Kisah Kardi, Pelestari Caping Indramayu yang Tak Lekang Zaman

Kisah Kardi, Pelestari Caping Indramayu yang Tak Lekang Zaman

Burhannudin - detikJabar
Sabtu, 25 Apr 2026 11:30 WIB
Kardi sedang mengecat topi caping.
Kardi sedang mengecat topi caping. Foto: Burhannudin/detikJabar
Indramayu -

Di tengah perubahan zaman yang serba modern, sosok Kardi (75) tetap setia menjaga warisan budaya lokal. Pria asal Desa Mekargading, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu ini telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya sebagai perajin topi tradisional khas daerah, yang dikenal dengan sebutan 'caping'.

Perjalanan Kardi sebagai perajin tidak dimulai begitu saja. Ia telah melalui berbagai pekerjaan keras sebelum akhirnya menekuni kerajinan bambu.

"Sebelum membuat cotom caping, saya pernah berjualan bambu dari Majalengka dan juga jualan nanas dari Subang," kenangnya, saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, saat berjualan bambu, ia harus menembus hutan di Majalengka yang sulit dilalui kendaraan bermotor saat mengambil bambu.

ADVERTISEMENT

Sejak 1987, saat anak sulungnya masih duduk di bangku sekolah dasar, Kardi mulai serius membuat caping. Bersama sang istri, ia membesarkan empat orang anak -dua laki-laki dan dua perempuan- dari hasil kerajinan tersebut.

Tak hanya caping, ia juga membuat 'cepon', wadah tradisional berbahan bambu yang dulu banyak digunakan masyarakat.

Pada masa jayanya, caping menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat Indramayu yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Kerajinan ini bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal.

"Dulu ramai, persaingan juga sehat antar tetangga," ujarnya.

Di waktu itu, Kardi bisa meraup untung (bersih) kurang-lebih Rp5 juta dalam sebulan pada periode 1987 hingga 1990-an awal. Memasuki tahun 1990-an akhir hingga 2000-an, Kardi meraup untung bersih hingga Rp20 juta.

Namun, zaman terus berubah. Kini, topi hadir dalam berbagai bentuk dan bahan yang lebih modern. Permintaan terhadap caping pun menurun drastis. Selain itu, para pembuat anyaman bambu juga semakin berkurang.

"Dulu saya bisa beli anyaman bambu dari Majalengka Rp10 sampai 15 juta. Sekarang produksinya berkurang, yang buatnya juga sudah sedikit," tutur Kardi.

Meski demikian, ia tetap bertahan. Nama Kardi sudah dikenal luas sebagai salah satu perajin caping yang masih aktif. Di usianya yang tidak lagi muda, semangatnya tak surut. Baginya, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga kesehatan dan mengisi hari. Anak-anaknya sudah menikah semua.

Meski tidak ada yang meneruskan dirinya, namun ia bangga karena semua anaknya sudah bisa mandiri secara finansial; anak sulung memiliki bengkel las, anak kedua membuka jasa rias pengantin, anak ketiga menyediakan penyewaan sound system, dan anak terakhir menjadi guru. Kini ia hanya membuat caping untuk menghidupi dirinya dan sang istri.

"Saya hanya ingin tetap beraktivitas agar sehat," katanya. Setiap pagi, Kardi masih rutin bersepeda. Siang harinya, ia melanjutkan membuat caping dengan ketelatenan yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Kardi adalah potret keteguhan seorang penjaga tradisi. Di saat banyak orang beralih ke pekerjaan lain, ia memilih bertahan, merawat warisan budaya yang kian tergerus zaman. Kisah hidupnya bukan sekadar tentang kerajinan bambu, tetapi tentang dedikasi, ketekunan, dan cinta pada tradisi yang tak lekang oleh waktu.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads