Filosofi Nama dan Bentuk Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Filosofi Nama dan Bentuk Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Minggu, 10 Mei 2026 16:00 WIB
Penampakan Mahkota Binokasih asli yang dibawa ke Ciamis dalam momen Milangkala Tatar Sunda.
Mahkota Binokasih (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar).
Bandung -

Prabu Bunisora Suradipati membuat Mahkota Binokasih Sanghyang Pake untuk melantik keponakannya yang kelak akan menjadi raja Kerajaan Galuh di Tatar Sunda. Sang Prabu bertirakat, lalu mendapatkan model mahkota itu dari mahkota yang dipakai Dewa Indra.

Kini, Mahkota Binokasih dari abad ke-14 itu masih tersimpan dengan baik di Keraton Sumedang Larang. Mahkota itu bahkan diarak keliling Jawa Barat dalam bingkai Milangkala Tatar Sunda.

Mahkota berbahan emas delapan kilogram itu bukan sekadar simbol keagungan, melainkan pada nama dan bentuknya tersimpan makna-makna yang bisa diresapi dan dipegang hingga hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana filosofi nama dan bentuk Mahkota Binokasih Sanghyang Pake? Simak artikel ini yuk!

Filosofi Nama Mahkota Binokasih

Dalam naskah 'Carita Parahyangan', mahkota ini hanya disebut sebagai 'Sanghyang Pake'. Seiring perjalanan sejarah, mahkota ini disebut sebagai Mahkota Binokasih Sanghyang Pake atau cukup disebut Mahkota Binokasih.

Dalam adat pernikahan kebesaran di Sumedang, yaitu peristiwa pernikahan antara menak laki-laki dan menak perempuan, mahkota ini sering dipakai oleh kedua pengantin. Tentu saja, penggunaan mahkota ini tidak bisa dilakukan sembarangan.

Kedua pengantin harus melalui proses verifikasi yang ketat dari pihak Keraton Sumedang Larang, di antaranya untuk memastikan bahwa keduanya adalah menak. Meskipun pada kemudian hari, prasyarat 'menak' (bangsawan) ini mengalami pergeseran.

Sofi Solihah & Ruly Darmawan dalam studi yang dimuat dalam Jurnal Metahumaniora, Volume 11 Nomor 1, April 2021 mengatakan Mahkota Binokasih diserahkan oleh Sri Baduga Maharaja sebagai simbol penunjukan Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran. Sejak 1578, mahkota tersebut menjadi lambang penobatan raja-raja Sumedang Larang, dimulai pada masa Prabu Geusan Ulun yang memerintah tahun 1579-1601. Hingga kini, Mahkota Binokasih tetap diwariskan sebagai identitas kebangsawanan keturunan Kerajaan Sumedang Larang dan digunakan dalam prosesi pernikahan kalangan menak Sumedang.

Lalu, mengapa namanya Binokasih? Dikutip dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mengutip perkataan Radya Anom Karaton Sumedang Larang Luky Djohari Soemawilaga, dikatakan Binokasih punya makna.

"Mahkota ini memiliki sebutan lengkap Binokasih Sanghyang Pake. Binokasih berarti kasih sayang, sedangkan sanghyang pake artinya dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, nama Binokasih Sanghyang Pake mengandung makna kasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari." tulis laman itu.

Dalam pernikahan kebesaran di Sumedang, Mahkota Binokasih merujuk pada mahkota yang dikenakan oleh pengantin laki-laki, sementara mahkota yang dipakai oleh pengantin perempuan disebut Binokasri.

Filosofi Bentuk Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Dari sisi bentuk, Mahkota Binokasih juga punya makna mendalam.

Sofi Solihah & Ruly Darmawan dalam studi yang dimuat dalam Jurnal Metahumaniora, Volume 11 Nomor 1, April 2021 mengutip deskripsi detail mengenai mahkota itu.

"Bagian dalam berlapis hitam. Bagian utama dari mahkota adalah kuluk yang menutupi bagian kepala sampai dahi. Pada sebelah kiri-kanan kuluk atau bagian pelipis, terdapat ron berupa hiasan tumpal yang tersusun tiga. Pada bagian kuluk belakang dihiasi oleh helai-helai daun dan Garuda Mungkur. Pada bagian ron terdapat lima buah hiasan yang berbentuk lebah dengan filosofi kehidupan rumah tangga kedua mempelai dapat semanis lebah madu. Pada bagian kiri-kanan di bawah ron terdapat lima untai biji ketimun, yakni lambang dari jumlah hari (Unajah: 2006: 53)." tulis jurnal itu.

Menurut laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Gapura Jabar, dikatakan mahkota itu menjadi representasi pola tiga atau Tritangtu yang selama ini telah menjadi pegangan orang Sunda baik secara sadar atau tidak.

"Mahkota itu memiliki tiga susunan yang merupakan representasi dari konsep Sunda Tritangtu. Konsep ini membangun pemikiran tentang silih asah, silih asih, silih asuh yang artinya saling berbagi ilmu, menyayangi dan membimbing."

"Adapun, wujud hias bunga wijaya kusuma dan burung julang dalam Mahkota Binokasih menggambarkan makna kesetiaan, ketulusan, dan kekuatan itikad." tulis laman itu.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: WN China Diserang Gerombolan Bermotor Pengguna Narkoba di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads