Purwakarta memiliki sejumlah patung ikonik yang menghiasi ruang publik dan menjadi penanda identitas daerah.
Patung-patung tersebut tidak hanya mempercantik sudut kota, tetapi juga menyimpan cerita dan filosofi tersendiri tentang kebudayaan Sunda, tokoh pewayangan, hingga nilai-nilai kepemimpinan.
Berikut 5 patung ikonik di Purwakarta dan makna di baliknya.
1. Patung Menong
untuk memperkenalkan kerajinan khasnya, Pemkab Purwakarta juga tengah membuat 20 patung Menong di gerbang masuk pusat kotanya. Menong adalah patung yang terbuat dari tanah liat dan merupakan ikon dari Plered. Foto: Yudhistira Amran Saleh/detikcom |
Patung Menong menjadi salah satu ikon yang mudah dijumpai di sejumlah titik strategis Kota Purwakarta, beberapa lokasinya antara lain di perempatan Jalan Veteran, dekat Polres Purwakarta, Tugu Perbatasan Sadang, serta sepanjang jalan protokol kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menong merupakan replika boneka atau patung hias berbahan tanah liat yang berasal dari tradisi kerajinan keramik Kecamatan Plered, bentuknya menyerupai sosok anak perempuan dengan wajah bulat, mahkota segitiga, pakaian bernuansa adat, dan warna kulit kuning langsat.
Mengutip dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta, Menong termasuk kerajinan keramik hias khas Plered yang berkembang sebagai produk cenderamata. Kerajinan tanah liat di kawasan tersebut telah dikenal sejak lama, dengan catatan sejarah yang menyebut perkembangannya sekitar 1904.
Pada masa pemerintahan Bupati Dedi Mulyadi, Menong kemudian semakin ditonjolkan sebagai identitas visual Purwakarta melalui bentuk monumen di ruang publik.
Secara filosofis, Menong merepresentasikan sosok perempuan Sunda yang cantik, anggun, dan menggemaskan. Kehadirannya juga menjadi simbol keramahan masyarakat sekaligus kebanggaan terhadap industri kreatif lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
2. Patung Gatotkaca
Patung Gatotkaca berada di tugu persimpangan depan Stasiun Kereta Api Purwakarta, tepatnya di pertemuan Jalan Kolonel Kornel Singawinata dan Jalan Siliwangi.
Patung ini menggambarkan Gatotkaca, tokoh kesatria dalam dunia pewayangan yang dikenal sebagai putra Bima dan Dewi Arimbi serta berasal dari Pringgandani. Sosoknya digambarkan berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada dan ornamen sayap atau badong di bagian punggung.
Pemilihan kawasan stasiun sebagai lokasi patung membuatnya menjadi salah satu pemandangan yang menyambut pendatang ketika tiba di Purwakarta menggunakan kereta api.
Dalam cerita pewayangan, Gatotkaca terkenal dengan julukan otot kawat tulang besi serta kemampuan terbangnya. Karakter tersebut membuatnya identik dengan kekuatan, keberanian, dan ketangguhan.
Di ruang publik Purwakarta, patung ini dapat dimaknai sebagai simbol perlindungan sekaligus gambaran semangat kesatria. Lokasinya di dekat stasiun juga memberi kesan sebagai penjaga gerbang kota yang menyambut masyarakat dan wisatawan.
3. Patung Sri Baduga Maharaja
Taman Sri Baduga Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Patung Sri Baduga Maharaja berada di kawasan Situ Buleud, tepatnya di tengah telaga yang menjadi bagian dari Taman Air Mancur Sri Baduga, Kecamatan Purwakarta.
Patung ini menggambarkan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja dalam posisi duduk bertapa, sosoknya dikelilingi empat patung harimau putih yang memperkuat nuansa kewibawaan dan keterkaitannya dengan tradisi budaya Sunda.
Menurut Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta, Situ Buleud telah menjadi bagian penting dari perkembangan pusat kota sejak masa pemerintahan R.A.A. Suriawinata pada abad ke-19. Kawasan tersebut kemudian ditata dan dikembangkan hingga menjadi Taman Air Mancur Sri Baduga.
Patung Sri Baduga menjadi salah satu elemen visual yang menonjol di kawasan tersebut, sosoknya merepresentasikan penghormatan terhadap leluhur dan sejarah kerajaan Sunda.
Makna yang dilekatkan pada patung ini mencakup kejayaan, kebijaksanaan, serta kepemimpinan yang mengayomi. Nilai "Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh" yang berarti "saling mengasihi, saling mencerdaskan, dan saling membimbing" juga relevan sebagai pengingat pentingnya hubungan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Patung Kereta Kuda Arjuna Wiwaha
Patung kereta kuda Arjuna Wiwaha berada di pertigaan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Raya Ciganea, yang dikenal sebagai Pertigaan BTN. Lokasinya berada di jalur utama menuju kawasan Gerbang Tol Jatiluhur.
Monumen berukuran besar ini menggambarkan kereta kencana yang ditarik 15 ekor kuda putih, di atas kereta terdapat Arjuna yang memegang busur panah dan Batara Kresna yang berperan sebagai kusir.
Kehadiran monumen tersebut memperkuat kesan Purwakarta sebagai kota yang menampilkan unsur seni dan budaya pada ruang publik, termasuk di jalur yang dilalui kendaraan dari dan menuju kawasan perkotaan.
Adegan kereta kuda dapat dibaca sebagai gambaran tentang pentingnya kebijaksanaan dalam mengendalikan kekuatan, Kresna melambangkan akal sehat dan tuntunan, sedangkan Arjuna merepresentasikan kesatria yang harus menentukan arah tindakannya.
Sementara itu, kuda-kuda dapat dimaknai sebagai energi dan dorongan yang perlu diarahkan agar tidak berjalan tanpa kendali. Pesan yang terkandung di dalamnya adalah pentingnya pertimbangan matang, pengendalian diri, dan keberanian dalam memperjuangkan kebaikan.
5. Patung Maung Bodas
Patung Maung Bodas atau harimau putih berada di kawasan Taman Maya Datar, tepat di depan kompleks Kantor Bupati atau Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta.
Dalam tradisi dan cerita masyarakat Sunda, maung atau harimau memiliki kaitan erat dengan simbol kekuatan dan kewibawaan. Harimau putih juga kerap dihubungkan dengan kisah Prabu Siliwangi dan sosok pengawal dalam tradisi lisan masyarakat.
Penempatan Maung Bodas di kawasan pusat pemerintahan memperkuat karakter budaya Sunda pada ruang publik. Area Taman Maya Datar dan Taman Pancawarna sendiri dikenal sebagai bagian dari penataan lingkungan kompleks pemerintahan Purwakarta yang terbuka.
Secara simbolis, Maung Bodas melambangkan keberanian, ketegasan, kewibawaan, dan perlindungan terhadap wilayah. Jika dikaitkan dengan fungsi kawasan tempat patung berdiri, simbol tersebut juga dapat menjadi pengingat bagi aparatur pemerintahan agar menjalankan tugas dengan tegas, menjaga keamanan, serta mengutamakan kepentingan masyarakat.
Kelima patung tersebut menunjukkan bahwa ruang publik Purwakarta bukan sekadar dihiasi monumen, tetapi juga menjadi tempat untuk menampilkan identitas budaya dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
(yum/yum)


