Di sebuah rumah yang nyaris tak lagi menyerupai tempat tinggal, seorang lelaki menjalani sebagian besar hidupnya dalam keterasingan. Dinding yang runtuh, kaca jendela yang pecah, dan lantai yang telah berubah menjadi tanah menjadi saksi panjang perjalanan hidup Abdul Qadir, warga Blok Cilengkong, Desa Sukalila, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.
Rumah itu dahulu berdiri seperti rumah-rumah lainnya. Namun, perlahan berubah setelah Abdul kerap mengamuk dan merusak apa saja yang ada di sekitarnya. Kaca jendela pecah, tembok hancur, dan bagian-bagian rumah rusak akibat ulahnya.
Di tempat itulah, Abdul, yang oleh keluarganya disebut mengalami depresi setelah kecelakaan sepeda motor, menjalani hidupnya selama bertahun-tahun. Kurang lebih dua dekade.
Selama itu pula, Abdul pernah dipasung. Kakinya diikat agar tidak pergi atau membahayakan orang lain. Tangannya juga dirantai. Kini, kaki Abdul sudah tidak lagi dipasung, tetapi rantai masih melingkar di tangannya.
Bagi keluarga, keputusan memasung Abdul bukan perkara mudah. Namun, perilakunya yang agresif membuat mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Abdul disebut kerap melempar kaca rumah, bahkan melempar kaca mobil yang sedang melintas.
Kondisinya bermula setelah sebuah kecelakaan. Abdul terjatuh saat mengendarai sepeda motor. Kepalanya membentur aspal.
Sejak peristiwa itu, menurut keluarganya, kondisi mental Abdul berubah. Ia kemudian dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Keluarga juga sempat mencari pengobatan secara nonmedis. Namun, berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil seperti yang diharapkan.
Di tengah keterbatasan keluarga, ada seseorang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan Abdul: Dewi (41), kakak kandungnya.
Orang tua mereka telah tiada. Tidak ada lagi ayah dan ibu yang bisa menjadi tempat bergantung. Bagi Dewi, keadaan itu justru membuat tanggung jawab terhadap adiknya terasa semakin besar.
"Kalau bukan kita sebagai kakaknya, siapa lagi yang mengurus?" kata Dewi saat ditemui detikJabar, Kamis (27/8/2026).
Setiap hari, Dewi datang membawa kebutuhan Abdul. Makanan, minuman, hingga rokok. Ia juga memandikan adiknya ketika Abdul bersedia mandi. Bahkan dalam hal-hal yang mungkin dianggap sederhana oleh orang lain, Dewi tetap hadir.
Abdul tidak selalu mau mengenakan pakaian setelah mandi. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin sulit dipahami. Namun Dewi memilih tidak memaksanya. Ia memahami bahwa menghadapi Abdul membutuhkan kesabaran yang panjang.
Puluhan tahun merawat anggota keluarga dengan kondisi seperti itu tentu bukan perkara ringan. Ada lelah, ada kekhawatiran, dan mungkin ada saat-saat ketika harapan terasa begitu tipis. Tetapi Dewi memilih bertahan.
Ketika ditanya apa yang membuatnya sanggup merawat Abdul selama bertahun-tahun, jawabannya justru sederhana.
"Peduli. Saya merasa kasihan sama dia," jawabnya.
Tidak ada rumus khusus. Tidak ada rahasia besar. Hanya kepedulian seorang kakak terhadap adiknya.
Bagi Dewi, kondisi Abdul tidak menghapus hubungan darah di antara mereka. Seberat apa pun keadaan yang harus dihadapi, Abdul tetaplah adiknya.
Karena itu, harapan Dewi pun sebenarnya sederhana, ia ingin Abdul sembuh. Ia ingin ada seseorang yang bisa mengobati dan membantu memulihkan kondisi adiknya.
Harapan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi keluarga yang telah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama persoalan kesehatan mental, harapan itu menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Kisah Abdul bukan sekadar tentang sebuah rumah yang runtuh atau seorang lelaki yang dirantai. Di baliknya ada cerita tentang keluarga yang bertahan dalam keterbatasan, tentang seorang kakak yang memilih untuk tidak menyerah, dan tentang manusia yang tetap membutuhkan perhatian meski sebagian hidupnya telah terasing dari dunia luar.
Dua puluh tahun adalah waktu yang panjang. Selama waktu itu, Abdul mungkin kehilangan banyak hal: kebebasan, kesempatan berinteraksi dengan lingkungan, dan kehidupan yang barangkali bisa dijalaninya seperti orang lain.
Namun satu hal tampaknya belum hilang. Kepedulian keluarganya. Di tengah rumah yang semakin rapuh, Dewi tetap datang membawa makanan, membawa minuman, merawat dan menjaga Abdul.
Sebab bagi Dewi, ketika orang tua telah tiada dan tidak ada lagi yang mengurus, keluarga adalah tempat terakhir untuk berharap.
Dan selama masih ada harapan untuk sembuh, ia memilih untuk tetap bertahan. "Saya ingin adik saya sembuh. Mungkin susah tapi saya yakin," pungkasnya.
(sud/sud)