Nestapa Rumini, Bertahan di Rumah Roboh Sambil Jual Nasi Aking

Nestapa Rumini, Bertahan di Rumah Roboh Sambil Jual Nasi Aking

Burhanuddin - detikJabar
Kamis, 30 Jul 2026 05:21 WIB
Rumini, perempuan paruh baya di Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu.
Rumini, perempuan paruh baya di Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Angin bertiup pelan di Gang Kapal Kadas, Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu. Namun bagi Rumini, setiap embusan angin bukan lagi sekadar penanda perubahan cuaca. Angin kini menjadi sumber kecemasan yang selalu mengingatkannya pada siang nahas di bulan Januari 2024, ketika hujan deras dan angin kencang merobohkan rumah tua yang telah lama menjadi tempat berteduh keluarganya.

Rumah itu memang masih berdiri, tetapi hanya sebagian. Atap yang rusak, dinding yang retak, dan kamar yang tak lagi layak dihuni menjadi saksi rapuhnya bangunan yang telah dimakan usia. Di sanalah perempuan lanjut usia itu tetap bertahan bersama dua anak dan dua cucunya. "Masih bisa dipakai, tapi sudah tidak bisa tidur di kamar. Takut roboh lagi," ucap Rumini lirih saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suaminya, seorang nelayan, telah meninggal dunia bertahun-tahun lalu. Sejak itu, Rumini menjalani hari sebagai tulang punggung keluarga sekaligus nenek yang menjaga cucu-cucunya. Usia yang semakin renta membuat langkahnya tak lagi sekuat dulu. Ia tak mampu bekerja berat. Untuk sekadar menambah penghasilan, Rumini mengumpulkan nasi sisa pemberian tetangga yang kemudian dijual kepada pengepul sebagai nasi aking.

ADVERTISEMENT

Penghasilan itu tentu jauh dari cukup. Namun bagi Rumini, setiap rupiah tetap berarti untuk mempertahankan hidup. Saat rumahnya diterjang angin kencang, keberuntungan masih berpihak kepada keluarga kecil itu. Tidak ada korban jiwa. Anak Rumini baru saja pulang dari melaut, sehingga semua anggota keluarga berhasil menyelamatkan diri sebelum bangunan benar-benar ambruk.

Meski demikian, rasa aman ikut runtuh bersama rumah yang roboh. Kini, setiap kali hujan turun atau angin bertiup lebih kencang, kecemasan kembali datang. Rumah yang tersisa seolah tak lagi mampu memberikan perlindungan bagi penghuninya.

Kondisi ekonomi keluarga pun belum memungkinkan untuk memperbaiki rumah secara mandiri. Anak sulungnya, Tati, hidup dalam keterbatasan. Suaminya yang juga seorang nelayan meninggal dunia akibat kecelakaan saat melaut. Kini Tati bekerja membatik dan membantu di sebuah warung demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, adiknya, Sudarma, masih bekerja sebagai nelayan. Penghasilannya digunakan untuk membantu menopang hidup sang ibu dan keluarga besarnya. Namun, pekerjaan sebagai nelayan sangat bergantung pada cuaca dan hasil tangkapan, sehingga pendapatan mereka tidak menentu.

Di tengah segala keterbatasan, warga sekitar tidak tinggal diam. Ketua RT setempat, Sohib, masih mengingat jelas peristiwa ketika rumah Rumini roboh pada Minggu siang itu. Bersama warga, ia bergotong royong membersihkan puing-puing dan kayu yang berserakan. "Waktu itu, kami sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kelurahan. Alhamdulillah sudah ada peninjauan dari perangkat desa," ujarnya.

Bagi Rumini, harapan itu sederhana. Ia tidak meminta rumah mewah atau bangunan megah. Ia hanya ingin memiliki tempat tinggal yang aman, tempat ia bisa beristirahat tanpa dihantui rasa takut setiap kali langit menggelap dan angin mulai bertiup.

"Bangunannya tidak pakai semen. Kalau ada angin saya selalu takut. Saya tidak punya apa-apa. Mudah-mudahan ada yang membantu," kata Rumini dengan mata yang menyimpan harap.

Kisah Rumini menggambarkan kenyataan yang masih dialami sebagian masyarakat pesisir. Rumah-rumah sederhana yang telah dimakan usia menjadi semakin rentan ketika cuaca ekstrem melanda. Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, memperbaiki rumah bukan perkara mudah. Mereka sering kali hanya mampu bertahan sambil menunggu uluran tangan.

Di balik reruntuhan rumah tua itu, Rumini tetap menjalani hari-harinya. Ia masih mengurus cucu-cucunya, masih mengumpulkan nasi aking, dan masih berharap suatu hari nanti dapat tidur dengan tenang di rumah yang benar-benar mampu melindungi keluarganya.

Sebab bagi Rumini, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat menyimpan kenangan bersama suami yang telah tiada, tempat membesarkan anak-anak, dan tempat menggantungkan harapan agar masa depan cucu-cucunya kelak tak lagi dibayangi ketakutan akan atap yang sewaktu-waktu bisa runtuh.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads