UEA Pamit dari OPEC!

Kabar Internasional

UEA Pamit dari OPEC!

Ret - detikJabar
Rabu, 29 Apr 2026 13:30 WIB
The Emirati flag flutters in Abu Dhabi on January 23, 2026. (AFP)
UEA (Foto: dok. AFP).
Jakarta -

Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menyatakan pengunduran diri dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terhitung mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diprediksi akan memetakan ulang peta kekuatan pasar minyak global sekaligus melemahkan dominasi Arab Saudi.

Melansir laporan CNBC International, Rabu (29/4/2026), keputusan tersebut diperkirakan bakal memicu tekanan sentimen negatif terhadap harga minyak dalam jangka panjang. Hal ini mengingat posisi UEA sebagai salah satu anggota OPEC yang paling berpengaruh setelah Arab Saudi.

Menurut Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge LeΓ³n, UEA kini memegang kendali signifikan atas kapasitas produksi cadangan (spare capacity) dunia. Secara kolektif, Arab Saudi dan UEA menguasai mayoritas total kapasitas cadangan global yang mencapai lebih dari 4 juta barel per hari. Gabungan kekuatan kedua negara tersebut biasanya digunakan sebagai instrumen untuk menstabilkan harga saat terjadi krisis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Oleh karena itu, keluarnya UEA menghilangkan salah satu pilar utama yang menopang kemampuan OPEC dalam mengelola pasar," kata LeΓ³n.

Keputusan UEA untuk meninggalkan OPEC mulai 1 Mei ini disinyalir berkaitan dengan rentetan serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) selama beberapa pekan yang dituduhkan kepada Iran. Serangan terhadap jalur pengiriman di Selat Hormuz tersebut dilaporkan telah menghambat ekspor minyak dan mengancam fondasi ekonomi UEA.

Namun, pihak UEA membantah spekulasi tersebut. Menteri Energi Suhail Al Mazrouei menyatakan bahwa proses keluarnya UEA telah diatur sedemikian rupa guna meminimalkan gangguan bagi sesama produsen dalam kelompok tersebut.

Al Mazrouei menegaskan bahwa pihaknya ingin memiliki kedaulatan lebih dalam menentukan kebijakan produksi secara mandiri. UEA menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga mencapai 5 juta barel per hari pada tahun 2027.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai hengkangnya UEA dipicu oleh rasa tidak nyaman terhadap aksi beberapa anggota lain, seperti Irak dan Rusia (OPEC+), yang kerap melanggar kuota produksi. Sementara itu, UEA merasa tertekan karena diwajibkan patuh pada kebijakan pemotongan produksi demi menjaga harga tetap tinggi.

"Ketika konflik antara AS dan Iran berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali, saya memperkirakan UEA akan memproduksi minyak sebanyak mungkin dengan memanfaatkan setiap kapasitas cadangan yang mereka miliki," ujar Lipow.

Artikel ini sudah tayang di detikFinance, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Prabowo Tolak Bantuan Asing, Pemkot Medan Kembalikan Beras dari UEA"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads