Kisah Kusnandar Melawan Stigma Lewat Selada Hidroponik di Pangandaran

Kisah Kusnandar Melawan Stigma Lewat Selada Hidroponik di Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Senin, 27 Apr 2026 09:30 WIB
Kebun Green House Hidroponik Kusnandar di Pangandaran
Kebun Green House Hidroponik Kusnandar di Pangandaran (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Di tengah anggapan sebagian anak muda bahwa bertani adalah pekerjaan yang kuno dan kurang bergengsi, Kusnandar (28) justru memilih jalan berbeda. Ia menyulap lahan kosong di belakang rumahnya menjadi kebun produktif dengan metode hidroponik, sebuah langkah yang kini mulai membuahkan hasil.

Perjalanan Kusnandar dimulai pada 2025, saat hadirnya program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang baru bagi komoditas sayuran. Melihat potensi tersebut, ia memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam selada secara hidroponik. Berbekal pembelajaran otodidak dari YouTube, ia merintis usahanya dari satu papan tanam sederhana.

Seiring waktu, upaya kecil itu berkembang. Melalui kelompok Taruna Tani Mekar Bayu, Kusnandar mulai mengajak pemuda setempat untuk terlibat dalam pertanian modern, khususnya budidaya hidroponik. Komoditas selada dipilih karena permintaan pasar lokal yang cukup tinggi dan stabil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alasan menanam seladah dengan sistem hidroponik karena metode ini dinilai lebih efisien ramah lingkungan dan mampu menghasilkan produk yang lebih bersih segar serta berkualitas tinggi," ucap Kusnandar belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Kualitas hasil panen yang baik membuat selada hidroponik miliknya diminati berbagai pihak, mulai dari dapur hingga pedagang pasar.

"Karena bagus kualitasnya dan tidak terlalu banyak yang dibuang," katanya.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Di awal merintis, Kusnandar sempat kesulitan mendapatkan pembeli karena keterbatasan jaringan dan kepercayaan pasar.

"Dulu mah buat kebutuhan sendiri, paling yang beli tetangga," ucapnya.

Kebun Green House Hidroponik Kusnandar di PangandaranKebun Green House Hidroponik Kusnandar di Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Perubahan mulai terjadi ketika ia mencoba menawarkan produknya ke dapur program MBG. Respons positif yang diterima menjadi titik balik usahanya. Permintaan meningkat, dan Kusnandar pun mulai memperluas skala produksi dengan membentuk kelompok tani.

"Setelah itu saya bangun kelompok tani biar pemberdayaan warga setempat," katanya.

Saat ini, dari lahan yang ada, kelompoknya mampu memproduksi lebih dari satu kuintal selada setiap hari. Sistem hidroponik yang digunakan memungkinkan panen dilakukan secara bergilir karena usia tanam yang berbeda-beda.

"Alhamdulillah sekali kirim kelompok kami bisa mencapai 1 kwintal, dengan masa panen sehari sekali, karena usia sebidang hidroponiknya beda-beda bisa tiap hari panen," terangnya.

Meski demikian, permintaan pasar sebenarnya mencapai dua kuintal per hari, sementara kapasitas produksi mereka baru mampu memenuhi setengahnya.

Hasil penjualan yang diperoleh tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga kembali diinvestasikan untuk pengembangan usaha, termasuk perbaikan fasilitas dan pembagian hasil kepada anggota kelompok.

"Perbaikan-perbaikan fasilitas hidroponik dan honor kelompok, kita bagi hasil rata," katanya.

Kusnandar pun mengajak generasi muda untuk tidak terpaku pada stigma terhadap dunia pertanian. Menurutnya, setiap usaha memiliki peluang untuk berkembang jika dijalani dengan kesungguhan.

"Karena saya pikir, kita tidak akan tahu usaha mana yang kita kerjakan dan membawa keberkahan," ucapnya.

Secara kasat mata, selada hidroponik hasil budidayanya tampak lebih segar dan bersih karena tidak bersentuhan langsung dengan tanah, melainkan menggunakan media tanam khusus. Saat ini, terdapat dua greenhouse yang dikelola oleh delapan warga lokal di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

Untuk memperluas sumber pendapatan, Kusnandar bersama kelompoknya juga mulai mengembangkan budidaya komoditas lain seperti anggur, tomat, dan timun dengan metode hidroponik. Upaya ini menjadi langkah lanjutan dalam membangun pertanian modern yang berkelanjutan di tingkat desa.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads