Menembus Terik Indramayu, Salim Kayuh Asa Lewat Rongsokan

Menembus Terik Indramayu, Salim Kayuh Asa Lewat Rongsokan

Burhannudin - detikJabar
Minggu, 23 Agu 2026 20:00 WIB
Salim sedang mendorong gerobaknya.
Salim sedang mendorong gerobaknya. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Terik matahari siang itu tak menyurutkan langkah Salim. Tubuh mungilnya masih harus mengayuh gerobak berisi barang rongsokan menyusuri Jalan Sastra Atmaja, Indramayu. Di tengah perjalanan, pria 51 tahun asal Cirebon itu menghentikan gerobaknya sejenak untuk melepas lelah.

Salim memilih berteduh di bawah pohon mangga yang rindang, tepat di seberang jalan dan berada di samping kantor Diskominfo Kabupaten Indramayu. Keringat membasahi pakaian lusuh yang dikenakannya. Topi tua yang telah menemani bertahun-tahun masih terpasang di kepalanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di bawah teduh pepohonan itu, Salim berkisah tentang kesehariannya sebagai pencari barang rongsokan. Pekerjaan tersebut dilakoninya demi memenuhi kebutuhan istri dan dua anaknya. Hampir setiap hari, ia menghabiskan waktu di jalan dengan gerobak dorong yang menjadi tumpuan penghasilannya.

Rutinitas itu dimulai sejak pagi. Dari rumahnya di Desa Terusan, Kecamatan Sindang, Salim berangkat sekitar pukul 07.00 WIB. Ia kemudian menyusuri permukiman warga, keluar-masuk sejumlah desa di Kecamatan Indramayu hingga menjelang sore sebelum kembali ke rumah.

ADVERTISEMENT

"Pagi sekitar jam 7 udah harus berangkat berkeliling kampung mendatangi rumah-rumah warga menanyakan apakah memiliki barang rongsokan untuk dijual," ujar Salim kepada detikJabar, Selasa (18/8/2026).

Tak selalu mengandalkan keberuntungan di jalan, Salim juga memiliki sejumlah warga yang telah membuat kesepakatan dengannya. Jika ada barang bekas yang hendak dijual, ia tinggal datang mengambilnya sesuai janji.

Barang yang dikumpulkan pun beragam, mulai dari kardus, besi tua, hingga berbagai jenis barang bekas lainnya.

"Biasanya kalau udah ada janji dengan warga tinggal mengambil barang rongsoknya jenisnya macam-macam. Ada kardus, besi tua, dan lainnya," tutur ayah dua anak tersebut.

Puluhan kilometer perjalanan yang ditempuh setiap hari belum menjamin gerobaknya terisi penuh. Banyaknya rongsokan yang berhasil dikumpulkan sangat bergantung pada kondisi di lapangan. Begitu pula dengan pendapatan yang diperoleh setelah seluruh barang dijual kepada pengepul.

Pada hari-hari sepi, Salim terkadang hanya membawa pulang hasil sekitar Rp20 ribu. Namun, di waktu tertentu, keberuntungan bisa berpihak kepadanya. Ia pernah mendapatkan hingga Rp300 ribu ketika barang yang dikumpulkannya memenuhi gerobak.

"Kadang sehari saat dijual pada pengepul saat sedang sepi dapat Rp20 ribu. Penghasilan tidak menentu, karena pernah mendapat Rp300 ribu sampai gerobak penuh tidak muat," ucap Salim.

Bagi Salim, setiap kayuhan gerobak bukan sekadar perjalanan mengumpulkan barang bekas. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan kehidupan yang mesti terus dijalani. Di tengah panas yang menyengat dan penghasilan yang tak menentu, ia tetap memilih melangkah mengandalkan tenaga dan ketekunan demi membawa pulang sesuatu untuk keluarganya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads