Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, masyarakat Desa Jungjang Wetan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, masih menjaga satu warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bukan sekadar benda tua yang disimpan dalam ruang penyimpanan; keris, gong, kemung, kayu, tampah, hingga berbagai peninggalan lainnya menjadi saksi bisu perjalanan panjang desa. Satu per satu benda pusaka itu kemudian dikeluarkan untuk menjalani ritual yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat setempat.
Air membersihkan permukaan benda-benda peninggalan leluhur. Namun bagi masyarakat Jungjang Wetan, makna jamasan jauh melampaui sekadar membersihkan debu atau merawat benda bersejarah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada pesan tentang manusia yang harus sesekali berhenti, menengok perjalanan hidupnya, lalu membersihkan apa yang perlu diperbaiki. Tradisi jamasan pusaka kembali digelar masyarakat Desa Jungjang Wetan sebagai bagian dari ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun. Prosesi tersebut dipusatkan di tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Mbah Buyut Sangkan, tokoh yang dipercaya masyarakat sebagai pendiri Desa Jungjang Wetan.
Sejumlah pusaka peninggalan leluhur dibersihkan dan dirawat dalam prosesi tersebut. Bagi warga, benda-benda itu bukan sekadar peninggalan masa lampau yang memiliki nilai historis, melainkan bagian dari identitas dan perjalanan panjang kehidupan masyarakat desa.
Kepala Desa Jungjang Wetan, Jahuri, mengatakan tradisi jamasan memiliki filosofi yang mendalam. Ritual tersebut tidak hanya bertujuan menjaga kondisi fisik benda pusaka agar tetap terawat, tetapi juga menjadi momentum introspeksi bagi masyarakat.
Menurutnya, sebuah pusaka, khususnya keris, tidak lahir melalui proses yang sederhana. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran, ketekunan, doa, hingga semangat pantang menyerah dalam proses pembuatannya.
Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari filosofi jamasan. "Pembuatan keris tidak mudah. Dibutuhkan doa, spirit yang kuat, kesabaran, ketelitian dan sikap pantang menyerah. Nilai-nilai itulah yang kemudian diilhami oleh orang yang memandikan atau mencucikan benda pusaka," ujar Jahuri, Senin (31/8/2026).
Di balik ritual mencuci pusaka, tersimpan sebuah ajakan untuk melihat kembali diri sendiri. Seperti benda pusaka yang dirawat agar tidak rusak dimakan usia, manusia pun perlu merawat kehidupan dan memperbaiki apa yang dianggap kurang.
Jamasan kemudian dimaknai sebagai simbol penyucian diri, baik secara lahir maupun batin. "Jamasan ini bukan hanya soal membersihkan pusaka, tetapi juga bagaimana kita membersihkan dan memperbaiki diri," katanya.
Bagi Jahuri, nilai kehidupan yang tersimpan dalam tradisi tersebut masih relevan hingga saat ini. Kesabaran, ketekunan, ketelitian, dan semangat pantang menyerah menjadi pesan yang diwariskan leluhur dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi semacam ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan manusia dengan akar sejarahnya.
Keberadaan benda-benda pusaka peninggalan Mbah Buyut Sangkan, lanjut Jahuri, juga menjadi bagian penting dari identitas Desa Jungjang Wetan. Merawatnya berarti menjaga ingatan kolektif tentang perjalanan desa, termasuk mengenang jasa para leluhur yang dipercaya telah membangun dan meletakkan dasar kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.
Karena itu, tradisi jamasan terus dipertahankan dari generasi ke generasi. Ritual tersebut tidak hanya menjadi agenda adat tahunan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat. Warga berkumpul, mengenang cerita masa lalu, sekaligus meneguhkan kembali kepedulian terhadap warisan budaya yang mereka miliki.
Pelestarian tradisi, menurut Jahuri, bukan berarti menolak perubahan zaman. Justru, masyarakat harus mampu berjalan mengikuti perkembangan tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Tradisi dan modernitas, kata dia, tidak harus saling meniadakan. Kemajuan dapat terus dikejar, teknologi dapat terus berkembang, tetapi sejarah dan budaya tetap harus memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.
Prosesi jamasan di tempat penyimpanan pusaka Mbah Buyut Sangkan pun menjadi lebih dari sekadar ritual membersihkan benda-benda peninggalan leluhur.
Di sana, masyarakat Jungjang Wetan seolah diajak kembali menelusuri jejak masa lalu. Mengingat siapa yang pernah membangun desa, memahami nilai-nilai yang diwariskan, dan mengambil pelajaran untuk menjalani kehidupan hari ini.
Sebab pada akhirnya, air yang membasuh pusaka bukan hanya dimaknai sebagai upaya menjaga peninggalan masa silam. "Jamasan menjadi pengingat bahwa manusia pun perlu membersihkan dirinya dari waktu ke waktu untuk menjaga hati, memperbaiki perilaku, dan tidak melupakan akar sejarah tempat ia berpijak," ungkapnya.
Kisah tentang Mbah Buyut Sangkan menjadi perjalanan Desa Jungjang Wetan, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur akan terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa harus hilang ditelan zaman.
(iqk/iqk)
