Cerita Mahasiswa Australia Gali Sejarah Golok Cikeruh yang Melegenda

Golok Langka Sumedang

Cerita Mahasiswa Australia Gali Sejarah Golok Cikeruh yang Melegenda

Nur Azis - detikJabar
Minggu, 13 Mar 2022 20:00 WIB
Cerita Mahasiswa Australia Gali Sejarah Golok Cikeruh yang Melegenda
Golok Cikeruh Sumedang (Foto: Nur Azis/detikJabar).
Sumedang -

Kawasan Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang awalnya dikenal dengan para perajin golok atau pedang, sebelum pada masa kolonial Belanda. Maka tidak heran hingga kini kawasan tersebut suka didatangi oleh sejumlah kolektor benda pusaka ataupun peneliti baik domestik atau pun luar negeri.

Seperti penuturan Satrio Nugraha kepada detikJabar beberapa hari lalu. Menurut cerita orang tua, kata Satrio, kawasan Cikeruh dulunya memang dikenal sebagai daerah perajin senjata tajam atau daerah para pandai besi termasuk sesepuhnya dulu.

"Jadi kata cerita orang tua dulu, di Cikeruh itu dulunya dikenal sebagai tempatnya para pandai besi atau mata pencahariannya membuat senjata tajam untuk kebutuhan Kerajaan Sumedang Larang sebelum jadi sentra senapan angin seperti sekarang," ungkap Satrio.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satrio Nugraha sendiri merupakan generasi kelima dari keturunan Soemadimadja. Soemadimadja sendiri merupakan salah satu pioner perajin senapan di kawasan Cikeruh pada masa kolonial Belanda. Sesepuh Soemadimadja diketahui merupakan seorang pandai besi cukup ternama pada masa itu.

Seluruh keluarga Satrio telah mengetahui tentang cerita asal usul kawasan Cikeruh yang dulunya merupakan kawasan para pandai besi. Meski begitu, keluarganya tidak menyangka jika golok atau pedang buatan Cikeruh kala itu bisa seterkenal itu bahkan dikenal oleh orang dari luar negeri.

ADVERTISEMENT

Satrio mengatakan, meski tidak sempat mengingat namanya, keluarganya baru mengetahui kemasyhuran golok Cikeruh setelah kakak sepupunya bernama Sugeng (almarhum) didatangi oleh salah satu mahasiswa dari Australia yang sedang melakukan penelitian.

"Jadi saat itu sekitar tahun 2017 ada seorang mahasiswa Australia yang sedang penelitian datang ke kakak sepupu saya (Alm.Sugeng) dan memperlihatkan foto-foto dalam bentuk jpeg tentang bentuk rupa golok Cikeruh, foto-foto heubeul (lawas) sesepuhnya dan foto lainnya," terangnya.

Kepada kakak sepupunya, tutur Satrio, orang Australia itu memaparkan tentang sejarah dan keunikan dari golok Cikeruh. Bahkan, orang Australia itu mengaku sampai rela pergi ke Belanda untuk mengetahui sejarah golok Cikeruh.

"Orang Australia itu mengatakan kepada kakak sepupu saya bahwa naskah Cikeruh banyak tersimpan di Museum Belanda dan banyak foto-foto tentang golok Cikeruh yang ia perlihatkan dan kasih ke kakak saya dalam bentuk (file) jpeg," ucap Satrio.

Sebelum kakak sepupunya meninggal, Satrio diberitahu untuk menyebarkan segala informasi yang telah diberikan oleh orang Australia tersebut, berikut dengan foto-foto terkait Golok Cikeruh.

"Sebelum kakak sepupu saya meninggal, ia sempat berucap kepada saya, tolong ini (informasi dan foto-foto tentang golok Cikeruh) disebarkan agar banyak orang yang melakukan penelitian," kenang Satrio.

Satrio yang saat itu sering nongkrong di Saung Budaya Sumedang (Sabusu) kemudian memberitahukan terkait informasi tersebut. Komunitas Sabusu sendiri merupakan komunitas yang sering mengkaji terkait budaya di sekitaran kawasan Jatinangor termasuk Cikeruhan.

"Lalu oleh Orang-orang di Sabusu diperdalam terkait sejarah bedog atau golok Cikeruhan ini, dari sana juga disebarkan data-data terkait Cikeruhan kepada para mahasiswa yang mau melakukan penelitian serta masyarakat umum," papar Satrio.

Ia berharap dengan banyaknya orang yang mengkaji terkait golok Cikeruh dapat mengangkat kembali warisan budaya dari leluhurnya tersebut. Pasalnya, saat ini informasi terkait golok Cikeruh dan para pandai besinya terbilang jarang.

"Semoga saja dengan banyaknya kajian soal golok Cikeruh dapat menghidupkan kembali warisan budaya leluhurnya," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Kawasan Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang terkenal dengan sentra perajin senapan angin. Akan tetapi, sebelumnya di kawasan ini dikenal sebagai pembuat golok atau pedang terbaik pada masa kolonial Belanda. Kemasyhuran golok Cikeruh bahkan masih dapat dirasakan hingga kini.

Hal itu dapat dilihat jika detikers berselancar di internet. Dengan menggunakan kata kunci 'golok Tjikeroeh', detikers akan mendapati banyak situs luar negeri dan para kolektor dunia yang membahas tentang keunikan golok Cikeruh.

Salah satunya banyak diulas dalam sebuah kanal etnografi di situs vikingsword.com. Berbagai bentuk dan model golok Cikeruhan ditampilkan para kolektor senjata tajam di sana.

Salah satunya golok Cikeruh pada masa kolonial Belanda sekitaran 1888-1920. Di sana disebutkan bahwa bilahnya berbentuk khas Jawa dengan ukiran yang unik, namun didasarkan pada bentuk bilah berburu ala Belanda.

Kendati demikian, pedang itu bukan salinan dari bentuk pedang Eropa. Dengan gagang tulang dan ornamen kuningan di atas dan bawah pegangan golok serta pelindung pegangan berbentuk kerang yang juga berbahan kuningan, menginterprestasikan sebuah pedang dengan nilai artistik khas Cikeruhan yang unik.

Golok atau pedang Cikeruh yang ditampilkan memiliki panjang total 41 centimeter dengan panjang bilah 29 centimeter. Bentuk gagangnya merupakan model belati pemburu atau Hirschfanger.

Golok Cikeruh juga ditampilkan dalam situs Jerman, yakni auktionen-in-heidelberg.de. Disana ditampilkan dua golok awal Cikeruh pada awal abad 20-an. Dua golok tersebut bergagang dengan bentuk kepala elang.

Pada bilah bermata tunggal golok tersebut terdapat ukiran indah. Ukiran itu salah satunya terdapat di kedua sisi ricasso atau bilah yang terdapat di dekat gagang golok. Panjang golok pertama 43 centimeter dan panjang golok kedua 35 centimeter.

(mso/ors)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads