Topi Caping, Warisan Lawas Penahan Panas di Indramayu

Topi Caping, Warisan Lawas Penahan Panas di Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Senin, 27 Apr 2026 10:00 WIB
Topi Caping khas Indramayu
Topi Caping khas Indramayu (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Memasuki musim kemarau, cuaca di Kabupaten Indramayu terasa panas sekali. Di musim tersebut, orang-orang Indramayu menggunakan topi untuk menutupi kepalanya dari sengatan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.

Suhu di Bumi Wiralodra yang bisa mencapai 40 Β°C pada waktu-waktu tertentu, disiasati oleh orang-orang di zaman dahulu untuk membuat cotom caping -penutup kepala khas Indramayu yang berbahan dasar bambu- adapun cotom sendiri adalah bahasa Indramayu yang artinya topi, sedangkan caping merujuk pada bentuk topi tersebut yang mengerucut ke atas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di era saat ini, penutup kepala sudah sangat bervariasi, banyak juga tren dari luar negeri. Namun sebagian orang memilih bertahan dengan topi tradisional, salah satunya adalah Kardi (75), di Desa Mekargading, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu.

"Ada satu lagi yang masih bertahan, tapi jarang produksi lagi karena sering sakit-sakitan," ujar Kardi, saat ditemui di kediamannya, Selasa (21/4/2026).

ADVERTISEMENT

Sebenarnya, Kardi hanya mengerjakan finishing -dirapikan, dicat dan dilukis. Sedangkan proses menganyam bambu dilakukan oleh orang lain di desanya. Kardi membeli anyaman bambu tersebut, kemudian dikerjakan olehnya membentuk sebuah topi yang kelak disebut cotom caping jika sudah jadi.

Di rumah produksi yang bernama "Sumber Cotom" itu, Kardi bercerita bahwa ia mulai menggarap cotom caping sejak 1987. Saat itu, bapak empat anak ini mengaku anak sulungnya masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Saat itu banyak yang buat, tapi cotom caping ini sudah ada sejak bapak saya bahkan kakek saya. Berarti sudah 40 tahun lebih," katanya.

Topi Caping khas IndramayuTopi Caping khas Indramayu Foto: Burhannudin/detikJabar

Ada berbagai jenis cotom caping, antara lain: slemanan, kulater, enjot, dan kucluk. Kardi menjualnya mulai dari Rp25 ribu hingga Rp60 ribu.

Saat ini, rumah produksi Sumber Cotom milik Kardi sudah dikenal hingga ke seluruh penjuru Indramayu. Ia sering menerima pesanan dari Kecamatan Juntinyuat, Kecamatan Lelea, hingga ke Indramayu bagian barat.

Sejak awal, Kardi tidak pernah menjajakan langsung barang dagangannya. Ia menerima warga setempat yang bersedia menjualkan dagangan menggunakan sepeda berkeliling keluar-masuk desa.

"Kayak gitu aja dari awal sampai sekarang, nanti yang terjual berapa tinggal dihitung saja terus bagi hasil. Muter-muter sampai ke Lelea, Losarang. Dan sekarang kelilingnya sudah pakai motor," ungkap Kardi.

Tidak hanya di Indramayu, ia bahkan sering mengirim cotom caping ke Provinsi Banten. Satu kali pengiriman bisa mencapai 50 buah cotom caping. Sedangkan dalam satu bulan bisa empat kali pengiriman.

Topi Caping khas IndramayuTopi Caping khas Indramayu Foto: Burhannudin/detikJabar

"Kalau musim panen itu 'mremah' banyak cotom yang terjual, terus ke Banten juga sudah tiga tahun terakhir ini masih sering kirim ke sana," ujar Kardi yang sedari tadi didampingi putri bungsunya.

Di usia senja, Kardi masih berusaha mempertahankan topi tradisional Indramayu sembari berharap kondisi fisiknya tetap sehat. Karena ia sadar, banyak teman sebayanya yang berhenti memproduksi topi karena sakit.

"Saya masih sering naik sepeda kalau pagi, terus juga selalu beraktivitas setiap hari, dari situ saya berharap selalu sehat," pungkasnya.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads