Sentuhan Jayol Sulap Limbah Jadi 'Ayam Jago' Bernilai di Indramayu

Sentuhan Jayol Sulap Limbah Jadi 'Ayam Jago' Bernilai di Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Jumat, 01 Mei 2026 20:00 WIB
Jayol dan ayam replika buatannya
Jayol dan ayam replika buatannya (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Sekilas, ayam-ayam jago di Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, tampak hidup. Posturnya tegak, bulunya rapi, bahkan sorot 'matanya' terasa nyata. Namun siapa sangka, semua itu hanyalah replika dibuat dari limbah busa, sandal bekas, kaos tak terpakai, hingga bulu ayam asli.

Di balik karya unik ini, ada sosok Tarjaya, yang lebih dikenal dengan panggilan Jayol.

Pria kelahiran 1984 ini bukan lulusan perguruan tinggi. Ia hanya menamatkan pendidikan hingga SMP. Namun jalan hidupnya justru membawanya pada berbagai pengalaman kerja; dari kuli bangunan di Jakarta hingga tukang permak pakaian di Batam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga akhirnya, sebuah peristiwa sederhana mengubah arah hidupnya.

ADVERTISEMENT

Pada 2016, ayam jago kesayangannya mati. Alih-alih membuang begitu saja, Jayol menyimpan bulunya. Dari situlah muncul ide tak terduga: membuat replika ayam kesayangannya sendiri.

"Awalnya cuma iseng," ujar Jayol, saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

Setelah selesai, ia memotret hasil karyanya dan mengunggahnya ke Facebook. Di luar dugaan, respons netizen sangat besar. Banyak yang tertarik, bahkan ingin membeli. Dari situlah usaha ini dimulai.

Bagi Jayol, membuat replika bukan sekadar meniru bentuk. Ada prinsip yang selalu ia pegang: kejujuran dan detail.

Menurutnya, di era penjualan online, kepercayaan adalah segalanya. Sekali mengecewakan pelanggan, usaha bisa langsung berhenti.

Selain itu, detail menjadi nilai utama. Posisi bulu harus menyerupai ayam asli. Warna dan tekstur harus mendekati kenyataan. Bahkan jenis bulu pun disiasati dengan cermat; misalnya menggunakan bulu ayam tertentu untuk meniru bulu burung lain yang lebih mahal. Hasilnya? Replika yang nyaris tak bisa dibedakan dari aslinya.

Kini, usaha Jayol tidak lagi dikerjakan sendiri. Ia dibantu sekitar delapan orang, masing-masing dengan tugas berbeda; mulai dari membuat rangka tubuh, kepala, kaki, mengecat, hingga memasang bulu.

Dalam sehari, mereka mampu memproduksi sekitar 10 replika ayam jago.

Jayol dan ayam replika buatannyaJayol dan ayam replika buatannya Foto: Burhannudin/detikJabar

Harga jualnya berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung tingkat kerumitan. Pasarnya pun sudah meluas ke seluruh Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Dalam sebulan, Jayol bisa meraih omzet kotor hingga Rp10 juta.

Lebih dari sekadar bisnis, usaha ini juga memberi dampak sosial. Jayol merekrut warga sekitar untuk bekerja, membantu mengurangi pengangguran di lingkungannya.

"Yang terpenting bukan sekadar keuntungan, tetapi bagaimana usaha ini bisa bermanfaat bagi orang lain," katanya.

Meski terlihat lancar, usaha ini tetap memiliki kendala. Salah satunya adalah cuaca.

Saat musim hujan, proses pengeringan cat menjadi lebih lama. Pernah pula ia mencoba mengeringkan dengan cara dipanaskan menggunakan kompor, replikanya ditaruh di atas kompor agar terkena hawa panas dari kompor, namun berujung kegagalan karena bahan yang digunakan mudah terbakar.

"Karena catnya saya campur tiner, jadinya kebakar sampe gosong," ungkapnya. Dari situ, ia belajar bahwa setiap proses punya risikonya sendiri.

Meski dikenal lewat replika ayam jago, Jayol sebenarnya tidak membatasi kreativitasnya. Ia pernah membuat replika burung murai hingga hewan lain seperti harimau, dengan teknik serupa.

Semua berawal dari satu hal sederhana, melihat peluang dari sesuatu yang dianggap tidak berguna.

Dari limbah, ia menciptakan karya bernilai, bahkan membuka jalan hidup baru, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads