Siang itu, suasana di Blok Pagar Gunung, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, tampak hidup dengan aktivitas warganya. Di halaman-halaman rumah sederhana, para perajin duduk berkelompok, tangan mereka cekatan menganyam bilah-bilah bambu menjadi bakul berbagai ukuran. Bunyi gesekan bambu dan obrolan ringan warga menjadi irama khas yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Pemandangan tersebut bukan hal baru. Di blok ini, hampir seluruh warga menggantungkan hidup dari kerajinan anyaman bambu. Tradisi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan yang diturunkan lintas generasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu perajin, Atika (43), tampak lihai menyisipkan potongan bambu tipis dengan gerakan yang nyaris tanpa jeda. Dari tangannya, anyaman sederhana berubah menjadi bakul kokoh yang siap digunakan. Ia bercerita, keterampilan ini sudah ia pelajari sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.
"Dari kecil sudah diajarkan orang tua. Mulai dari meraut bambu sampai menganyam," ujarnya saat ditemui Sabtu (25/4/2026).
Bambu yang digunakan biasanya berasal dari sekitar desa, dengan jenis bambu tali dan bambu surat sebagai bahan utama. Keahlian yang diwariskan orang tua itu terus ia tekuni hingga sekarang, menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.
Dalam sehari, Atika mampu membuat empat bakul setengah jadi. Namun, untuk proses finishing, ia bisa menyelesaikan hingga 20 bakul, tergantung tingkat kesulitan. Hasil anyaman tersebut dijual ke pasar tradisional, meski kini sudah ada pengepul yang datang langsung ke kampung, sehingga memudahkan pemasaran.
Harga bakul relatif terjangkau, berkisar antara Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per buah. Meski demikian, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Atika mengaku sempat mengalami masa sulit ketika permintaan menurun. Baru pada tahun ini, kondisi penjualan mulai kembali stabil.
Hal senada disampaikan Kepala Dusun Desa Cipanas, Rizal. Ia menyebutkan, ada ratusan kepala keluarga di wilayahnya yang bergantung pada kerajinan anyaman bambu.
"Kerajinan ini sudah ada sejak setelah masa kemerdekaan. Dulu, karena banyaknya bambu di wilayah ini, masyarakat mulai mengolahnya menjadi bakul," jelasnya.
Menurut Rizal, hingga kini para perajin tetap mempertahankan penggunaan bahan bambu sebagai ciri khas produk mereka. Bakul-bakul hasil anyaman warga telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Barat.
Ia berharap, potensi besar yang dimiliki Blok Pagar Gunung dapat mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah.
"Kami berharap bisa dijadikan sentra atau destinasi kerajinan anyaman bambu. Dengan begitu, ekonomi masyarakat bisa meningkat dan pemasaran semakin luas," harapnya.
Di tengah gempuran produk modern berbahan plastik, anyaman bambu dari Pagar Gunung tetap bertahan. Bukan hanya sebagai alat rumah tangga, tetapi juga sebagai simbol ketekunan, kearifan lokal, dan harapan warga yang terus terjalin di setiap helai bambu.
(sud/sud)
