Kawasan Ciwidey dan Pangalengan di Kabupaten Bandung sudah lama tersohor dengan produksi kopinya. Bahkan, sejak era kolonial, perkebunan kopi di wilayah Bandung Selatan itu sudah tersebar luas dan akhirnya dikenal di pasar global.
Sayangnya, di era sekarang, kopi Ciwidey dan Pangalengan seakan terlupakan. Perlu diakui, masyarakat-terutama di Jawa Barat-saat ini lebih tertarik menikmati kopi instan dalam kemasan, dibandingkan mengangkat produk kopi asli dari Ciwidey dan Pangalengan tersebut.
Kondisi inilah yang disadari Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Ia mendorong para penjual kopi di kawasan wisata Ciwidey dan Pangalengan untuk mulai menjajakan kopi hasil produksi lokal, ketimbang sekadar menjual kopi kemasan.
"Bandung itu penghasil kopi terbaik, tetapi orang yang meminum kopi khas Bandung belum benar-benar merasakannya. Maka di Ciwidey dan Pangalengan, terutama kios yang menjual kopi kemasan sachet, seharusnya menjual kopi tumbuk khas hutan Bandung," ujarnya di Kantor Bank Indonesia Jawa Barat, Jalan Braga, Kota Bandung, Senin (27 April 2026).
Dedi sebelumnya sempat menyinggung rencana pembatasan penjualan kopi kemasan dalam rapat paripurna Hari Ulang Tahun ke-385 Kabupaten Bandung di DPRD Kabupaten Bandung pada 20 April 2026. Hal itu didasari keyakinannya bahwa wilayah Kabupaten Bandung memiliki potensi besar sebagai penghasil kopi berkualitas, meski belum sepenuhnya tercermin dalam pola konsumsi di daerah sendiri.
Simak Video "Video: Emak-emak Histeris Minta KDM Bantu Bebaskan Suami Ditahan Demo Pati"
(ral/mso)