Kepulangan Siono dari ibadah umrah tak berjalan seperti yang dibayangkan. Pesawat yang ditumpanginya dari Madinah sedianya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang. Namun, karena gangguan abu vulkanik akibat letusan gunung anak krakatau, pesawat justru dialihkan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka.
Siono mengaku, tak mengetahui sebelumnya jika pesawat yang ditumpanginya bakal dialihkan. Informasi itu baru diterimanya ketika masih berada di dalam pesawat.
"Tahu-tahu ada informasi dari pesawat, dialihkan ke Majalengka gitu," kata Siono saat diwawancarai detikJabar di BIJB Kertajati, Minggu (6/9/2026).
Siono mengatakan, pengalihan penerbangan itu cukup mendadak bagi para jemaah. Bahkan, dia sempat tak mengetahui alasan pesawat yang ditumpanginya harus mendarat di BIJB Kertajati.
"Nggak tahu ada kendalanya, kita nggak tahu sih," ujarnya.
Jemaah lainnya, Ahmad Yani, juga menceritakan pengalaman serupa. Dia mengatakan, informasi mengenai gangguan penerbangan disampaikan ketika pesawat sudah menempuh sekitar separuh perjalanan.
Menurut Ahmad, saat itu jemaah mendapat informasi bahwa jalur penerbangan menuju Soekarno-Hatta terganggu akibat abu vulkanik. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap perjalanan menuju Lampung.
"Sebelum mendarat, setengah perjalanan itu memang diinfokan bahwa jalur laut di Pelabuhan Bakauheni, jalur pesawat juga ditutup karena Gunung Anak Krakatau itu sudah mulai meletus. Jadi banyak debu-debu yang berterbangan," kata Ahmad.
Karena kondisi tersebut, pesawat yang ditumpanginya tak bisa mendarat di Soekarno-Hatta dan akhirnya dialihkan ke BIJB Kertajati.
"Jadi nggak bisa mendarat di Soekarno-Hatta, makanya kita digeser ke Majalengka sini, Kertajati sini," ujarnya.
Ahmad dan sejumlah jemaah lainnya merupakan warga Lampung. Setelah tiba di BIJB Kertajati, persoalan baru muncul. Mereka belum mengetahui bagaimana cara melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman. Pasalnya, perjalanan menuju Lampung juga terdampak karena jalur air maupun udara ikut terganggu.
"Ke Lampung-nya kita juga belum tahu, apakah mau dikasih naik bus, apa kita ditunda dulu di sini. Karena enggak bisa ini, ditutup semua ini yang arah ke Lampung ini. Jalur laut ditutup, jalur pesawat terbang juga ditutup karena Gunung Anak Krakatau ini," ujarnya.
"Teknis (pulang) nya seperti apa juga kita lagi nunggu bus. Katanya sih diinfokan kita mau ke Soekarno-Hatta naik bus. Bus dari Garuda ini. Makanya kita lagi tunggu di terminal Majalengka ini," sambungnya.
Di tengah ketidakpastian itu, Ahmad mengaku terus berkomunikasi dengan keluarganya di Lampung. Keluarganya pun ikut cemas mendengar kondisi abu vulkanik yang berdampak ke wilayah mereka.
"Sudah (komunikasi dengan keluarga), kita sudah telepon di Bandar Lampung. Di Lampung juga masih sekarang panik," ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, abu vulkanik disebut mulai masuk ke permukiman kampung halamannya.
"Daerah sekitar-sekitaran Gedong Tataan, abu itu sudah mulai masuk ke rumah-rumah itu," tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Ahmad dan keluarganya sama-sama khawatir. Apalagi, paparan abu vulkanik dikhawatirkan berdampak terhadap anak-anak di rumah.
"Keluarga juga cemas. Masalahnya debu itu kan anak-anak kecil bisa batuk, sakit. Kan di Lampung cemas, di sini juga cemas kita," katanya.
Meski begitu, Ahmad memilih tetap tenang sembari menunggu kepastian perjalanan selanjutnya. Dia berharap seluruh jemaah dapat kembali ke rumah dengan selamat.
"Tapi kita berdoa aja lah ya, mudah-mudahan keselamatan dari Yang Maha Kuasa," pungkasnya.
(yum/yum)