Di sebuah sudut Desa Sukawera, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, sebuah rumah sederhana tak pernah sepi dari hilir mudik warga. Tempat ini jauh dari kesan mewah, tanpa etalase kaca yang berkilau. Namun, bagi banyak keluarga di sana, rumah milik Suheri adalah tempat "penyelamat" bagi alas kaki mereka yang mulai usang.
Pria yang akrab disapa Heri ini adalah seorang tukang sol sepatu dengan prinsip yang tak lazim di tengah himpitan ekonomi tahun 2026. Saat jasa serupa di tempat lain sudah mematok tarif belasan hingga puluhan ribu rupiah, Heri bergeming di angka Rp10.000. Bagi para orang tua yang tengah pening mengatur anggaran sekolah anak, selisih harga tersebut tentu sangat berarti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi saat memasuki tahun ajaran baru, beban belanja seragam, buku, hingga sepatu kerap menguras kantong. Di sinilah Heri hadir membawa angin segar. Ia tidak hanya menawarkan jasa perbaikan, tetapi juga menyediakan sepatu bekas berkualitas dengan harga yang nyaris sulit dipercaya.
Pada rak-rak kayu di rumahnya, berjajar sepatu sekolah yang masih sangat layak pakai. Jika di toko harganya bisa mencapai Rp70.000, di tangan Heri, sepatu-sepatu itu bisa dibawa pulang hanya dengan Rp25.000 hingga Rp30.000. Bahkan, merek-merek ternama yang biasanya dibanderol jutaan rupiah, seperti Kickers atau Crocodile, ia jual di kisaran Rp25.000 sampai Rp30.000 saja.
Barang-barang ini bukan sekadar limbah. Heri mendapatkannya dari pemasok yang membeli stok toko-toko bangkrut. Setelah melalui proses seleksi ketat dan dibersihkan hingga tampak segar kembali, sepatu-sepatu itu siap menemani langkah pemilik barunya.
Setiap hari, tak kurang dari 20 hingga 30 orang datang silih berganti. Ada yang ingin memperbaiki sepatu futsal, mencari sandal, hingga membelikan sepatu sekolah untuk buah hati mereka. Salah satu pelanggan setianya adalah Jarwono.
"Pertama karena harganya murah. Sandal ada yang Rp15.000, sedangkan sepatu mulai Rp25.000 sampai Rp35.000," katanya kepada detikJabar, saat ditemui belum lama ini.
Bagi Jarwono, harga miring bukan berarti kualitas murahan. Ia merasa barang yang dijual Heri sangat bersaing dengan produk baru di toko. "Menurut saya kualitasnya bagus, hampir sama seperti yang baru," ujarnya.
Ketekunan Heri bukan lahir kemarin sore. Ia telah menggeluti dunia sol sepatu selama hampir empat dekade, jauh sebelum ia membangun rumah tangga. Ia mengenang masa-masa saat ongkos sol masih di angka Rp300. Kala muda, Heri adalah seorang pengelana yang memikul peralatan kerjanya menyusuri jalanan Subang, Pamanukan, Cirebon, hingga Jakarta.
Peluh keringat dari memikul beban itulah yang akhirnya membuahkan hasil manis bagi keluarganya. Dari setiap rupiah yang dikumpulkan, Heri berhasil mengantarkan anaknya menempuh pendidikan tinggi hingga lulus. Kini, sang anak telah mengabdi sebagai seorang guru di Kota Malang.
Namun, kesuksesan anak tak lantas membuat Heri mengejar profit semata. Baginya, ada nilai kemanusiaan yang jauh lebih tinggi dari sekadar angka di atas kertas.
"Saya kasihan kepada orang-orang yang kurang mampu. Saya ingin membantu mereka. Kadang ada anak yatim yang datang, saya kasih saja sepatunya, tidak usah bayar. Tidak apa-apa. Saya memang ingin membantu supaya mereka tetap bisa memakai sepatu yang layak," tuturnya, di sela-sela pekerjaannya mengesol sepatu.
Filosofi "untung sedikit yang penting berputar" menjadi napas usahanya. Heri merasa cukup selama usahanya bisa terus berjalan dan bermanfaat bagi orang banyak.
"Misalnya saya beli sepatu Rp15.000, saya jual Rp20.000 saja. Tidak apa-apa untung sedikit. Yang penting laku banyak. Keuntungan sedikit tetapi berputar terus, itu sudah cukup," katanya.
Meski lokasinya tersembunyi di pelosok desa, pelanggan tetap datang berkat testimoni dari mulut ke mulut. Heri percaya bahwa kejujuran dan kualitas adalah kunci utama yang membuat orang kembali datang kepadanya. "Yang utama menjaga kualitas. Saya tidak ingin mengecewakan orang lain," katanya.
Di rumah sederhana itu, sepatu bukan sekadar komoditas dagang. Ia menjadi simbol bahwa di tengah dunia yang kian kompetitif, masih ada ruang bagi ketulusan. Heri membuktikan bahwa keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa banyak harta yang ditumpuk, melainkan dari seberapa banyak langkah orang lain yang bisa ia mudahkan.
