Menghidupkan Marwah Linggarjati Lewat 10.001 Bendera Merah Putih

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Kamis, 06 Agu 2026 08:00 WIB
Bendera merah putih di Linggarjati Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Angin pegunungan yang sejuk berembus pelan di kaki Gunung Ciremai, membawa kibaran ribuan helai kain merah putih yang kini membalut setiap sudut Gedung Perundingan Linggarjati. Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, situs bersejarah di Kabupaten Kuningan ini tampil beda, seolah sedang bersolek merayakan memori perjuangan bangsa.

Pemandangan mencolok sudah menyapa sejak di gerbang luar. Deretan bendera merah putih terpasang rapi di sepanjang pagar yang mengelilingi kawasan gedung. Melangkah lebih dalam ke area taman yang rimbun, ribuan bendera lainnya tertanam di antara hijaunya rerumputan, menciptakan labirin warna yang kontras dengan latar belakang megahnya Gunung Ciremai.

Suasana ini menjadi magnet bagi warga yang ingin sekadar melepas penat atau mengabadikan momen. Siang itu, Rabu (5/8/2026), beberapa pengunjung tampak berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di tengah ribuan bendera yang menari ditiup angin.

Salah satunya adalah Pelangi (17). Remaja ini duduk santai menikmati suasana setelah puas berkeliling gedung. Baginya, pemandangan ini adalah tradisi tahunan yang selalu ia nantikan setiap memasuki bulan Agustus.

"Indah banget si. Saya sering ke sini, memang setiap bulan Agustus di sini dihias. Biasanya itu dari awal Agustus sampai akhir Agustus. Totalnya katanya ada sampai ribuan," tutur Pelangi.

Bendera merah putih di Linggarjati Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Kehadiran ribuan bendera ini memang memberikan nyawa tersendiri bagi Gedung Linggarjati. Haura, pengunjung lainnya, merasakan hal serupa. Menurutnya, dekorasi masif ini membuat atmosfer kemerdekaan menjadi jauh lebih kental dan menyentuh, apalagi dipasang di lokasi yang menjadi saksi bisu diplomasi kedaulatan Indonesia.

Di balik kemeriahan visual ini, ada sosok Heni, Ketua Yayasan Jiwa Merah Putih sekaligus inisiator gerakan ini. Ia mengenang bagaimana aksi ini bermula pada tahun 2016, dipicu oleh rasa prihatin saat melihat gedung sepenting Linggarjati justru tampak sepi dari atribut kemerdekaan.

Kala itu, seorang aktivis perempuan Kuningan, Hanna Nining, tergerak untuk memulai pemasangan bendera secara mandiri. Kini, aksi tersebut telah memasuki tahun ke-11 dan bertransformasi menjadi gerakan swadaya masyarakat yang melibatkan berbagai elemen.

Bendera merah putih di Linggarjati Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

"Ini kita mengawali dari tahun 2016, berarti ini tahun ke-11. Kita berawal dari aktivis ya, lingkungan dan sosial, komunitas kita itu. Sang pelopornya itu Ibu Hana Nining. Ketika kita lagi kebetulan lewat ke sini, di sini tidak ada satupun bendera yang terpasang. Ketika sudah gebyar dan tahun-tahun ke sininya, alhamdulillah banyak respon dari anak-anak sekolah, pokoknya dari semua elemen, termasuk Pemerintah Kuningan," papar Heni.

Tahun ini, sebanyak 10.001 bendera merah putih dikibarkan. Heni menjelaskan bahwa angka satu di bagian akhir bukan sekadar pelengkap, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam tentang persatuan.

"Ada 10.001 Merah Putih. Kita ambil dari angka satunya, yang artinya Bhinneka saja, gitu loh. Karena kan di sini juga kita hidup di lingkungan yang berbeda paham, berbeda agama. Jadi kita ambil dari situ. Satunya itu berbeda-beda, tetap satu juga," jelasnya.

Rencananya, ribuan bendera ini akan terus berkibar hingga 21 Agustus mendatang. Selama periode tersebut, kawasan Gedung Linggarjati akan dimeriahkan dengan berbagai agenda, mulai dari perlombaan rakyat, upacara bendera, hingga pementasan seni.

Bagi Heni dan komunitasnya, tujuan akhir dari gerakan ini bukan sekadar mengejar estetika untuk kebutuhan foto wisatawan. Ada pesan yang lebih besar yang ingin disampaikan, sebuah ajakan untuk menengok kembali sejarah dan memupuk rasa cinta tanah air.

"Biasa kami memulai pemasangan serentak itu di tanggal 1 Agustus sampai puncaknya di 21 Agustus. Kita tujuannya menggugah rasa nasionalisme. Terkadang orang kan tidak paham ya, kadang kita sendiri di rumah tidak punya bendera. Yang lebih menitikberatkannya ini adalah gedung bersejarah. Ketika kita hiasi bendera, ketika kita mengibarkan bendera, mereka akan mengingat," pungkas Heni.



Simak Video "Keindahan Alam dari Puncak Gunung Tilu, Kuningan"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB