Berdasarkan pengamatan BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, musim kemarau mulai mencengkeram wilayah Jawa Barat. Puncaknya diprediksi bakal terjadi pada Agustus 2026 mendatang.
Mengantisipasi potensi kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BPBD Jabar pun mulai pasang kuda-kuda meningkatkan kesiapsiagaan. Hal ini ditegaskan oleh Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Hadi Rahmat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadi menuturkan, merujuk informasi BMKG, kemarau yang sudah menyapa sejak Mei ini punya kecenderungan lebih kering dibanding kondisi normal. Biang keroknya tak lain adalah pengaruh fenomena El-Nino.
"Kalau kita mengacu ke 2023, itu cukup ekstrem. Dan pola yang sama masih berpotensi terjadi jika El-Nino kembali menguat," kata Hadi, Sabtu (6/6/2026).
Menilik catatan tahun 2023, sejumlah daerah di Jabar sempat krisis air bersih. Wilayah yang terdampak cukup parah di antaranya Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Ciamis, Bekasi, hingga Garut.
Tak cuma soal dahaga lahan, ancaman karhutla juga jadi sorotan serius. Pada 2023 lalu, BPBD mencatat setidaknya ada 710 kejadian kebakaran hutan dan lahan yang melalap wilayah Jawa Barat.
Beberapa titik yang masuk zona merah karhutla meliputi Majalengka, Sumedang, Subang, Sukabumi, Kabupaten Bandung, hingga Kuningan. Mayoritas kebakaran melanda kawasan hutan produksi yang memiliki vegetasi mudah terbakar.
"Rata-rata memang di wilayah dengan tutupan hutan produksi. Hutan alami di Jawa Barat sudah sangat berkurang," ungkapnya.
Langkah taktis pun disiapkan. BPBD Jabar telah menyiagakan armada mobil tangki air bersih hingga alat tempur pemadam kebakaran, seperti mesin pompa portabel untuk menjinakkan api jika karhutla pecah.
Koordinasi lintas sektoral, termasuk menggandeng pihak swasta, terus diperkuat agar penanganan di lapangan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
"Kita tidak bisa bekerja sendiri dalam penanganan bencana. Semua stakeholder harus terlibat," terangnya.
Meski kesiapsiagaan terus dipompa, Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga kini belum mengetok palu status siaga kekeringan secara resmi. Pemprov masih memantau dinamika cuaca yang dianggap belum sepenuhnya stabil.
"Secara siklus memang sudah kemarau, tapi kondisi di lapangan masih dinamis. Jadi kita masih wait and see," pungkasnya.
Simak Video "Video: Krisis Air Bersih di Kadujajar, 2 Km Ditempuh Demi Setetes Air Bersih"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/mso)
