Kisah Buruh Tani Kuningan, Anak Sarjana Meski Ayah Lulusan SD

Kisah Buruh Tani Kuningan, Anak Sarjana Meski Ayah Lulusan SD

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Rabu, 26 Agu 2026 10:00 WIB
Soleh, buruh tani di Kuningan yang sekolahkan anak hingga sarjana
Soleh, buruh tani di Kuningan yang sekolahkan anak hingga sarjana (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Di bawah langit Desa Maleber, Kabupaten Kuningan, sosok Soleh Ardi menjalani hari-harinya dengan bersahaja. Pria berusia 54 tahun ini adalah potret nyata tentang bagaimana keterbatasan pendidikan bukan penghalang bagi mimpi yang besar.

Meski hanya mengantongi ijazah sekolah dasar dan menggantungkan hidup sebagai buruh harian, Soleh berhasil membuktikan bahwa kegigihan mampu mengantarkan anak-anaknya merengkuh gelar sarjana.

Perjalanan hidup Soleh tidaklah mudah. Ia telah ditempa kerasnya kehidupan sejak belia. Saat masih remaja, ia harus kehilangan kedua orang tuanya dan menjadi yatim piatu. Kondisi itu memaksanya mengubur impian bersekolah demi menyambung hidup.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kan dari usia 15 tahun sudah tidak punya orang tua. Jadi saya mandiri sendiri. Ya ada saudara, tapi kan saudara masing-masing punya kehidupan. Saya mandiri dari bujang sampai sekarang anak empat," tutur Soleh.

ADVERTISEMENT

Selama puluhan tahun, Soleh melakoni pekerjaan apa saja asalkan halal. Menjadi penggarap sawah orang lain, kuli bangunan, hingga menjadi tenaga suruhan warga desa ia jalani tanpa mengeluh. Baginya, setiap tetes keringat adalah jalan rezeki yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Jika panggilan kerja sedang sepi, ia tak segan membantu istrinya berjualan di rumah demi dapur tetap mengepul.

"Saya kan di sawah. Sehari sampai zuhur Rp20.000 sampai Rp50.000. Kalau ada pekerjaan terkadang sampai sore Rp100.000. Pekerjaan apa saja, misalkan ada yang ngangkut bata, ya ngangkut. Di sawah ya macul-macul, nyangkul. Saya tidak begitu ngobrak-ngabrik uang sih. Hari itu ada uang, saya nikmati. Jadi tidak pernah pinjam ke sana-kemari. Cukup untuk hasil jerih payah saya sama istri, itu saya gunakan." tutur Soleh.

Prinsip hidupnya yang sederhana namun disiplin dalam mengelola keuangan membuatnya mampu menyekolahkan anak-anaknya. Komitmen yang ia bangun sejak awal pernikahan kini membuahkan hasil manis. Anak sulungnya kini telah menyandang gelar Sarjana Komputer dan berkarier di Jakarta, sementara anak keduanya tengah menempuh semester empat di jurusan Ekonomi.

"Saya kan tidak memaksa anak mau ke mana-mana. Terserah anak mau sekolah ke mana, jadi saya turutin anak. Dulu yang pertama sekolah di Cirebon, sekarang jadi Sarjana Komputer. Yang kedua di FKIP jurusan Ekonomi, masih semester 4 sekarang. Alhamdulillah," tutur Soleh.

Di sela kesibukannya berpeluh keringat, Soleh masih menyisihkan waktu untuk mengabdi pada masyarakat. Selama puluhan tahun, ia setia mengajar ngaji anak-anak di desanya tanpa mengharap imbalan materi sepeser pun. Baginya, berbagi ilmu adalah cara untuk menjemput keberkahan hidup.

"Ilmu kan harus bermanfaat, harus dikembangkan supaya dapat berkah ilmunya gitu. Kalau saya tidak mengharapkan apa-apa lah, yang penting saya bisa mengajar anak-anak. Alhamdulillah sampai se-usia saya, saya tidak pernah pakai kacamata. Ngaji anak-anak masih lancar, masih bener," tutur Soleh.

Ketulusan hati Soleh sempat membawanya masuk dalam nominasi Puncak Pangajen Rakyat Pinunjul yang digelar oleh Warung Rakyat. Meski tidak keluar sebagai pemenang utama, hal itu tak sedikit pun mengurangi rasa syukurnya. Di tahun 2026 ini, Soleh tetaplah sosok yang sama; seorang ayah yang menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan, kedamaian hati, dan keberhasilan anak-anaknya.

"Harapan saya, kalau saya masih sehat, insyaAllah saya akan bekerja semangat untuk menghidupi keluarga. Harapan saya anak-anak cepat sukses. Bapak sekolahnya SD tapi pendidikan anak harus lebih baik," pungkas Soleh.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads