Fermentasi Kopi Nanas Asal Lembang Tembus Pasar Timur Tengah

Fermentasi Kopi Nanas Asal Lembang Tembus Pasar Timur Tengah

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 31 Agu 2026 05:00 WIB
Petani kopi asal Lembang mengecek produk yang akan diekspos
Petani kopi asal Lembang mengecek produk yang akan diekspos (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung Barat -

Petani kopi di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berhasil mencatatkan sejarah baru. Kopi Arabika Gunung Tangkuban Parahu hasil kini mampu menembus pasar Timur Tengah melalui ekspor mandiri ke Arab Saudi.

Pada pengiriman perdana ini, sebanyak 4 ton kopi diberangkatkan dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp800 juta. Pelepasan ekspor perdana hasil kolaborasi Tonas Kopi dan Kelompok Tani Arjuna tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail.


Tak sekadar kopi biasa, komoditas yang dikirim merupakan hasil inovasi unik berupa fermentasi biji kopi hijau (green bean) dengan buah nanas. Kopi tersebut mampu diterima lidah pecinta kopi di Timur Tengah.

"Alhamdulillah, sekarang salah satunya berhasil ke Arab Saudi. Capaian ini tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak yang terus mendampingi petani dan UMKM kita," ujar Asep Ismail, Minggu (30/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asep mengatakan keberhasilan ekspos kopi dari Cibodas, Lembang ini menambah daftar panjang produk ekspos asal Bandung Barat. Sebelumnya, kopi asal Gununghalu, berhasil menembus pasar Jepang.

"Alhamdulillah sudah banyak produk asal Bandung Barat yang diterima pasar luar negeri. Informasinya, kopi dari Lembang juga tahun depan ditargetkan tembus pasar Jepang. Semoga ini juga bisa diikuti produk lainnya asal Bandung Barat," kata Asep.

ADVERTISEMENT

Manajer Tonas Kopi sekaligus petani milenial, Dikdik Ramdaniansyah mengatakan keberhasilan ini bukanlah proses instan. Perjalanan menuju ekspor mandiri telah dirintis sejak dirinya terjun ke dunia kopi pada 2015.

Peluang ke Arab Saudi terbuka berkat jejaring kerjanya. Sebelum pesanan dikunci, Dikdik mengirimkan lima sampel kopi dengan metode fermentasi berbeda, mulai dari olahan gula merah, stroberi, nanas, ragi, hingga tanpa campuran. Hasilnya, pembeli di Riyadh jatuh hati pada karakter rasa kopi fermentasi nanas.

"Awalnya mereka memesan 25 ton. Namun karena kapasitas produksi dan situasi saat ini belum memungkinkan, kami baru sanggup memenuhi pengiriman tahap pertama sebanyak 4 ton," ungkap Dikdik.

Kini, tantangan utama yang dihadapi adalah menjaga ketersediaan bahan baku. Saat ini Tonas Kopi telah menyerap sekitar 50 ton ceri kopi dari petani lokal Desa Cibodas.

"Kalau permintaan tahun depan melonjak dua hingga tiga kali lipat sesuai proyeksi pembeli, kebutuhan bahan baku diperkirakan akan menembus lebih dari 100 ton," kata Dikdik.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads