Kepercayaan masyarakat tak datang begitu saja kepada Dedi Rosadi (68). Sebelum didapuk menjadi kepala keamanan di lingkungannya di RW 08 Kelurahan Babakan Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, pria yang akrab disapa Naga ini lebih dulu menjalani hidup yang amat berliku.
Sedari remaja, kehidupan Naga sudah terjerumus ke dalam dunia hitam narkoba. Dia pernah dikeluarkan dari sekolah karena membawa ganja, hingga akhirnya memutuskan bertobat setelah anak-anaknya beranjak dewasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Julukan 'Naga' ternyata sudah melekat kepadanya sejak era 1980-an. Pada masa itu, dia jadi pemuda yang akrab dengan kehidupan jalanan yang membawanya menemui banyak situasi berbahaya.
Bahkan, tubuh penuh tatonya sempat membuat Naga ikut menjadi buruan saat operasi Penembakan Misterius (Petrus) jadi fenomena yang begitu menakutkan di kalangan masyarakat. Demi menyelamatkan diri, Naga lalu memilih meninggalkan Bandung dan hidup berpindah-pindah, mulai dari Tanjung Priok hingga Subang.
"Kalau dibilang koboi mah koboi lah saya dulu itu. Makanya disebut 'Naga' karena dulu saya sering minum dan bau mulutnya itu enggak ketolong lagi," katanya saat bercerita kepada detikJabar belum lama ini.
Namun selama pelarian, situasi tersebut tidak serta-merta mengubah hidupnya secara drastis. Sekembalinya ke Bandung, Naga masih berkutat dengan dunia narkoba yaitu menjadi bandar ganja dan mengedarkan ke beberapa kawan kepercayaannya.
Saat itu, uang memang mengalir deras dengan begitu mudah. Tetapi perlahan, Naga menyadari semuanya hanya membawa petaka dan tidak bisa terus dipertahankan dalam jangka waktu yang panjang.
Titik balik itu akhirnya datang ketika anak sulungnya mulai beranjak besar. Rasa malu kepada buah hati membuatnya perlahan mengurangi kebiasaan mengonsumsi narkoba hingga akhirnya benar-benar meninggalkannya.
"Karena anak-anak udah mulai gede, ada rasa malu sama anak-anak. Perlahan dikurangin, sampe akhirnya saya bisa berhenti total dari ganja kalau enggak salah tahun 2000-an," ungkapnya.
Meski sudah lepas dari ganja, Naga saat itu masih berjuang untuk keluar dari pengaruh minuman alkohol. Semuanya pun bisa dia lepaskan setelah memasuki tahun 2016-an.
Keputusan meninggalkan dunia gelap narkoba menjadi awal perubahan besar dalam hidup Naga. Meski tak mudah menghapus cap buruk yang telah melekat selama bertahun-tahun, ia memilih mendekatkan diri kepada masyarakat sedikit demi sedikit.
Naga mulai aktif membantu berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya. Setelah berbaur dengan warga, Naga mendapat kepercayaan dan didapuk menjadi Ketua RT selama 3 periode sejak tahun 2005.
"Ya dijalanin aja. Kita harus tahu karakter masyarakat maunya apa. Yang penting jangan bikin rusuh dan jangan sampai merugikan orang lain," ujarnya.
Kepercayaan warga itu terus tumbuh. Selepas menjadi ketua RT, Naga kemudian ditunjuk sebagai kepala keamanan lingkungan di RW 08 Babakan Siliwangi, jabatan yang masih diembannya hingga kini.
Setiap hari, pria 68 tahun itu menghabiskan waktunya di pos keamanan. Ia memantau kamera CCTV, berkoordinasi dengan warga, hingga menjadi orang pertama yang dihubungi ketika terjadi kehilangan kendaraan, perselisihan antarwarga, atau keadaan darurat.
Bagi Naga, menjaga keamanan lingkungan bukan sekadar tugas. Pekerjaan itu menjadi caranya menebus masa lalu sekaligus mengabdikan diri kepada masyarakat yang kini telah menerimanya apa adanya.
"Dulu kita jelek. Sekarang mah sebisanya berbakti ke masyarakat. Sebisa mungkin kitanya juga ngasih edukasi biar warga di sini ngerasa aman," tuturnya.
Kini, di usia senjanya, Naga tak lagi mengejar kehidupan yang pernah membuatnya merasa berjaya. Hari-harinya dihabiskan menjaga lingkungan, memantau CCTV, membantu warga yang mengalami kesulitan, hingga menjadi penghubung ketika terjadi persoalan di wilayahnya.
Baginya, kepercayaan masyarakat adalah hal yang jauh lebih berharga dibanding uang yang dulu pernah mengalir deras dari bisnis haram. Menjaga keamanan lingkungan pun ia anggap sebagai cara sederhana untuk menebus masa lalu.
Bagi Naga, perjalanan hidupnya menjadi pelajaran bahwa perubahan selalu mungkin terjadi. Jalan yang dulu membawanya terjerumus ke dunia narkoba kini telah berganti menjadi pengabdian kepada warga, sebuah cara yang ia pilih untuk menutup lembaran kelam masa lalunya.
(ral/orb)
