Kisah Pengabdian Tulus Marbut Tunanetra Kuningan Diganjar Umrah

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Selasa, 25 Agu 2026 06:30 WIB
Daskim, marbut disabilitas yang dapat hadiah umrah. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Di balik keterbatasan fisiknya, Daskim (48), seorang penyandang disabilitas netra sejak usia 3 tahun asal Desa Dukuhmaja, Kecamatan Luragung, Kuningan, menunjukkan pengabdian yang luar biasa. Sehari-hari ia mengabdikan dirinya di Masjid Miftahul Huda sebagai seorang marbut.

Daskim memaparkan bahwa sebelum menjadi seorang marbut masjid, ia merupakan seorang pedagang yang merantau di Jakarta. Usaha dagang di tanah perantauan tersebut sudah Daskim tekuni selama puluhan tahun. Namun, pada tahun 2020, saat pandemi COVID-19, Daskim memilih meninggalkan perantauan dan pulang ke kampung halaman untuk menjadi marbut masjid.

Menurutnya, panggilan untuk menjadi marbut masjid didorong oleh keinginan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.

"Panggilan ingin jadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Karena khairunnas anfa'uhum linnas. Itulah sabda Nabi kan, yang artinya manusia itu akan bermanfaat untuk yang lainnya. Akan disebut bermanfaat, manusia itu akan disebut bermanfaat apabila dia punya kemanfaatan bagi orang lain," tutur Daskim.

Daskim memaparkan sebagai seorang marbut ia tidak hanya mengurusi kebersihan dan kenyamanan masjid, namun juga bertugas sebagai pengurus jenazah, mengajar anak-anak di Madrasah Diniyah (MD), hingga sesekali berdagang. Meski pendapatannya tidak menentu dibandingkan saat bekerja di perantauan, namun semuanya Daskim jalani demi menghidupi istri dan dua anaknya yang kini menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama.

"Iya nggak ada upahnya, tapi yah Karena kita punya keinginan untuk mengabdi di kampung. Jadi ya sudah jalani saja," tutur Daskim.

Menurutnya, menjadi marbut di era digital bukan perkara mudah. Ia mengakui tantangan mengajak orang berjemaah ke masjid semakin besar. Namun, Daskim memilih tetap istiqamah. Ia yakin konsistensi akan membuahkan hasil seiring berjalannya waktu.

"Ada empat yang saya lakoni. Jualan, kemudian pengurus kematian, kemudian ngajar anak-anak di MD (madrasah diniyah), kemudian marbot.Sangat sulit memanggil orang berjamaah di masjid sekarang. Tapi kalau kita konsisten, satu dua orang akan bertambah terus," tutur Daskim.

Berkat konsistensi dan pengabdiannya sebagai marbut, Daskim mendapatkan hadiah umrah dari Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar dalam acara Puncak Pangajen Rakyat Pinunjul yang diadakan oleh Waroeng Rakyat Kuningan sebagai Marbot Pinunjul 2026.

Daskim memaparkan kesempatan berangkat umrah menjadi momen paling emosional baginya. Hal ini merupakan perwujudan mimpi almarhumah ibunya. Daskim mengenang pesan sang ibu agar ia menjadi umat Islam yang sempurna dengan mengunjungi Baitullah.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Ibu saya dulu selalu bermimpi saya bisa ke Tanah Suci. Beliau ingin saya menjadi muslim kaffah, masuk Islam tidak cuma badan tapi juga hati. Paling berkesan saat kami merasa kurang, tapi kami bermunajat selalu kepada Allah, dan alhamdulillah Allah selalu dengar doa-doa kami, dan ini mungkin salah satunya." tutur Daskim.

Sementara itu, pendiri Waroeng Rakyat, Alehandro Malik memaparkan penghargaan yang diberikan kepada Daskim merupakan bentuk apresiasi warga Kuningan yang memiliki dedikasi tinggi namun sering luput dari perhatian.

Selain Daskim, ada empat warga desa lain yang mendapatkan penghargaan karena perjuangan dan dedikasinya kepada masyarakat di tengah keterbatasan. Lewat ajang tersebut, ia berharap penghargaan tersebut menjadi pemantik agar masyarakat dan pemerintah lebih peduli terhadap segala permasalahan sosial yang ada.

"Ini bentuk apresiasi kepada rakyat biasa yang punya dedikasi tapi sering luput dari perhatian, mulai petani, pedagang, buruh, hingga marbot masjid. Semoga ini dapat menjadi pemicu agar pemerintah dan masyarakat peduli dan lebih memperhatikan lagi mereka," pungkas Malik.




(sud/sud)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork