Nyawa Kedua Limbah Industri di Tangan Perajin Jamblang

Devteo Mahardika - detikJabar
Jumat, 04 Sep 2026 09:00 WIB
Proses pembuatan mainan tradisional di Blok Tegalan Cirebon (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Tumpukan limbah industri yang bagi sebagian orang mungkin dianggap tidak lagi berguna, justru menjadi bahan berharga di tangan Suhendra. Dari potongan busa, kain, benang dan berbagai material sisa industri yang masih layak serta aman, ia mampu menciptakan beragam mainan tradisional yang memiliki nilai ekonomi.

Di Blok Tegalan, Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, aktivitas membuat mainan tradisional masih terus berlangsung. Di tempat inilah Suhendra bersama sejumlah warga sekitar mempertahankan keterampilan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Bagi Suhendra, membuat mainan tradisional bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Ada tradisi dan keterampilan yang ingin terus dipertahankan agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman.

"Di sini memang sudah turun-temurun membuat mainan tradisional. Bahan-bahannya banyak memanfaatkan limbah industri," ujarnya, Kamis (3/9/2026).

Di tangannya, limbah yang semula tidak bernilai kemudian melewati berbagai proses hingga berubah menjadi mainan dengan bentuk dan warna yang menarik.

Ada mainan berbentuk ayam, barongsai hingga naga yang dibuat secara manual. Tidak ada mesin produksi modern yang digunakan untuk mempercepat proses pengerjaan. Hampir seluruh tahapan dikerjakan menggunakan keterampilan tangan.

Setiap hari, Suhendra dibantu lima orang karyawan yang merupakan warga sekitar. Mereka bekerja bersama mulai dari menyiapkan bahan hingga merakit setiap bagian mainan.

Proses pembuatannya pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Potongan busa harus disesuaikan dengan bentuk yang diinginkan, kemudian dipadukan dengan kain dan benang. Setelah itu, bagian-bagian tersebut dirakit menggunakan lem sebelum masuk ke tahapan berikutnya.

Ketelitian menjadi kunci. Sedikit saja salah dalam memotong atau merakit bahan, bentuk mainan bisa berubah dan hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

"Semua masih dibuat secara konvensional. Jadi memang membutuhkan ketelitian dan kecepatan," katanya.

Untuk menghasilkan sekitar tiga kodi mainan, Suhendra bersama para pekerjanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Dalam proses tersebut, mereka harus melewati sejumlah tahapan, mulai dari pemotongan bahan, penjahitan, perakitan hingga pewarnaan.

Jika dilihat dari bahan awalnya, mainan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun setelah melalui tangan para perajin, potongan-potongan limbah itu berubah menjadi mainan tradisional yang memiliki karakter tersendiri.

Proses pembuatan mainan tradisional di Blok Tegalan Cirebon Foto: Devteo Mahardika/detikJabar

Warna-warni yang menghiasi setiap mainan membuat bentuk ayam, barongsai maupun naga terlihat lebih hidup. Kesederhanaan bahan justru menjadi kekuatan tersendiri karena menghasilkan produk yang unik dan berbeda dari mainan modern.

Menariknya, pasar mainan tradisional buatan Suhendra tidak hanya berada di sekitar Cirebon. Produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Pesanan datang dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jabodetabek hingga Sumatera dan Kalimantan.

Dengan harga sekitar Rp10.000 per buah, mainan tersebut masih memiliki peminat. Nilai yang terjangkau membuat mainan tradisional ini tetap bisa menjadi pilihan masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin mengenalkan permainan sederhana kepada anak-anak.

Namun, tantangan terbesar bagi para perajin adalah mempertahankan keberadaan mainan tradisional di tengah semakin banyaknya mainan modern yang diproduksi secara massal.

Perkembangan teknologi membuat anak-anak kini memiliki begitu banyak pilihan permainan. Mainan dengan berbagai bentuk, suara dan fitur digital semakin mudah ditemukan. Kondisi tersebut membuat keberadaan mainan tradisional harus terus beradaptasi agar tidak ditinggalkan.

Suhendra menyadari hal tersebut. Karena itu, ia terus berupaya menciptakan bentuk-bentuk mainan yang menarik tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya.

Menurutnya, mempertahankan mainan tradisional bukan berarti harus menolak perkembangan zaman. Justru kreativitas diperlukan agar mainan tradisional tetap memiliki tempat di tengah perubahan selera masyarakat.

Ia berharap keterampilan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi di Blok Tegalan dapat terus bertahan. Tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi dirinya dan pekerja, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kerajinan masyarakat Desa Jamblang.

"Harapannya mainan tradisional ini tetap bertahan dan tidak kalah dengan mainan modern. Kami akan terus mencoba membuatnya menarik, tetapi nilai tradisionalnya tetap dipertahankan," tuturnya.

Di tengah derasnya arus industri mainan modern, Suhendra dan para perajin di Blok Tegalan membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap limbah masih bisa memiliki kehidupan kedua.

Dari tangan-tangan terampil mereka, barang sisa berubah menjadi mainan, mainan berubah menjadi rupiah, dan tradisi yang nyaris terlupakan kembali menemukan ruang untuk terus hidup.



Simak Video "Menggugah Selera dengan Kuliner Istimewa di Bogor"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork