Gunung Ciremai selama ini dikenal sebagai atap tertinggi di Jawa Barat. Namun pada November 2011, gunung setinggi 3.078 meter di atas permukaan laut itu menyimpan sebuah tragedi yang hingga kini masih dikenang.
Sebuah pesawat latih Cessna C-172 Skyhawk milik PT Nusa Flying International School hilang kontak saat menjalankan penerbangan latihan. Selama hampir dua pekan, pesawat beserta tiga awaknya seperti ditelan lebatnya hutan Ciremai.
Pencarian melibatkan tim SAR, aparat TNI-Polri hingga ratusan relawan. Medan yang curam, jurang terjal, dan kabut tebal membuat upaya pencarian berlangsung sangat berat.
Pesawat dengan registrasi PK-NIP itu diketahui lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu, 16 November 2011 sekitar pukul 07.40 WIB untuk menjalani latihan cross country.
Tujuannya adalah Lanud Cakrabuana, Cirebon. Namun sebelum tiba di tujuan, pesawat hilang kontak dan tak pernah memberikan sinyal lagi.
Di dalam pesawat terdapat tiga orang, yakni instruktur penerbang Kapten Partogi Sianipar (25) serta dua siswa penerbang, Muhammad Fikriansyah (18) dan Agung Febrian (30).
Namun hingga sore hari, pesawat itu tak kunjung sampai di Lanud Cakrabuana. Bahkan pihak lanud mengonfirmasi, mereka hilang kontak dengan Cessna C-172.
""Iya terakhir di Sukani, Majalengka. Tapi jauh itu, dan belum ada kabar," kata Danlanud Cakrabuana saat itu, Kapten Edi.
"Harusnya (mendarat) di Cakrabuana jam 09.00 WIB. Kita masih menunggu lebih jauh," sambungnya.
Upaya pencarian langsung dilakukan saat itu juga dengan mengerahkan helikopter Basarnas dan pesawat Nusa Flying School. Pencarian dipusatkan pada koordinat 06 31'30" dan 107 52'50".
Sepekan lebih Cessna 172 Skyhawk milik PT Nusa Flying International menghilang. Pada Senin 28 November 2011, Basarnas menemukan serpihan pesawat di daerah Majalengka, Jawa Barat, yang diduga milik Cessna tersebut.
Serpihan pesawat berupa sayap dan ekor itu ditemukan oleh warga di lereng Gunung Ciremai dengan ketinggian 7.500 kaki yang masuk wilayah Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka pada koordinat 06.53.15.8 LS dan 108.23.25.0 BT.
Penemuan serpihan itu diketahui pada pukul Senin pagi pukul 10.00 WIB oleh warga Desa Argalingga, Kecamatan Argapura. Warga yang menemukan itu masing-masing Didi Sutardi, Rudi, Nana, Ade, dan Ajat. Mereka kemudian langsung membawa turun serpihan itu ke Mapolsek Argapura.
Mereka menemukan serpihan pesawat di kawasan Kawah Burung, lereng Gunung Ciremai. Lokasi itu bukan kawasan yang mudah dijangkau. Untuk mencapai titik tersebut, tim harus berjalan kaki berjam-jam melewati hutan dan tebing curam.
"Ada lima warga yang menemukan sejumlah serpihan pesawat. Kemudian serpihan itu difoto dan dikirim serta dikonfirmasi kepada pemilik pesawat yaitu Nusa Flying di Jakarta. Pihal mereka membenarkannya," ujar Kabid Humas Polda Jabar AKBP Martinus Sitompul.
Laporan warga tersebut kemudian menjadi titik terang terbesar sejak pesawat dinyatakan hilang. Tim SAR pun bergerak menuju lokasi hingga menemukan bangkai pesawat dalam kondisi hancur dengan posisi berada di tepi jurang.
Seluruh awak pesawat dipastikan meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Korban pertama ditemukan masih berada di dalam kokpit saat itu. Sementara dua lainnya, ditemukan tak jauh dari lokasi bangkai pesawat pada keesokan harinya.
"Pagi tadi, dua jenazah itu ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan serpihan yakni di Kawah Burung kawasan Gunung Ceremai," ujar AKBP Martinus Sitompul saat dihubungi via telepon, Selasa 29 November 2011.
Upaya evakuasi yang dilakukan Tim SAR gabungan terhadap tiga jasad awak pesawat terkendala medan yang sulit dan terhalang kabut. Dibantu warga dan relawan, evakuasi akhirnya berhasil dilakukan dengan memakan waktu sekitar enam jam.
Tiga jasad awak pesawat Cessna milik Nusa Flying kemudian dibawa ke RSUD Majalengka sebelum dibawa ke Halim Perdanakusumah. Pada Rabu 30 November 2011, ketiga jasad korban tiba di Halim untuk diserahkan ke pihak keluarga.
(bba/yum)