Dulu Primadona, Wisata Batu Luhur Kini Jadi 'Rumah' Monyet Liar

Dulu Primadona, Wisata Batu Luhur Kini Jadi 'Rumah' Monyet Liar

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Minggu, 06 Sep 2026 07:00 WIB
Kondisi objek wisata Batu Luhur Kuningan yang rusak dan terbengkalai
Kondisi objek wisata Batu Luhur Kuningan yang rusak dan terbengkalai. (Foto: Fahmi Labibinajib)
Kuningan -

Salah satu tempat wisata terbengkalai di Kabupaten Kuningan adalah Objek Wisata Pujangga Manik Batu Luhur, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Pantauan detikJabar di lokasi, terlihat pintu objek wisata yang sudah tidak ada lagi penjaga untuk melayani pembelian tiket masuk.

Masuk lagi ke dalam, terlihat sebuah gazebo dua lantai yang kondisinya sudah lapuk dan berlubang. Di sekitarnya, banyak sampah daun berserakan di setiap sudut gazebo. Di samping gazebo terlihat sebuah musala kecil yang di langit-langitnya terdapat beberapa sarang tawon. Meski toiletnya masih berfungsi, namun untuk keran tempat wudu sudah tidak mengalirkan air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari musala, bergeser menuju area utama objek wisata, yakni dua kolam renang yang kondisinya cukup memprihatinkan. Meski memiliki panorama perbukitan dan bebatuan, kondisi air kolam tersebut sudah mulai surut dengan warna air yang hijau keruh. Di sekitar kolam renang terlihat banyak tumpukan sampah dedaunan dan ranting pohon.

Beberapa bangunan yang ada di sekitar kolam juga terlihat rusak dan terbengkalai. Meski hampir semua bangunan terlihat rusak, namun di bagian depan samping objek wisata masih terdapat sebuah warung sederhana yang masih melayani pembeli yang berasal dari warga sekitar.

ADVERTISEMENT

Salah satu warga sekitar objek wisata Batu Luhur, Dedi, menjelaskan bahwa kondisi rusak dan terbengkalainya objek wisata Batu Luhur sudah berlangsung cukup lama. Padahal dulu, lanjut Dedi, objek wisata Batu Luhur merupakan salah satu objek wisata primadona yang ada di Pasawahan.

Kala itu, hampir setiap hari, wisata Batu Luhur selalu ramai dikunjungi orang untuk berenang dengan panorama perbukitan atau sekadar duduk santai sambil menikmati suasana bebatuan alam kaki Gunung Ciremai di Batu Luhur. Ia berharap, semoga ke depan, objek wisata Batu Luhur dapat kembali bangkit seperti sedia kala.

"Sudah 2 tahun, 3 tahunan lah terbengkalai. Padahal dulu ramai. Apalagi kalau mau liburan. Sayang banget lah. Harapannya ya buka lagi yang bagus, terus ya anggotanya bersatu biar ramai," tutur Dedi, Kamis (3/9/2026).

Senada dengan Dedi, warga Kuningan lain, Barnas, juga memaparkan hal serupa. Menurutnya, dulu saat ia mengunjungi Batu Luhur kondisinya sangat ramai oleh pengunjung yang ingin berwisata. Suasananya yang sejuk karena lokasinya di kaki Gunung Ciremai serta kolam renang yang menyegarkan dengan panorama yang indah.

"Dulu mah sekitar tahun 2018 an masih ramai. Bisa makan, pada main pengunjung tuh. Dulu mah ada taman Batu juga disini tuh sampai ada penyewaan mobil offroad di sini tuh buat menuju bukit seribu bintang," tutur Barnas.

Sementara itu, mantan pengelola objek wisata Batu Luhur Itok, memaparkan bahwa kondisi terbengkalai objek wisata Batu Luhur sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan sepinya objek wisata Batu Luhur seperti pandemi COVID-19 dan banyaknya tempat wisata baru yang ada di kaki Gunung Ciremai.

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan objek wisata Batu Luhur terbengkalai adalah karena banyaknya kawanan monyet liar yang masuk ke dalam area wisata untuk mencari makan. Padahal, sebelum adanya kawanan monyet tersebut, objek wisata yang berdiri pada tahun 2016 tersebut selalu ramai pengunjung bahkan bisa menyerap puluhan tenaga kerja yang berasal dari warga sekitar.

"Penyebabnya banyak karena COVID-19 juga kan sepi. Terus banyak tempat wisata baru yang muncul juga. Sama kalau pas musim kemarau itu, kawanan monyet pada ke sini. karena buah-buahan di hutannya nggak ada, kekeringan juga. Dulu ramai, pekerjanya saja ada 40 orang," tutur Itok.

Di tengah kondisi tersebut, ia tetap menyimpan harapan agar kawasan wisata Batu Luhur bisa bangkit kembali. Menurutnya, potensi alam yang indah dan infrastruktur yang sudah ada tidak akan cukup tanpa adanya sentuhan inovasi dan kerja sama pengelolaan.

"Saya sih harapannya pengen maju. Cuma kita kan kalau ditanggung sendiri sama kelompok sendiri tetap nggak bisa. Di samping pengen maju itu harus ada modal. Seminimalnya ada yang kerja sama untuk memajukannya, harus ada inovasi," pungkas Itok.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads