Tumpukan jagung menjadi pemandangan yang mudah dijumpai di sebuah pabrik sederhana di Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Majalengka. Dari tempat inilah jagung hasil panen petani lokal diproses menjadi tepung untuk memenuhi kebutuhan industri makanan.
Suara mesin terdengar dari dalam bangunan sederhana tersebut. Jagung yang sebelumnya masih berbentuk pipilan perlahan masuk ke rangkaian mesin. Bentuknya berubah, dari jagung menjadi beras jagung, kemudian digiling hingga menjadi tepung.
Pengolahan ini menjadi babak baru bagi PT Terra Corn Jaya Abadi. Perusahaan yang sebelumnya hanya menjual jagung pipilan itu kini mulai mengolah hasil panen petani menjadi produk dengan nilai tambah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur PT Terra Corn Jaya Abadi, Deri Herdiansyah mengatakan, bahan baku produksi sepenuhnya dimulai dari jagung petani yang menjadi mitra perusahaan.
"Awal produksi kita dari petani yang bermitra bersama PT Terra Corn. Terus oleh kita dibuat jadi pipil jagung. Dari pipil jagung, kita masukkan ke mesin untuk jadi beras jagung, lalu masuk ke mesin tepung jagung agar menjadi tepung jagung yang halus," kata Deri kepada detikJabar, Selasa (18/8/2026).
Di pabrik tersebut, saat ini terdapat dua mesin utama yang digunakan untuk menghasilkan tepung. Mesin pertama bertugas memecah jagung menjadi beras jagung. Setelah itu, beras jagung diproses kembali hingga menjadi tepung.
Namun, perjalanan jagung menjadi tepung tidak serta-merta menghasilkan jumlah yang sama. Ada penyusutan dalam proses pengolahan.
"Per karung itu 50 kilogram. (Dari bahan baku) kita ada susut dari 50 kilogram sekitar 10 persen, sampai menjadi tepung," ujarnya.
Baca juga: Pelaku Perusakan Pohon di Bandung Ditemukan |
Meski skalanya masih sederhana, tepung yang dihasilkan bukan sekadar produk olahan biasa. Perusahaan telah membawa produknya untuk menjalani pengujian laboratorium. Hasilnya, tepung jagung tersebut dinyatakan memenuhi standar grade A sesuai kebutuhan perusahaan pembeli.
"Kalau disebut grade A, kita diuji lab di perusahaan Cirebon sesuai regulasi mereka. Alhamdulillah kita dapat grade A sesuai labnya," jelas Deri.
Saat ini kemampuan produksi masih terbatas. Dalam sehari, mesin yang digunakan mampu menghasilkan sekitar 1 ton tepung jagung.
Kapasitas itu ditargetkan terus meningkat seiring rencana penambahan mesin dan daya produksi. Perusahaan bahkan membidik kemampuan produksi hingga 3 ton dalam satu jam.
"Kalau saat ini, sehari kita masih pakai mesin ini cuma 1 ton. Minimal 1 ton per hari. Insyaallah itu rutin. Tapi nanti kita ada pengembangan dari mesin, kita targetkan 3 ton satu jam," tuturnya.
Adapun tepung jagung yang dihasilkan dari pabrik tersebut memiliki beragam peruntukan. Mulai dari bahan baku roti, bolu, saus hingga makanan ringan.
"Kalau kita fokusnya hanya produksi untuk tepung, masalah inovasi itu biarkan UMKM. Yang kita tahu perusahaan dan UMKM itu mengolah tempung ini untuk bahan roti, saus, keripik sama bakwan jagung, sama untuk ciki-ciki. Nah produk-produk kayak gitu kan itu bahan bakunya tepung jagung," ujarnya.
Tak hanya itu, perusahaan juga mulai melihat peluang dari sektor pakan. Namun untuk saat ini, fokus utama tetap diarahkan pada produksi tepung untuk kebutuhan industri makanan.
"Kalau yang buat pakan kami belum matok harga. Kalau buat pakan mah harganya teh fluktuatif. Karena kita juga fokusnya ke tepung dulu," jelasnya.
Deri menjelaskan, produksi tepung sendiri baru berjalan sejak awal tahun ini. Sebelumnya, selama sekitar satu setengah tahun perusahaan lebih banyak mengolah jagung hingga menjadi pipilan.
Deri melihat langkah tersebut sebagai upaya menangkap peluang dari tumbuhnya industri pengolahan makanan di Majalengka.
"Karena momennya di Majalengka banyak perusahaan yang mau menggunakan bahan baku tepung jagung," ucapnya.
Deri menjelaskan, saat ini pesanan ke pabriknya pun mulai berdatangan. Salah satu perusahaan di Cirebon telah meminta pengiriman perdana sebanyak 2 ton. Setelah pengiriman tersebut, perusahaan mendapatkan kontrak awal untuk memasok sekitar 10 ton tepung jagung setiap pekan.
Presiden Direktur PT Eka Naga Indonesia, Lukitasari mengatakan, pengiriman tersebut menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya tepung jagung hasil produksi sendiri dikirim ke perusahaan pembeli.
"Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT. Pada siang ini dari PT Terra Corn Jaya Abadi memberangkatkan untuk pertama kali itu tepung jagung dari hasil produksi sendiri, dari hasil tanam sampai kepada alhamdulillah sampai pada tepung jagung ini yang sudah grade A," kata Lukitasari.
Menurutnya, pengiriman perdana tersebut mencapai 2 ton untuk memenuhi permintaan salah satu perusahaan di Cirebon.
"Untuk sekarang tuh kita dapat permintaan 2 ton untuk hari ini. Nanti ke depannya kita sudah kontrak per minggu 10 ton. Ini kontrak awal. Ngirim untuk satu perusahaan di Cirebon," ujarnya.
Pasar tepung jagung itu pun mulai melebar. Selain Cirebon, kerja sama dengan perusahaan di Bandung dan Karawang juga tengah disiapkan.
"PT (yang kerjasama) di Cirebon dua, nanti yang di Bandung juga kita udah mau kerja sama juga. Oh iya sama yang di Karawang juga," ucapnya.
Sementara itu, di balik produksi tepung tersebut, ada petani-petani Majalengka yang menjadi bagian penting dalam rantai produksinya.
Perusahaan tidak hanya membeli jagung dari petani, tetapi juga melakukan pembinaan. Salah satunya melalui penyediaan bibit yang dinilai sesuai dengan standar bahan baku tepung.
Lukitasari mengatakan, pola kemitraan tersebut diperlukan agar pasokan jagung tetap terjaga sekaligus memastikan kualitas bahan baku.
"Iya, dibina. Karena kalau nggak dibina, kita nggak bisa dapat 100 persen kebutuhan bahan bakunya. Kalau dibina kan otomatis petani keikat. Jadi kita simbiosis juga sama petani tuh, saling membutuhkan," katanya.
Saat ini, perusahaan memiliki jaringan lahan sekitar 800 hektare. Targetnya tidak berhenti di angka tersebut. Perusahaan membidik perluasan hingga 10 ribu hektare.
Ada tiga gapoktan yang masuk dalam kemitraan binaan dengan jumlah sekitar 180 petani. Di luar itu, terdapat pula petani lain yang memasok jagung secara langsung.
Lukitasari menyampaikan, keberadaan industri pengolahan jagung diharapkan bisa menjadi ruang baru bagi petani untuk mendapatkan kepastian pasar.
"Harapannya semoga petani-petani Majalengka bisa semakin sejahtera untuk ke depannya, terus tidak lagi berkutat dengan tengkulak-tengkulak yang ada kemarin," ujarnya.
Untuk saat ini, perusahaan memang masih mengandalkan jagung dari Majalengka. Namun jika kebutuhan bahan baku meningkat dan pasokan lokal belum mencukupi, jagung dari daerah lain menjadi pilihan.
