Ternyata ada gudang yang menyimpan rongsokan pesawat di Dusun Dukuh, RT 01/V, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Meski tidak ada bandara, ada belasan pesawat terparkir di perbatasan antara Kabupaten Sukoharjo dengan Kabupaten Wonogiri itu.
Sebanyak 11 pesawat berbagai jenis dan ukuran itu 'terparkir' di sebuah lokasi besar bekas penggilingan padi seluas 4 ribu meter persegi. Pesawat besar berwana putih yang terparkir sudah tidak dalam keadaan utuh. Body pesawat sudah terpotong menjadi 2-3 bagian, sayap, mesin, interior sudah dilepas dari kabin pesawat.
Body pesawat yang besar diletakkan di halaman. Di salah satu gudang, terdapat pesawat capung yang masih utuh, tumpukan sayap pesawat, komponen mesin hingga turbin. Sementara disudut bangunan yang lain terdapat sejumlah kursi penumpang dan pilot. Lalu terdapat tumpukan ban serta velg pesawat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat yang tak lagi terpakai terparkir di gudang rongsok Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng |
Salah seorang karyawan gudang Mahdianto alias Gudel (45) mengatakan, bisnis rongsok pesawat ini dijalankan bosnya sejak tahun 2017 lalu di Jakarta. Pada tahun 2020, mereka mencari gudang baru dan mulai berjualan di Sukoharjo.
"Barang-barang di sini dari eks (maskapai) Merpati 2013 waktu pailit. Barangnya ada yang dari Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Juanda, dan Kalimantan. Tapi yang ada di sini dari Jakarta semua," kata Gudel kepada detikJateng, Kamis (5/3/2026).
Ada sejumlah orang yang setiap hari berjaga di gudang rongsok pesawat itu. Setiap hari mereka mempromosikan untuk menjual bangkai pesawat tersebut melalui media sosial Facebook.
Ban pesawat yang tak lagi terpakai terparkir di gudang rongsok Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng |
Adapun pesawat beserta sparepart yang dijual dari pesawat jenis CASA C-212, Fokker, hingga Boeing. Ada juga pesawat capung jenis Cessna 150. Pesawat-pesawat itu sudah tidak layak terbang, sehingga fungsinya sudah berubah.
"Target kita untuk edukasi di sekolah penerbangan, resto konsep pesawat, hingga pajangan di rumah mewah bagi kolektor," ucapnya.
Pembeli yang minat, bisa menghubungi Gudel, atau datang langsung ke gudang rongsok pesawat yang ada di Nguter. Beberapa waktu lalu, satu body full pesawat Boeing berhasil terjual, dan dipasang untuk restoran di Majalengka, Jawa Barat. Gudel mengatakan, body pesawat itu laku hampir Rp 3 miliar.
"Kita bawa (body pesawat) ke sana dengan tiga truk. Disana kita lakukan restorasi, pengelasan dan pengecatan oleh tenaga yang ahli. Owner sudah terima bagusnya," jelasnya.
"Kalau full body plus kursi Rp 2-3 miliar. Itu sudah bersih. Penyambungan, perbaikan sudah include. Kalau mau ambil sendiri silahkan dengan harga yang lebih murah, karena operasionalnya yang mahal," imbuhnya.
Nampak pesawat yang tak lagi terpakai terparkir di gudang rongsok Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng |
Harga berdasarkan jenis pesawatnya, yang dilihat berdasarkan ukuran dan estetika. Untuk yang Cessna dan Fokker sekitar Rp 2 miliar. Sementara jenis yang Boeing Rp 2-3 miliar, karena lebih besar dan pemasangan lebih lama.
Gudel mengatakan, setelah pandemi permintaan body pesawat ini sudah menurun, seiring dengan konsep baru yang diterapkan restoran. Saat ini, untuk sparepart masih banyak dicari untuk edukasi di sekolah penerbangan.
"Susah ditebak (untuk perputarannya), karena ini sangat segmented ya," kata dia.
Adapun barang yang ia jual untuk kolektor seperti Cessna 150, bagian dalam kabin pilot seperti kemudi hingga kursi pilot. Sementara barang yang biasa diincar sekolah penerbangan yaitu bagian-bagian mesin. Dan yang dicari segmen yang lebih umum berupa kabel tembaga.
Harga bagian pesawat yang dijual secara eceran harganya bervariasi, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 300 ribu. Seperti kursi penumpang satu set isi dua, dijual dengan harga Rp 2 jutaan. Ban pesawat Rp 800 ribu sampai Rp 1 jutaan, velg pesawat mulai dari Rp 1,5 juta.
"Part yang dicari biasanya pakai serial number, bagian mesin. Biasanya daerah karburasi. Kalau Turbin yang utuh Rp 50 juta nego, mesin yang masih hidup satu set Rp 300 juta. Sekolah penerbangan banyak yang beli untuk praktik," pungkasnya.
(afn/aku)



