Milangkala Tatar Sunda Hidupkan Nuansa Budaya di Cirebon

Milangkala Tatar Sunda Hidupkan Nuansa Budaya di Cirebon

Ony Syahroni - detikJabar
Senin, 11 Mei 2026 10:30 WIB
Suasana saat Milangkala Tatar Sunda digelar di Kota Cirebon
Suasana saat Milangkala Tatar Sunda digelar di Kota Cirebon (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)
Cirebon -

Kawasan Gedung BAT di Kota Cirebon dipadati warga pada Minggu (10/5/2026) malam. Mereka berkumpul untuk menyaksikan kirab budaya dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang digelar di daerah berjuluk Kota Udang.

Pantauan detikJabar, selepas waktu isya suasana di sekitar lokasi mulai ramai. Kawasan gedung BAT yang biasanya lengang, mendadak dipenuhi lautan manusia saat acara berlangsung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian warga berdiri di tepi jalan, sebagian lainnya mencari posisi terbaik sambil membawa ponsel untuk merekam jalannya acara.

Kirab budaya dimulai dari kawasan Gedung BAT dan melintasi sejumlah ruas jalan di Kota Cirebon sebelum berakhir di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan.

ADVERTISEMENT

Dalam acara itu hadir sejumlah kepala daerah, di antaranya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wali Kota Cirebon Effendi Edo, serta sejumlah pejabat lainnya. Mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan ikat kepala, mereka mengikuti kirab dengan menunggang kuda.

Sepanjang perjalanan, kirab tersebut menampilkan berbagai kesenian dan budaya dari sejumlah kota/kabupaten di Jawa Barat. Alunan musik tradisional terdengar mengiringi rombongan peserta yang berjalan menyusuri jalanan Kota Cirebon.

Warga terlihat antusias menyaksikan jalannya kirab. Tepuk tangan terdengar begitu meriah saat satu per satu rombongan peserta melintas.

Saat rombongan kirab tiba di Alun-alun Sangkala Buana, suasana tak kalah meriah. Sejumlah warga sudah memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan rangkaian acara yang digelar di panggung utama.

Berbagai pertunjukan seni dan budaya ditampilkan, menambah semarak perayaan Milangkala Tatar Sunda di Kota Cirebon.

Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi mengatakan Jawa Barat memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan tetap terjaga hingga kini. Menurutnya, hal itu salah satunya terlihat dari keberadaan gapura hingga keraton yang masih berdiri kokoh sampai sekarang.

"Sampai hari ini masih berdiri kokoh gapura-gapura dan keraton-keraton," kata Dedi Mulyadi di Alun-alun Sangkala Buana, Keraton Kasepuhan.

Dedi mengatakan kegiatan budaya yang digelar di Kota Cirebon itu bukan hanya membahas masa lalu, tetapi juga menjadi penghubung antara sejarah dan masa depan.

"Yang paling utama bukan untuk membangun cerita masa lalu, tetapi yang disampaikan adalah membangun jembatan masa lalu dan masa depan. Karena banyak di antara kita ngomongin masa depan, nggak ngerti sejarah masa lalu. Banyak juga orang yang hanya cerita masa lalu, tapi tidak mau bicara masa depan," kata dia

"Saya mengambil dua-duanya. Masa lalu adalah histori, masa lalu adalah filosofi, masa lalu adalah ideologi, masa depan adalah tantangan yang harus diwujudkan," kata Dedi menambahkan.

Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyebut Cirebon sebagai daerah yang mampu memadukan nilai agama, budaya, dan sejarah dalam kehidupan masyarakatnya.

Menurut dia, keterbukaan budaya di Cirebon sudah diwariskan sejak lama. Hal itu terlihat dari kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan tradisi dan budaya lokal.

"Wilayah yang sangat terbuka itu adalah Cirebon. Maka Cirebon sesungguhnya adalah mini pluralisme Indonesia. Cirebon mengajarkan tentang Islam inklusif," katanya.

Di sisi lain, ia mengaku telah menyiapkan rencana penataan kawasan di sekitar keraton-keraton Cirebon agar lebih bersih, tertata, dan menarik sebagai destinasi wisata sejarah.

"Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, Keraton Kaprabonan, semuanya harus tertata rapi seperti masa lalu. Gausah lagi hanya bicara anggaran provinsi, di luar itu juga banyak yang ingin membantu berpartisipasi," kata Dedi Mulyadi.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads