengan isian oncom yang menawarkan cita rasa gurih khas Sunda yang kuat. Ketempling banyak diproduksi oleh industri rumahan di Kecamatan Jalaksana dan dijual di berbagai pusat oleh-oleh dengan harga sekitar Rp25.000 per kemasan.

6. Rujak Kangkung

Sebagai pamungkas, ada rujak kangkung yang menyegarkan. Makanan sederhana ini berasal dari wilayah Kecamatan Cibingbin. Hidangan ini menggunakan kangkung segar yang direbus singkat agar teksturnya tetap renyah saat digigit.

Kangkung tersebut kemudian disiram dengan sambal terasi yang diulek kasar. Sambal ini diracik dari cabai rawit, terasi udang, asam jawa, dan sedikit gula merah, menciptakan harmoni rasa pedas, asam, dan gurih yang meledak di mulut.

Rujak kangkung sering disajikan bersama kerupuk misdar yang menambah kenikmatan di setiap suapannya. Kuliner ini dapat Anda temukan di kawasan Cibingbin maupun warung makan di sekitar objek wisata Waduk Darma, dengan harga yang sangat ramah di kantong, yakni Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads