Sebanyak 2.712 pendaki menyerbu puncak Gunung Ciremai di momen hari libur kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2026. Dalam data Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dari tanggal 15 sampai 17 Agustus 2026, jumlah 2.712 tersebut terbagi dalam beberapa jalur pendakian seperti Apuy 1.119, Sadarehe 804, Palutungan 738, Linggarjati 51, dan Linggasana 0.
Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Eska Nata Suryana, memaparkan bahwa sebagian pendaki tersebut memang memiliki niat khusus untuk merayakan hari kemerdekaan di puncak Gunung Ciremai. Menurutnya, para pendaki tersebut diperkirakan akan turun usai melaksanakan upacara peringatan kemerdekaan di puncak Gunung Ciremai.
"Memang untuk 17-an ini, sebagian besar pengunjung itu memang berniat untuk merayakan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan di puncak. Seperti di Palutungan kan dengan komunitas Kalderanya menghimpun banyak pendaki untuk bisa naik di tanggal 16, kemudian merayakan puncak kemerdekaan di puncak dengan mengibarkan bendera. Nah, biasanya mereka itu akan mulai turun di siang hari ini. Mulai bertahap turun ke bawah tuh." tutur Eska, Senin (17/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, karena tingginya antusiasme para pendaki, beberapa jalur pendakian seperti Palutungan dan Sadarehe melakukan penutupan pendaki karena kuota pendakian per harinya sudah terpenuhi. Meski begitu, beberapa seperti Linggarjati dan Linggasana relatif sepi pendaki jika dibandingkan dengan jalur yang lainnya. Menurut Eska, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya promosi serta jalur pendakian yang terjal dan curam.
"Kuota perharinya untuk Linggajati 180, Linggasana 180, Palutungan 405, Apuy 455 dan Trisakti sadarehe 360. Memang dulu pada masanya Linggarjati ini memang favorit untuk para pendaki. Cuma sekarang trennya sedikit bergeser. Yang dulunya primadona sekarang ditinggalkan, ya mungkin salah satunya dari sisi promosinya mungkin kurang terangkat, kemudian dari sisi selera pendaki juga," tutur Eska.
Eska memaparkan, selain berasal dari sekitar wilayah Ciayumajakuning, para pendaki tersebut juga banyak yang berasal dari luar wilayah Ciayumajakuning. Menurutnya, selain karena momen hari libur kemerdekaan 17 Agustus, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya antusiasme masyarakat untuk mendaki Gunung Ciremai cukup tinggi seperti ditutupnya Gunung Gede Pangrango akibat kebakaran.
"Kondisi eksisting yang Pangrango juga sekarang kan masih tutup jalur pendakiannya karena kemarin masih kebakaran. Sehingga mungkin banyak juga yang lari ke sini. Kalau lihat di parkiran-parkiran kendaraan juga banyak yang letter-nya bukan Ciayumajakuning," tutur Eska.
Mengingat tingginya antusiasme masyarakat untuk mendaki Gunung Ciremai, pihaknya mengimbau agar pendaki selalu menjaga keselamatan diri saat melakukan pendakian dengan cara memastikan kondisi fisik prima, membawa perbekalan cukup, taat SOP, dan selalu menjaga kelestarian lingkungan kawasan taman nasional.
'Pertama tentu bagi mereka yang akan mendaki siapkan kondisi fisik yang prima. Kemudian yang kedua siapkan perbekalan yang mencukupi. Ketiga taati SOP pendakian yang ada.Serta yang keempat tetaplah bijak dalam beraktivitas mendaki di Gunung Ciremai. Artinya tetap mengedepankan aspek keselamatan, kemudian tetap menjaga kelestarian dan kondisi kawasan dengan tidak meninggalkan sampah di sepanjang jalur pendakian," pungkas Eska.
(yum/yum)
