Jalan Cigondewah, sisi barat Kota Bandung, kini khas dengan aroma kain yang tajam, deru mesin jahit yang saling bersahutan, serta deretan gudang tekstil yang berdiri kokoh. Kawasan yang kini masyhur sebagai surga kain ini menyimpan narasi panjang tentang sebuah transformasi luar biasa, dari hamparan sawah hijau yang subur, menjadi pusat ekonomi yang mengolah limbah menjadi peluang hingga menembus pasar mancanegara.
Cigondewah bukan sekadar destinasi berburu kain murah. Tempat ini adalah monumen hidup bagaimana masyarakat Bandung Kulon menyulap keterbatasan menjadi kekuatan ekonomi. Bermula dari usaha rumahan yang mengolah potongan kain sisa pabrik, wilayah ini berevolusi menjadi sentra Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang gaungnya terdengar hingga Asia, Eropa, Amerika, dan Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hikayat di Balik Nama
Secara etimologi, nama Cigondewah diyakini berakar kuat dari bahasa Sunda. Awalan 'ci' merujuk pada air atau sungai, sementara 'gondewa' dalam memori kolektif warga setempat dikaitkan dengan senjata busur panah atau tombak. Sebuah cerita rakyat mengisahkan bahwa nama ini lahir setelah ditemukannya banyak tombak peninggalan masa peperangan di wilayah tersebut.
Meski kisah ini lebih banyak hidup dalam tradisi lisan ketimbang catatan administratif, identitas Cigondewah telah mengakar jauh sebelum kain-kain memenuhi ruko-rukonya. Nama legendaris ini kini menaungi tiga kelurahan di Kecamatan Bandung Kulon yakni Cigondewah Kaler, Cigondewah Kidul, dan Cigondewah Rahayu.
Dahulu, sebelum hiruk-pikuk perdagangan mengambil alih, Cigondewah hanyalah desa kecil seluas 400 hektare. Pemekaran wilayah pada 1982 kemudian membelah wilayah ini menjadi Cigondewah Kaler yang masuk ke wilayah administratif Kota Bandung dan Cigondewah Hilir yang tetap berada di bawah naungan Kabupaten Bandung.
Kota Bandung memiliki banyak alternatif belanja murah untuk persiapan lebaran. Salah satunya di Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC). Foto: Wisma Putra |
Saat Sawah Berganti Menjadi Gudang Kain
Memasuki awal 1990-an, lanskap Cigondewah mulai berubah drastis. Kawasan agraris yang dulunya dikenal sebagai lumbung beras Bandung ini mulai tergerus oleh derap pembangunan kota. Sawah-sawah yang dulu menghijau perlahan berganti fungsi.
Dalam jurnal karya Karto Wijaya berjudul 'Kawasan Cigondewah Terkait Sarana Prasarana Lingkungan Terbangun Sebagai Kawasan Wisata Tekstil Di Kota Bandung' 2017, disebutkan bahwa benih-benih ekonomi tekstil sebenarnya sudah tertanam sejak periode 1960 hingga 1976. Kala itu, aktivitas ekonomi warga masih berkutat pada usaha karung goni untuk kebutuhan petani. Dari interaksi dagang bahan pertanian inilah, masyarakat mulai mengenal seluk-beluk dunia tekstil.
Titik balik yang mengubah wajah Cigondewah terjadi saat warga mulai mengumpulkan potongan kain atau limbah industri tekstil yang tak terpakai. Limbah-limbah tersebut dibersihkan, disortir dengan telaten, lalu dijual kembali. Tak disangka, permintaan pasar melonjak tajam, memicu gelombang warga lainnya untuk ikut terjun ke bisnis serupa.
Senada dengan temuan tersebut, penelitian Herry Marvin berjudul 'Analisis Pemetaan Klaster Inovasi Pada Sentra Industri Produk Tekstil Cigondewah' 2019, mencatat bahwa pada dekade 1980-an, pengolahan kain sisa ini mulai bertransformasi menjadi usaha yang lebih terorganisir. Praktik sederhana mengolah limbah tekstil terbukti mampu menciptakan komoditas dengan nilai jual tinggi. Seiring waktu, pemandangan sawah pun hilang, berganti dengan deretan ruko, gudang, dan ruang usaha keluarga yang menjadi tulang punggung ekosistem industri tekstil Bandung.
Era Kain Kiloan dan Modernisasi
Geliat perdagangan kain di Cigondewah mulai menampakkan bentuk modernnya pada awal 1982. Jika dulu transaksi hanya dilakukan di teras rumah atau kios darurat di tepi jalan, kini pembeli dimanjakan dengan berbagai kawasan belanja terpadu seperti Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC), Pusat Tekstil Cigondewah (PKC), hingga Area Tekstil Darussalam (ADT).
Salah satu magnet utama yang membuat orang rela datang dari jauh adalah sistem penjualan kain kiloan. Di sini, pembeli bisa mendapatkan kain sisa produksi atau kain dengan sedikit cacat (BS) dengan harga yang sangat miring. Hal ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha konveksi kecil, pencari bahan seragam, hingga desainer pemula.
Pilihan kainnya pun sangat komplet, mulai dari katun, satin, songket, batik, twill, taslan, hingga berbagai bahan pelapis. Kelengkapan koleksi ini mengukuhkan Cigondewah sebagai kiblat bagi para pelaku industri kreatif dan fesyen. Pemerintah Kota Bandung sendiri telah meresmikan kawasan ini sebagai pusat penjualan kain sejak 2007, setelah reputasinya sebagai sentra kain terbesar di Bandung tak lagi terbantahkan sejak awal milenium.
Kota Bandung memiliki banyak alternatif belanja murah untuk persiapan lebaran. Salah satunya di Kawasan Tekstil Cigondewah (KTC). Foto: Wisma Putra |
Menjadi Tulang Punggung Ekonomi dan Wisata
Cigondewah kini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan mesin penggerak ekonomi yang vital bagi Bandung. Ribuan warga menggantungkan hidupnya di sini, mulai dari buruh angkut, penjahit, pedagang aksesori, hingga pengusaha konveksi besar.
Pengakuan atas kontribusi besar ini tertuang dalam kebijakan resmi pemerintah. Melalui Surat Keputusan Walikota Bandung Nomor '530/Kep.295-DISKUMK.PERINDAG/2009', sentra industri produk tekstil Cigondewah ditetapkan sebagai produk unggulan industri kecil dan menengah Kota Bandung.
Dukungan nyata terus mengalir, termasuk alokasi lahan seluas 10.909 meter persegi untuk Unit Pelayanan Teknis Sentra Industri dan Perdagangan TPT Cigondewah. Fasilitas ini dilengkapi dengan showroom dan gedung pelatihan untuk terus mengasah daya saing perajin lokal.
Kini di tahun 2026, gaung Cigondewah telah melintasi batas samudera. Produk-produknya rutin mengisi pasar di Eropa, Amerika, Australia, Selandia Baru, hingga Jepang. Dengan status barunya sebagai Kampung Kreatif Wisata, Cigondewah berhasil menjaga relevansinya: tetap menjadi pusat perdagangan yang tangguh sekaligus destinasi wisata belanja yang sarat akan nilai sejarah bagi generasi mendatang.
(dir/dir)


