Kisah Lukman Mengabdi di Kesunyian Tempat Peristirahatan Terakhir

Kisah Lukman Mengabdi di Kesunyian Tempat Peristirahatan Terakhir

Burhannudin - detikJabar
Minggu, 09 Agu 2026 09:00 WIB
Lukman, juru kunci TPU PK 2 Karangmalang, Indramayu.
Lukman, juru kunci TPU PK 2 Karangmalang, Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Bagi sebagian besar orang, kompleks pemakaman adalah tempat yang hanya disinggahi saat air mata tumpah dan duka menyelimuti. Begitu doa-doa terakhir selesai dipanjatkan dan pelayat melangkah pergi, kawasan itu biasanya kembali tenggelam dalam kesunyian. Namun, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) PK 2, Kelurahan Karangmalang, Indramayu, ada satu sosok yang memastikan bahwa setiap jengkal tanah peristirahatan terakhir itu tetap terjaga martabatnya.

Pria itu adalah Lukman. Di usianya yang menginjak 48 tahun, ia bukan sekadar pekerja harian, melainkan penjaga amanah lintas zaman. Menjadi juru kunci makam baginya adalah warisan darah. Estafet pengabdian ini dimulai dari kakeknya sebagai generasi pertama, lalu diteruskan oleh sang ayah, hingga akhirnya jatuh ke pundak Lukman sejak tahun 2003.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua dekade sudah ia habiskan di antara nisan-nisan yang membisu. Saat ditemui di tengah area pemakaman pada Senin (3/8/2026), Lukman mengenang kembali perjalanan panjangnya.

"Dari awal 2003 sampai sekarang kurang lebih sudah 20 tahun," ujar Lukman saat ditemui di lokasi.

ADVERTISEMENT

Penampilan Lukman cukup ikonik. Setiap pagi, ia bersiap dengan "seragam" khasnya: sebuah topi koboi untuk menghalau terik matahari, arit di tangan, serta golok yang tersampir di pinggang. Perlengkapan sederhana ini menjadi saksi bisu langkah kakinya menyusuri luasnya kompleks pemakaman. Fokus utamanya sederhana namun krusial, yakni memastikan rumput liar tidak menelan keasrian makam.

"Setiap hari yang utama mengatasi rumput supaya tidak terlalu lebat. Penanganannya pakai obat semprot dan dipangkas pakai arit," katanya.

Tugas Lukman melampaui sekadar urusan estetika rumput. Ketika kabar duka datang dari warga, ia segera mengoordinasikan timnya yang berjumlah lima orang untuk menyiapkan liang lahat hingga prosesi pemakaman usai. Terkait manajemen tim, Lukman sangat transparan mengenai pembagian hasil dari jasa yang mereka berikan.

"Untuk tim saya satu orang dapat Rp50.000. Ada lima orang," jelasnya. Sebagai juru kunci, Lukman mengantongi penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan, angka yang sudah mencakup jasa kebersihan yang ia lakukan setiap hari.

Lukman, juru kunci TPU PK 2 Karangmalang, Indramayu.Lukman, juru kunci TPU PK 2 Karangmalang, Indramayu. Foto: Burhannudin/detikJabar

Meski sudah puluhan tahun bergelut dengan tanah dan nisan, tantangan tetap saja datang, terutama saat alam tak bersahabat. Di tengah musim kemarau Agustus 2026 ini, ketersediaan air menjadi persoalan pelik yang menghambat pekerjaannya merawat area makam.

"Yang menjadi kendala sekarang masalah air, apalagi sekarang musim kemarau," tuturnya.

Di balik keteguhan Lukman di bawah terik matahari, ada dukungan hangat yang menantinya di rumah. Mastinah (39), sang istri yang telah mendampinginya selama dua dekade, adalah sosok di balik layar yang memastikan Lukman siap bertugas setiap pagi.

"Biasanya menyiapkan pakaian. Saya ibu rumah tangga. Masak, mengurus rumah," ujar Mastinah saat ditemui di kediamannya. Peran Mastinah mungkin tak terlihat oleh para peziarah, namun ia adalah fondasi yang menguatkan dedikasi suaminya.

Profesi penjaga makam memang jarang menjadi buah bibir atau mendapat sorotan kamera. Namun, berkat tangan-tangan seperti Lukman, keluarga yang datang berziarah bisa memanjatkan doa dengan tenang dan nyaman. Lukman adalah bukti nyata bahwa pengabdian tidak harus selalu berkilau di bawah lampu panggung. Ada kemuliaan yang tumbuh dalam diam, di antara jalan setapak yang tertata dan pusara yang terawat rapi, melalui tangan seorang penjaga yang setia memegang janji leluhurnya.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads