Matahari menyengat Desa Pawidean, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu tanpa ampun pada Senin (3/8/2026).
Di sebuah kios sederhana di Blok Kletak, aktivitas berlangsung seperti hari-hari lainnya. Di balik etalase kecil yang menjual pulsa dan bensin eceran, seorang pria melayani pembeli dengan cekatan.
Namanya Abdul Qodir Jaelani. Warga sekitar lebih akrab memanggilnya Qodir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria berusia 31 tahun itu lahir dengan kondisi fisik yang berbeda. Sejak kecil, ia tidak memiliki tangan yang utuh. Namun, keterbatasan tersebut tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Ia memilih bekerja, membuka usaha sendiri, dan menjalani hidup tanpa bergantung kepada orang lain.
Setiap pagi, kios kecil itu menjadi sumber penghidupannya. Pulsa dan bensin menjadi dagangan utama yang ia sediakan bagi warga sekitar. Dari usaha sederhana itulah Qodir membangun kemandiriannya, sedikit demi sedikit.
Di luar kesibukan berdagang, Qodir memiliki hobi memelihara burung. Bukan sekadar mengisi waktu luang, beberapa burung peliharaannya bahkan pernah meraih prestasi dalam berbagai perlombaan.
Hobi itu menjadi ruang bagi dirinya untuk menikmati hidup sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi seseorang untuk berkembang.
Bagi warga sekitar, Qodir bukan hanya dikenal sebagai pedagang. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan membantu sesama.
Hal itu diungkapkan oleh Lutfi Anwar, tetangga sekaligus temannya. Menurut Lutfi, Qodir sehari-hari memang lebih banyak berada di warung untuk berjualan. Namun, di balik kesibukannya mencari nafkah, ia tidak pernah enggan membantu orang lain.
"Kalau ada teman yang sedang tidak punya uang, dipinjami. Kalau ada yang kehabisan bensin, beliau bilang, 'Nggak apa-apa, pakai saja,'" tutur Lutfi saat ditemui di sekitar warung milik Qodir.
Kebaikan itu lahir bukan mengharap balasan, melainkan murni dari kepedulian. Qodir memahami bahwa setiap orang pernah mengalami kesulitan. Karena itu, selama masih mampu membantu, ia memilih melakukannya.
Di sela-sela aktivitasnya, Qodir juga menikmati waktu bersama keluarga. Sesekali ia bermain gim bersama keponakannya yang bernama Mahir. Momen sederhana itu menjadi bagian dari kesehariannya yang hangat.
Ketika ditanya bagaimana ia menerima kondisi fisiknya sejak lahir, jawaban Qodir terdengar singkat, tetapi menyimpan makna yang dalam.
"Mau bagaimana lagi. Intinya harus sabar," katanya.
Satu kata itu kembali ia ulang ketika ditanya apa kunci menjalani hidup dengan kondisi yang dimilikinya. "Sabar."
Tidak ada keluhan panjang. Tidak ada penyesalan yang diucapkan. Hanya kesabaran yang ia jadikan pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Usaha yang dijalaninya saat ini merupakan milik pribadinya. Dari kios kecil itu, Qodir memupuk harapan yang sederhana, tetapi begitu berarti.
Ia tidak bermimpi muluk-muluk. "Saya ingin punya toko sendiri supaya tidak ngontrak," kata Qodir.
Harapan itu mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi Qodir, memiliki toko sendiri bukan sekadar soal bangunan. Itu adalah simbol kemandirian, hasil dari kerja keras, dan impian yang ingin diwujudkan melalui kesabaran serta usaha yang tak pernah berhenti.
Di tengah segala keterbatasan, Qodir menunjukkan bahwa kekuatan seseorang tidak selalu diukur dari kesempurnaan fisik. Terkadang, kekuatan terbesar justru lahir dari keteguhan hati untuk terus bekerja, membantu sesama, dan menjaga harapan tetap hidup.
Di kios kecilnya di Desa Pawidean, Qodir mengajarkan satu pelajaran sederhana: hidup mungkin tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi selama kesabaran tetap menjadi pegangan, selalu ada ruang untuk terus melangkah menuju mimpi, termasuk mimpi memiliki toko sendiri.
Simak Video "Misbakhun: Puasa Menjadikan Kekuatan Untuk Berbuat Lebih Baik"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
