Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nyata setiap musim kemarau tiba, namun semangat warga di sekitar kawasan Gunung Ciremai tidak pernah surut. Melalui Komunitas Masyarakat Peduli Api (MPA) dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Silihwangi Majakuning, warga secara swadaya bahu-membahu melindungi hutan dari bahaya api.
Ketua Komunitas Masyarakat Peduli Api (MPA) Silihwangi Majakuning, Nandar, memaparkan bahwa pembentukan kelompok ini bermula dari keresahan para petani melihat maraknya kebakaran yang terjadi di Gunung Ciremai pada musim kemarau. Menurutnya, kebakaran tersebut menyebabkan banyak kerugian bagi para petani yang menggantungkan hidup di kaki Gunung Ciremai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulai dibentuk pada tahun 2021. Mungkin dari segi ekologis air mungkin agak berkurang kalau vegetasi berkurang kan. Terus satwa-satwa yang hidup di sana mereka ada yang mati, ada yang terganggu kesenangannya. ungkin ya dampaknya seperti itu yang secara langsung dirasakan," tutur Nandar saat ditemui dalam acara Simulasi Pemadaman Karhutla bagi Masyarakat Peduli Api (MPA), Rabu (2/9/2026).
Komunitas MPA ini bergerak mandiri dalam mengawasi dan memantau hutan atau lahan di Gunung Ciremai sembari melakukan aktivitas bertani. Menurut Nandar, kebakaran di Gunung Ciremai terkadang sulit untuk diketahui secara cepat. Oleh karena itu, dibutuhkan peran para petani yang setiap hari berada di lokasi. Meski hanya bermodalkan alat sederhana, langkah ini dinilai efektif untuk mencegah dan menangani api sejak dini.
"Kita dari awal tahun 2021 kita ikut memadamkan api, ibaratnya ala kadarnya ya. Kita terus mengikuti dan apa yang kita butuhkan akhirnya ya kita secara swadaya mencoba merakit alat supaya bisa efektif dalam pengantisipasian kebakaran," tutur Nandar.
Berbeda dengan memadamkan api di permukiman, memadamkan api di Gunung Ciremai memiliki tantangan tersendiri. Medan yang terjal, berbatu, serta vegetasi yang mudah terbakar membuat proses pemadaman menjadi sulit. Jika kondisi tersebut terjadi, biasanya para petani akan langsung membuat sekat bakar di lahan yang belum terdampak. Tujuannya untuk mencegah api semakin meluas.
"Antisipasi harus kita lakukan dengan cara sekat bakar. Ketika titik api baru sedikit, mungkin kita harus cepat antisipasi karena kalau sudah menyebar akan beda ceritanya dan akan sulit untuk memadamkan api. Ketika kita memadamkan api dengan medan-medan yang berbeda-beda, kayak di sini nih medannya berbatu dan akar-akar yang banyak. Dulu pernah saya berempat pemadaman api, hampir terperosok di api. Alhamdulillah waktu itu saya bisa tarik juga," tutur Nandar.
Sementara itu, untuk mengatasi keterbatasan akses kendaraan pemadam umum, warga memodifikasi peralatan pertanian untuk membawa air agar lebih portabel dan mudah dibawa menembus kerapatan hutan yang terbakar.
"Kita punya selang pemadam kebakaran ini ada 90 meter dan kita bisa lebih portable lah. Ini kita bisa bawa ke tengah hutan ketika di tengah hutan itu ada embung atau tempat penyimpanan air. Kita bisa lebih menjangkau area-area yang susah dijangkau oleh mobil kayak double cabin. Di tahun ini saja itu, ada 4 kali kebakaran yang ditangani," tutur Nandar.
Kini, setelah lebih dari lima tahun berdiri, kekuatan MPA Gunung Ciremai telah memiliki ribuan anggota yang tersebar di puluhan desa. Untuk memudahkan koordinasi, di setiap desa dibentuk kepala unit Masyarakat Peduli Api sendiri. Selain memadamkan api, MPA juga aktif melakukan sosialisasi dan penanaman pohon untuk menjaga ekosistem hutan.
"Total anggota KTH ada 1.076 orang, mereka otomatis harus jadi MPA. Itu ada di sekeliling Ciremai, ada 28 KTH. Hampir sudah mengcover seluruh wilayah seperti Padabeunghar, Pasawahan, Cibuntu, Karangsari dan Segarahiyang. Nggak kebakaran aja, kita di sini banyak hal-hal juga. Mereka yang punya kebiasaan untuk berburu, ilegal logging, kita bisa alihkan ke kegiatan pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (HBBK)yang lebih lestari dan akhirnya mereka mau menjaga hutannya," tutur Nandar.
Menurutnya, aksi menjaga hutan yang dilakukan warga bukan semata-mata menjalankan tugas formal, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya fungsi hutan bagi kehidupan. Ia berharap melalui kehadiran MPA di kaki Gunung Ciremai, bencana kebakaran dapat terus ditekan.
"Karena Dari nurani mereka merasa bahwa itu hutan mengasihi manfaat-baik airnya, baik HHBK-nya baik oksigennya. Mereka tidak harus disuruh, harus diupah atau apa, mereka secara sukarela bahwa itu hutan kita. Harapannya ya mungkin jangan ada lagi kebakaran di Ciremai ini," tutur Nandar.
Sementara itu, salah satu petani durian di Padabeunghar, Dedi, memaparkan bahwa kaki Gunung Ciremai memang rawan kebakaran saat musim kemarau. Ketika berhadapan dengan api, ia biasanya menggunakan ranting kering dan membuat sekat darurat agar api tidak membesar.
"Sering, sering saya menangani kebakaran. Menanganinya dulu mah paling gebugin pakai ranting karena kan tidak ada air. Seadanya saja, tapi yang efektif agar tidak menyebar. Karena kalau kebakaran menyebar, merugikan kita juga sebagai petani bisa ke lahan warga. Soalnya pernah lahan kebakaran, itu bisa gagal panen," pungkas Dedi.
(orb/orb)
