Infografis: Pahitnya Sejarah Kopi yang Picu Perang Besar di Cirebon

Infografis: Pahitnya Sejarah Kopi yang Picu Perang Besar di Cirebon

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 03 Agu 2026 09:00 WIB
Infograsi ilustrasi sejarah kopi dan Perang Kedongdong di Cirebon.
Infografis ilustrasi sejarah kopi dan Perang Kedongdong di Cirebon. (Foto: Dibuat menggunakan Notebooklm)
Cirebon -

Kopi telah lama menjadi minuman favorit berbagai kalangan. Namun, di balik secangkir kopi yang kini mudah dinikmati, tersimpan sejarah panjang yang turut membentuk perjalanan Cirebon. Pada masa kolonial, komoditas ini tidak hanya menjadi sumber keuntungan besar bagi VOC, tetapi juga memicu penderitaan para petani hingga melahirkan perlawanan rakyat yang dikenal sebagai Perang Kedongdong.

Pegiat sejarah dan pengkaji naskah kuno dari komunitas Latar Wingking, Farihin, menjelaskan budidaya kopi di Jawa Barat mulai berkembang sejak awal abad ke-18. Cirebon menjadi salah satu daerah penghasil kopi penting bersama Cianjur, Kuningan, Sukabumi, dan wilayah Priangan lainnya. Seiring meningkatnya permintaan kopi di Eropa, produksi kopi di Cirebon terus melonjak, dari sekitar 150 kilogram pada 1713 menjadi lebih dari 650.000 kilogram pada 1823.

Besarnya keuntungan yang diraih VOC tidak sejalan dengan kesejahteraan petani. Penurunan harga kopi secara sepihak, kewajiban menanam kopi, hingga berbagai pungutan membuat kehidupan petani semakin tertekan. Kondisi tersebut memicu perlawanan di berbagai daerah. Di Cirebon, banyak petani memilih membiarkan kebun kopi menjadi semak belukar dan beralih menanam komoditas lain sebagai bentuk protes terhadap kebijakan kolonial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana petani kopi di JawaSuasana petani kopi di Jawa Foto: Istimewa/arsip

Tekanan yang terus meningkat akhirnya memicu meletusnya Perang Kedongdong pada awal abad ke-19. Perlawanan ini melibatkan sejumlah tokoh seperti Bagus Rangin, Bagus Serit, Bagus Jabin, dan Pangeran Raja Kanoman, serta didukung puluhan ribu rakyat Cirebon. Perang yang berlangsung dalam dua periode tersebut menjadi simbol perjuangan masyarakat melawan kesewenang-wenangan kolonial dan sistem eksploitasi yang membebani petani kopi.

Melalui kisah ini, secangkir kopi tidak hanya menyimpan aroma dan cita rasa, tetapi juga jejak perjuangan panjang rakyat Cirebon. Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa komoditas yang kini dinikmati banyak orang pernah menjadi saksi lahirnya salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonialisme di tanah Cirebon.

ADVERTISEMENT

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads