Bandung sejak lama dikenal sebagai gudangnya para band dan musisi legendaris tanah air. Era tahun '90-an hingga tahun 2000-an menjadi momen emas di mana band indie berbagai genre berkembang subur di Kota Kembang, menjadi pionir di kancah nasional.
Pada Sabtu (19/9/2026) di Laswi Heritage Bandung, sejumlah musisi tersebut berkumpul di satu panggung musik yang penuh nostalgia bertajuk Timeless Project. Sesuai namanya, para pengunjung diajak untuk merayakan musik-musik yang lahir hingga dua dekade lalu dan tak lekang zaman.
Panggung dibuka dengan penampilan Under The Big Bright Yellow Sun dengan musik post-rock instrumentalnya yang menghentak. The Panturas tampil kemudian, membawa massa dari generasi yang lebih muda lewat penampilan energik mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bottlesmoker dan Sarasvati menjadi penampil yang banyak dinanti. Dua band yang sempat menjadi "raja pensi" di medio 2010-an tersebut kembali hadir menyuguhkan penampilan khas masing-masing.
Lewat "Story of Peter", Risa Saraswati, vokalis Sarasvati, menghadirkan nuansa "mistis" yang selalu identik dengan penampilan band yang telah lama hiatus tersebut. Sementara Bottlesmoker menyulap buah nanas dan buah naga menjadi bagian dari instrumen musik eksperimental mereka.
Ketika La Luna tampil, koor penonton pun tercipta pada lagu-lagu legendaris seperti "Selepas Kau Pergi" dan "Membekas di Hati".
Panggung yang sempat terhenti akibat hujan akhirnya kembali panas saat Pure Saturday naik pentas. Band indie pop tersebut membawa suasana nostalgia lewat hits mereka seperti "Kosong", "Spoken", dan "Elora" yang disambut sing along penonton.
Teenage Death Star menjadi line-up yang membuat suasana semarak semakin memuncak. Tampil dengan format full personil, Sir Dandy dkk hadir menghentak panggung lewat "I Kiss Your Sister in The Kitchen" hingga "Skill is Dead". Kolaborasi bersama Acin, vokalis The Panturas, disambut riuh sorak sorai pengunjung.
Menjelang malam, Mocca hadir dengan musik-musik manis dan romantisnya, diiringi permainan flute Arina yang apik. Lagu-lagu ikonik seperti "The Best Thing", "Secret Admirer" hingga "Remember" tak luput dibawakan.
Alih-alih menyurutkan semangat pengunjung, rintik hujan justru menambah syahdu aksi panggung The Milo yang tampil kemudian. Lewat musik shoegaze-nya yang penuh melankoli, mereka seolah membawa pengunjung "mengawang" ke alam lamunan.
"Daun dan Ranting Menuju Hujan" jadi penutup, disertai momen mengheningkan cipta bagi warga Indonesia di berbagai daerah yang saat ini masih terdampak bencana.
"Mari doakan saudara-saudara kita yang terdampak bencana di berbagai daerah, juga para relawan yang berjuang memulihkan keadaan di sana," ungkap Ajie, sang vokalis.
Panggung Enerjik "Full Joget"
Doel Sumbang barangkali menjadi line-up paling senior sekaligus yang mampu menyatukan pengunjung lintas generasi untuk bergoyang bersama.
Dibuka lewat "Ai", "Rindu Aku Rindu Kamu", serta iringan musik pop Sunda khasnya, aksi joget massal pun jadi tak terelakkan. Massa semakin panas ketika "Runtah" dinyanyikan.
"Runtah ini adalah lagu yang dirilis tahun 90-an, dan sebenarnya bukan jagoan. Tapi tiba-tiba sempat viral dan meledak di seluruh media sosial," ungkap Doel Sumbang.
Timeless Project juga jadi panggung yang istimewa bagi The Changcuters, karena bertepatan dengan ulang tahun ke-22 mereka. Selama dua dekade berkarya, aksi yang penuh energi selalu jadi hal yang identik dari band rock n roll tersebut.
Malam itu, mereka membawakan sejumlah hits seperti "Gila-gilaan", "Racun", "I Love U Bibeh" hingga "Main Serong" yang tak henti-hentinya disambut riuh tepuk tangan serta teriakan pengunjung.
"Kami overwhelmed malam ini karena sepanggung dengan band-band legendaris dari Bandung yang sudah menginspirasi The Changcuters," ungkap Tria, sang vokalis.
Lagu terbaru mereka "Ruang Riang" juga turut dibawakan sebagai persembahan bagi para fans.
Tak berselang lama, line-up terakhir yakni DT09 naik pentas. Band yang identitasnya melekat dengan kecintaan mereka terhadap Persib tersebut menyanyikan sejumlah lagu yang tak lagi asing di telinga para Bobotoh seperti "Bandung Belongs to Me" hingga "Bersama Kembali".
Legenda Persib Bandung, Zaenal Arief alias Abo turut tampil bernyanyi dalam lagu "Kebanggaan Bandung". Kolaborasi tersebut disambut sorak tepuk tangan pengunjung.
Chant "Take Me Home, Persib Road" pun jadi penutup panggung Timeless Festival yang apik malam itu.
(iqk/iqk)
