Kementerian Pertanian (Kementan) menerapkan teknik tanam pertanian modern guna meningkatkan produksi padi pada musim kemarau. Pada tahap awal, demonstrasi plot (demplot) diterapkan di Trenggalek dengan target produksi 10 ton/hektare.
Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Heru Suseno mengatakan bahwa metode tanam Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM AAS) adalah inovasi dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan. Tujuan utamanya menambah populasi tanaman padi per hektare sehingga produktivitas hasil pangan ikut meningkat.
"Metode ini adalah memperbanyak populasi tanaman per hektare, dari sekitar 800 ribu hingga 1,2 juta rumpun. Secara teori, produktivitasnya bisa mencapai 10 ton gabah per hektare, sementara rata-rata hasil panen normal berkisar 6 hingga 6,5 ton per hektare," kata Heru, Kamis (16/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan teknik tanam tradisional, metode yang diterapkan dengan tabur benih langsung (tabela). Pada teknik ini benih padi tidak dilakukan penyemaian terlebih dahulu, melainkan langsung ditebar menggunakan alat khusus berupa pipa.
"Ini akan menghemat biaya tanam karena tidak ada penyemaian dulu," jelasnya.
Jika pada metode biasa tanaman padi akan membentuk rumpun-rumpun kecil. Pada sistem ini rumpun padi akan terbentuk secara memanjang di sepanjang sawah.
Tidak hanya itu, modernisasi pertanian juga diterapkan pada proses pemupukan maupun pemberantasan hama, yakni menggunakan teknologi pesawat tanpa awak (drone).
"Sistem ini tentu akan membutuhkan pupuk yang lebih banyak. Pak Menteri Pertanian berkomitmen untuk melakukan penambahan alokasi pupuk bersubsidinya," imbuhnya.
Pada tahap awal Kementan penerapan metode ini melalui demplot seluas 20 hektare di Kabupaten Trenggalek dan akan diperluas menjadi 100 hektare.
Selain di Trenggalek, Dispertan Jawa Timur juga memulai sistem tanam baru di berbagai kota di wilayahnya dengan target luasan mencapai 182 ribu hektare.
"Ini kami mulai Juli hingga September 2026 yang tersebar di berbagai kabupaten. Luasan di setiap daerah berbeda, mulai dari setengah hektare hingga puluhan hektare sebagai lokasi percontohan," ujar Heru.
Heru menambahkan, varietas padi yang direkomendasikan dalam program ini adalah Inpari 49, karena dinilai sesuai dengan sistem tanam modern yang sedang dikembangkan pemerintah. Program demplot di Trenggalek diharapkan menjadi acuan sebelum diterapkan lebih luas di berbagai wilayah Jawa Timur.
