Sebuah gentong tanah liat berdiri di depan rumah warga di Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Ukurannya tak terlalu besar. Bagian atasnya ditutup kukusan berbahan anyaman bambu.
Bagi warga sekitar, keberadaan gentong tersebut bukan hal asing. Di tengah musim haji seperti sekarang, pemandangan itu menjadi hal yang lumrah ditemui.
Gentong itu menjadi penanda bahwa pemilik rumah sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Tradisi tersebut dikenal warga sebagai 'gentong Haji', sebuah kebiasaan lama yang masih bertahan di sejumlah wilayah Cirebon hingga sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di rumah itu, anggota keluarga yang sedang berhaji bernama Slamet. Sejak keberangkatannya, gentong berisi air sengaja diletakkan di depan rumah.
Air di dalam gentong bukan sekadar pajangan. Siapa pun yang melintas dipersilakan untuk meminumnya. Bagi masyarakat setempat, gentong itu memiliki makna tersendiri.
"Konon ceritanya untuk menyejukkan hati, menguatkan tenaga, dan melancarkan orang-orang yang lagi berangkat haji," kata Anila, keluarga Slamet, kepada detikJabar, Sabtu (9/5/2026).
Air di dalam gentong akan terus diisi selama anggota keluarga masih berada di Tanah Suci. Kebiasaan itu dilakukan turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Cirebon saat melepas keluarga berhaji.
"Air itu untuk umum. Bisa diminum siapa saja. Jadi sebagai bentuk sedekah," ujar Anila.
Menjelang malam, suasana rumah biasanya kembali ramai. Setelah Magrib atau Isya, warga berdatangan untuk mengikuti pengajian bersama.
Tradisi itu juga dilakukan sejak keberangkatan jemaah haji. Tetangga, kerabat, hingga keluarga duduk bersama membaca doa untuk anggota keluarga yang sedang berada di Tanah Suci.
"Biasanya ngaji Yasinan di rumah setiap habis Maghrib," tutur Anila.
Hingga kini, tradisi Gentong Haji masih dijaga warga Cirebon. Tradisi itu menjadi cara warga mendoakan keluarga yang sedang menunaikan ibadah haji. "Ini sudah menjadi semacam tradisi. Sudah turun-temurun," ucap Anila.
(orb/orb)
