Jimat dan Langkah Panjang 5 Km Setiap Hari demi Rezeki Keluarga

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Senin, 08 Jun 2026 13:30 WIB
Jimat penyandang disabilitas saat berjualan sepatu di Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Terik matahari di pusat Kota Kuningan siang itu seolah tak menyurutkan langkah Jimat. Pria berusia 40 tahun ini tampak tangguh memanggul tas ransel hitam besar di punggungnya. Di dalam tas itu, tersimpan tumpukan sepatu yang menjadi tumpuan hidupnya selama puluhan tahun.

Jimat adalah seorang penyandang disabilitas fisik sejak lahir. Namun, keterbatasan fisik bukan alasan baginya untuk sekadar menengadahkan tangan. Dengan peluh yang membasahi kening, ia menyusuri area perkantoran pemerintah dan pusat keramaian, menawarkan alas kaki dari satu pintu ke pintu lainnya.

Saat ada calon pembeli yang memanggil, dengan sigap ia menurunkan beban di punggungnya. Ia kemudian menggerakkan kakinya dengan hati-hati untuk mengeluarkan satu per satu barang dagangan dari dalam tas.

Jarak yang ditempuh Jimat tidaklah pendek. Dalam sehari, ia sanggup berjalan kaki hingga lebih dari 5 kilometer. Sepatu-sepatu itu ia ambil dari distributor di Tangerang untuk kemudian dijajakan kembali di tanah perantauannya, Kuningan.

"Ini saja kemarin saya jalan itu dari kontrakan ke patung kuda sampai jalan Cirendang ada 3 sampai 5 kilometer mah. Mulai jualan biasanya dari pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB. Harga sepatunya Rp 180 ribu," tutur Jimat.

Pria asal Sukabumi ini bukanlah orang baru di aspal Kuningan. Ia telah melakoni profesi sebagai penjual sepatu keliling sejak usia remaja. Melintas zaman selama puluhan tahun, Jimat kini harus berhadapan dengan tantangan baru yang lebih berat dari sekadar cuaca: gempuran pasar digital atau marketplace.

Dulu, Jimat bisa tersenyum lebar karena mampu menjual puluhan pasang sepatu dalam sehari. Kini, sejak tren belanja online marak, penghasilannya merosot tajam dan menjadi tidak menentu. Jimat sempat berkeinginan untuk merambah dunia jualan online. Namun, karena keterbatasan alat dan kualitas sepatu yang dirasa kurang bersaing di jagat maya, ia memilih tetap setia pada rute kelilingnya.

"Sudah puluhan tahun jualan. Dari remaja nggak pernah pindah kerjaan. Enakan jualan dulu sebelum ada online. Dulu sehari bisa kejual 10 biji bahkan sampai habis. Tapi sekarang mah sedikit, nggak menentu bahkan kadang sehari nggak ada yang beli sama sekali. Hari ini saja baru kejual satu. Emang sih online itu berdampak banget. Cuman mau gimana lagi," tutur Jimat.

Meski omzetnya tergerus zaman, semangat Jimat tak lantas padam. Baginya, bekerja keras adalah cara menjaga harga diri. Sebagai seorang ayah dengan tiga anak yang harus dihidupi, menyerah bukanlah pilihan. Ia memilih untuk terus berjalan, meski rute yang ditempuh terasa kian sunyi dari pembeli.

"Kerja di mana lagi. Apalagi tergantung sama orang lain. Mending keliling, cari duit sendiri. Rezeki mah nggak bentuk duit saja. Bismillah pokokna mah. Pasti dikasih rezeki. Asal mau keluar, semangat, pasti dikasih rezeki," pungkas Jimat.




(iqk/iqk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork