Di sebuah sudut sunyi Kelurahan Lemahmekar, tepatnya di Blok Kandang Sapi yang terletak di belakang gedung Pengadilan Negeri Indramayu, sebuah rumah sederhana menjadi saksi bisu lahirnya ribuan larik bermakna. Di sanalah Muhammad Dewana Fahrizal, pemuda yang akrab disapa Rizal, menghabiskan waktunya untuk merajut kata demi kata.
Dari balik dinding kamar yang bersahaja, Rizal telah melahirkan ratusan puisi. Baginya, aksara bukan sekadar susunan huruf di atas kertas, melainkan sebuah ruang luas untuk menumpahkan segala rasa, merekam jejak pengalaman, hingga memotret cara pandangnya terhadap dunia yang tak selalu ramah.
Lahir pada 21 Agustus 1997, perjalanan hidup Rizal dimulai dengan perjuangan besar. Ia lahir prematur dengan berat badan hanya 1,5 kilogram. Pertumbuhan fisiknya tak secepat anak-anak lain, bahkan hingga menginjak usia enam tahun, Rizal belum mampu melangkahkan kakinya sendiri. Namun, keterbatasan fisik itu rupanya tak mampu memenjarakan imajinasinya. Dari ruang gerak yang terbatas, pikirannya justru melanglang buana ke tempat-tempat yang jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seindah mimpi, ditabur demi aksara di taman jagat sastra Melayu, lukisan indah, lukisan Spanyol," tulis Rizal dalam salah satu bait puisinya, menggambarkan betapa luas cakrawala berpikirnya.
Ketertarikan Rizal pada dunia sastra sudah muncul sejak ia masih berseragam sekolah dasar. Di saat kawan-kawannya asyik bermain saat jam istirahat, Rizal lebih memilih menyendiri, bergulat dengan pikiran yang ia tuangkan ke dalam tulisan. Kala itu, ia bahkan belum mengenal apa itu teori sastra atau istilah literasi yang kini populer.
"Waktu SD itu saya menulis puisi dulu waktu istirahat. Saya belum mengenal bagaimana literasi dan segala macam, jadi saya tuangkan segala perasaan saya," kenang Rizal saat berbincang di kediamannya belum lama ini.
Puisi-puisi itu awalnya hanya tersimpan rapi di lembaran kertas, menjadi rahasia pribadinya. Rizal mengaku lebih nyaman berkarya dalam senyap, jauh dari sorotan orang banyak.
"Di situ saya merasa bahwa karya saya itu begitu tenang. Tidak ada orang yang melihat. Saya memang inginnya seperti itu," ungkapnya.
Seiring bergulirnya waktu, hobi yang ditekuni dalam kesunyian itu berubah menjadi gairah yang mendalam. Ratusan puisi terkumpul dengan tema yang kian beragam-mulai dari refleksi diri, interaksi sosial, empati terhadap perasaan perempuan, hingga kritik politik. Puisi bagi Rizal bukan sekadar khayalan, melainkan kristalisasi dari realitas yang ia saksikan dan alami sendiri.
Meski memiliki keterbatasan mobilitas, Rizal tidak mengurung diri. Ia tetap aktif bersosialisasi, termasuk menghadiri pengajian di masjid maupun majelis ilmu. Di balik langkahnya, ada sosok Rizki, sahabat setia yang menjadi "mata dan kaki" bagi Rizal. Rizki dengan tulus selalu siap mengantar dan membantu mobilitas Rizal ke mana pun ia ingin pergi.
Bagi Rizki, membantu Rizal adalah bentuk persahabatan sejati. "Ya, ikhlas gitu nganter. Karena mobilitasnya sama saya juga kan. Udah banyak membantu," kata Rizki. Ia mengenal Rizal sebagai sosok sahabat yang selalu hadir di masa-masa sulit. "Untuk seorang teman yang bisa dikatakan selalu ada ketika saya ada masalah, dia selalu membantu," tambahnya.
Kehidupan Rizal adalah potret kesederhanaan. Sebagai anak sulung dari pasangan Anas dan Denah, ia tumbuh dalam keluarga yang jauh dari kemewahan. Ayahnya bekerja serabutan, sementara ibunya menyambung hidup sebagai pembantu rumah tangga sekaligus berdagang kecil-kecilan di rumah.
Sadar akan kondisi ekonomi keluarganya, Rizal tak mau berpangku tangan. Selepas menamatkan pendidikan di SLB Negeri Pahlawan Indramayu, ia membuka usaha kecil-kecilan berjualan pulsa dari rumah. Namun, di sela kesibukannya mencari nafkah, ia menyadari satu hal: puisi memang tidak bisa mengenyangkan perut secara langsung. Kesadaran inilah yang kemudian mendorongnya untuk membukukan karya-karyanya agar memiliki nilai lebih.
Buku pertamanya, Puisi Tak Punya Nama, menjadi tonggak awal keberhasilannya. Di dalamnya, ia merekam dinamika hubungan dan perasaan manusia dengan sangat puitis:
"Kamu dan aku bertemu dalam satu ruang baca. Kita seperti sajak yang berbicara saat nada tak lagi mampu melantunkan suara, ketika kata tak cukup mampu mengutarakan rasa. Setiap baitmu mengurai lebih banyak dari sebuah romansa."
Ada pula kegelisahan yang ia selipkan dalam bait-bait jujur:
"Tulis sajak ini ketika subuh masih perawan. Memang tidak bisa dimakan, namun kuselipkan doa dan harapan."
Kini, Rizal telah meluncurkan antologi puisi keduanya. Acara peluncuran yang digelar sederhana di rumahnya itu menjadi momen emosional bagi sang ibu, Denah. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bangganya melihat sang putra yang lahir prematur kini mampu berdiri tegak melalui karya-karyanya.
"Saya selaku orang tua, ibu dari anak saya Rizal, merasa sangat bangga sekali dengan adanya terbitnya buku Sajak Tak Bisa Dimakan ini," ucap Denah dengan nada haru. Baginya, pencapaian Rizal adalah sebuah keajaiban. "Beliau sudah bikin apa saja sampai launching buku kedua ini. Sedangkan saya sebagai orang tua sendiri belum tentu bisa seperti dia," tutur Denah.
Meski telah memiliki dua buku, Rizal tetap rendah hati. Ia enggan disebut penyair dan lebih suka menganggap dirinya sebagai pembelajar abadi. Secara mandiri, ia terus membedah karya-karya penulis besar, mempelajari diksi, hingga mendalami rima dan ritme. Tanpa pendidikan formal di bidang sastra, Rizal membuktikan bahwa ketekunan dan rasa ingin tahu adalah guru terbaik yang mampu melahirkan karya-karya yang menyentuh jiwa.
(dir/dir)
