Jejak Panjang Bandung sebagai Kota Musik

Zaenab Nurhabibah - detikJabar
Selasa, 29 Sep 2026 21:00 WIB
Ilustrasi. (Foto: Unsplash/Matt Botsford)
Bandung -

Dijuluki sebagai Kota Musik, Bandung memiliki sejarah panjang dalam perkembangan musik Indonesia, terutama dari skena independen dan underground.

Berbagai genre tumbuh di Bandung, mulai dari rock, punk, metal, pop, alternatif, hingga indie. Sejumlah band yang lahir dan berkembang di Kota Kembang bahkan berhasil membawa musik mereka ke panggung nasional dan internasional.

Tak heran jika Bandung kemudian kerap disebut sebagai salah satu kota penting dalam perkembangan musik Indonesia.

Bandung dan Perkembangan Musik Independen

Perkembangan musik independen Bandung semakin terlihat sejak era 1990-an. Pada masa tersebut, banyak musisi memilih membuat, merekam, memasarkan, dan mendistribusikan karya mereka secara mandiri atau dengan semangat Do It Yourself (DIY).

Salah satu tonggak pentingnya adalah PAS Band. Berdasarkan Naskah Akademik Kota Bandung, PAS Band menjadi salah satu tonggak awal perkembangan musik indie di Bandung dan tercatat merilis mini album Four Through The S.A.P. secara independen pada 1993. Album tersebut disebut terjual sekitar 5.000 kopi dalam waktu singkat.

Pergerakan tersebut kemudian diikuti oleh sejumlah nama lain, termasuk Pure Saturday dan band-band independen lainnya.

Ekosistem musik Bandung pun berkembang bukan hanya melalui band, tetapi juga radio, studio, toko kaset, distro, komunitas, hingga tempat pertunjukan.

Ujungberung Jadi Akar Musik Underground Bandung

Ketika berbicara musik underground Bandung, nama Ujungberung hampir tidak bisa dilepaskan.

Kawasan di bagian timur Kota Bandung ini dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan musik metal dan underground sejak akhir 1980-an hingga 1990-an. Komunitas Ujungberung Rebels kemudian menjadi bagian penting dari pergerakan tersebut.

Para musisi dan komunitas di Ujungberung tidak hanya membuat lagu, tetapi juga membangun ekosistem sendiri. Mereka membuat rekaman, mendistribusikan karya, menerbitkan zine, hingga menggelar pertunjukan musik.

Pada Maret 1995, komunitas Ujungberung Rebels menerbitkan Revograms Zine yang berisi informasi mengenai musik metal dan skena Ujungberung.

Mereka juga menggagas Bandung Berisik, sebuah perhelatan musik metal yang pertama kali digelar di Lapangan Kalimas Ujungberung pada 23 September 1995.

Dari kawasan ini kemudian muncul nama-nama seperti Jasad, Forgotten, Burgerkill, dan berbagai kelompok musik metal lainnya. Bahkan, jumlah band metal aktif di Ujungberung berkembang dari sekitar 20 band pada 1998 menjadi ratusan band satu dekade kemudian.

Saparua, Salah Satu Titik Penting Musik Bandung

Selain Ujungberung, ada satu tempat yang begitu lekat dengan sejarah musik Kota Bandung, yakni GOR Saparua.

GOR dan Taman Saparua di Jalan Saparua menjadi tempat berbagai pertunjukan musik sejak beberapa dekade lalu. GOR yang dibangun pada 1961 untuk menyambut PON V Jawa Barat itu kemudian berkembang menjadi ruang pertunjukan dan ekspresi kebudayaan.

Memasuki era 1970-an, musik rock mulai sering tampil di Saparua. Nama Harry Roesli juga tercatat pernah meramaikan panggung tersebut.

Memasuki era 1980-an dan 1990-an, Saparua semakin identik dengan pertunjukan rock, punk, metal dan musik underground.

Tempat ini menjadi titik temu berbagai komunitas. Burgerkill, Jasad, PAS Band, Pure Saturday, Puppen, Forgotten, dan sejumlah band lainnya pernah merasakan panggung Saparua.

Bahkan, Pure Saturday pernah menjadi juara Festival Unplugged di Gedung Saparua pada Mei 1994. Momen tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan band yang kemudian dikenal sebagai salah satu nama penting dalam musik independen Indonesia.




(orb/orb)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork