Dua Sisi Uji Coba Sistem Tani PM-AAS di Cirebon

Devteo Mahardika - detikJabar
Minggu, 26 Jul 2026 13:00 WIB
Ilustrasi Sistem Pertanian Modern Agriculture Advance System (PM-AAS). (Foto: Burhannudin)
Cirebon -

Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon mulai mengimplementasikan program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang digagas Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Inovasi tersebut mengusung sistem tanam benih langsung (Tabela) yang diklaim mampu mempercepat masa tanam, meningkatkan produktivitas, sekaligus menghemat biaya tenaga kerja.

Sebagai tahap awal, Distan akan melakukan uji coba penerapan PM-AAS di empat kecamatan, yakni Susukan, Susukanlebak, Pabuaran, dan Dukupuntang. Program ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi pertanian modern di Kabupaten Cirebon untuk meningkatkan produksi padi dan kesejahteraan petani.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Distan Kabupaten Cirebon, Apip Sirojudin, mengatakan sistem PM-AAS menawarkan berbagai keunggulan dibanding metode tanam konvensional. Selain mempercepat proses budidaya, sistem ini juga berpotensi menghasilkan panen yang jauh lebih tinggi.

Menurutnya, hasil uji coba yang telah dilakukan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sukamandi, Kabupaten Subang, di lahan seluas 300 hektare menunjukkan produktivitas padi mampu menembus lebih dari 10 ton gabah per hektare. Angka tersebut meningkat sekitar tiga hingga empat ton dibandingkan sistem tanam biasa yang rata-rata menghasilkan enam hingga tujuh ton per hektare.

"Keuntungannya hasil panen bisa lebih dari 10 ton per hektare. Kalau sistem tanam biasa berada di kisaran 6 sampai 7 ton. Produksi meningkat karena populasi tanaman lebih padat, sementara masa panen juga lebih cepat karena tanaman tidak mengalami stres akibat dipindahkan saat proses tanam," ujarnya.

Selain meningkatkan produktivitas, sistem Tabela juga dinilai lebih efisien dari sisi kebutuhan tenaga kerja. Proses penanaman dilakukan menggunakan alat Drumsider, sehingga petani tidak lagi memerlukan banyak pekerja seperti pada sistem tanam pindah.

Untuk mendukung penerapan teknologi tersebut, Distan menyediakan fasilitas peminjaman alat Drumsider melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di masing-masing wilayah. Sementara kebutuhan benih akan dibantu oleh Kementerian Pertanian.

"Untuk sementara alat Drumsider bisa dipinjam di masing-masing BPP. Sedangkan benih ada bantuan dari Kementan," katanya.

Meski menawarkan berbagai keunggulan, Apip mengakui penerapan PM-AAS juga memiliki konsekuensi berupa meningkatnya kebutuhan sarana produksi, terutama pupuk dan benih.

Jika pada sistem konvensional kebutuhan pupuk urea sekitar 225 kilogram per hektare, maka pada PM-AAS meningkat menjadi 300 kilogram. Sementara pupuk NPK mencapai 400 kilogram per hektare. Selain itu, petani diwajibkan menggunakan pupuk organik bersubsidi minimal satu ton per hektare sebagai syarat penerapan sistem tersebut.

Kebutuhan benih pun meningkat cukup signifikan, dari sekitar 25 kilogram menjadi 70 kilogram per hektare. Meski demikian, tambahan kebutuhan benih tidak menjadi beban petani karena telah disediakan melalui bantuan Kementerian Pertanian.

"Kalau biasanya satu hektare membutuhkan pupuk urea 225 kilogram, sekarang menjadi 300 kilogram, NPK 400 kilogram. Untuk benih juga naik dari 25 kilogram menjadi 70 kilogram. Namun benih dibantu Kementan, sedangkan pupuk tidak," jelasnya.

Distan Kabupaten Cirebon menargetkan uji coba PM-AAS di empat kecamatan tersebut mulai terealisasi pada Juli 2026. Lahan yang dipilih merupakan milik petani yang telah mengikuti sosialisasi dan memahami mekanisme sistem tanam benih langsung.

Apip menambahkan, respons petani terhadap program ini masih beragam. Sebagian petani yang terbuka terhadap inovasi menyatakan siap menerapkan PM-AAS. Namun, tidak sedikit pula yang masih memilih menunggu hasil uji coba sebelum beralih dari metode tanam konvensional.

"Petani yang adaptif langsung siap mengikuti program ini. Tetapi ada juga yang masih ingin melihat bukti keberhasilannya terlebih dahulu sebelum menerapkan sistem PM-AAS," pungkasnya.




(yum/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork