Ikhtiar Agar Kopi Ciwidey-Pangalengan Kian Terkenal

Round-Up

Ikhtiar Agar Kopi Ciwidey-Pangalengan Kian Terkenal

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 28 Apr 2026 07:44 WIB
Ilustrasi tingkat roasting biji kopi
Ilustrasi kopi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Rixipix).
Bandung -

Kawasan Ciwidey dan Pangalengan di Kabupaten Bandung sudah lama tersohor dengan produksi kopinya. Bahkan, sejak era kolonial, perkebunan kopi di wilayah Bandung Selatan itu sudah tersebar luas dan akhirnya dikenal di pasar global.

Sayangnya, di era sekarang, kopi Ciwidey dan Pangalengan seakan terlupakan. Perlu diakui, masyarakat-terutama di Jawa Barat-saat ini lebih tertarik menikmati kopi instan dalam kemasan, dibandingkan mengangkat produk kopi asli dari Ciwidey dan Pangalengan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi inilah yang disadari Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Ia mendorong para penjual kopi di kawasan wisata Ciwidey dan Pangalengan untuk mulai menjajakan kopi hasil produksi lokal, ketimbang sekadar menjual kopi kemasan.

"Bandung itu penghasil kopi terbaik, tetapi orang yang meminum kopi khas Bandung belum benar-benar merasakannya. Maka di Ciwidey dan Pangalengan, terutama kios yang menjual kopi kemasan sachet, seharusnya menjual kopi tumbuk khas hutan Bandung," ujarnya di Kantor Bank Indonesia Jawa Barat, Jalan Braga, Kota Bandung, Senin (27 April 2026).

ADVERTISEMENT

Dedi sebelumnya sempat menyinggung rencana pembatasan penjualan kopi kemasan dalam rapat paripurna Hari Ulang Tahun ke-385 Kabupaten Bandung di DPRD Kabupaten Bandung pada 20 April 2026. Hal itu didasari keyakinannya bahwa wilayah Kabupaten Bandung memiliki potensi besar sebagai penghasil kopi berkualitas, meski belum sepenuhnya tercermin dalam pola konsumsi di daerah sendiri.

Usulan tersebut didasari pertimbangan bahwa peralihan dari kopi kemasan ke kopi lokal dapat memberikan nilai tambah bagi identitas daerah, sekaligus memperkuat struktur ekonomi kerakyatan.

"Jadi ada kekhasan," tegasnya.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Jawa Barat melalui Open Data Jawa Barat, produksi kopi arabika di Kabupaten Bandung pada 2024 mencapai 8.567 ton.

Kabupaten Bandung tercatat sebagai daerah dengan produksi kopi arabika tertinggi sejak 2017. Selain unggul dibandingkan wilayah lain di Jawa Barat, tren produksinya juga terus menunjukkan peningkatan setiap tahun.

Pada 2017, produksi kopi arabika mencapai 5.277 ton, kemudian meningkat menjadi 6.634 ton pada 2018, 6.700 ton pada 2019, 7.526 ton pada 2020, 7.680 ton pada 2021, 8.183 ton pada 2022, 8.318 ton pada 2023, hingga menyentuh angka 8.567 ton pada 2024.

Selain kopi, Dedi juga menyoroti potensi komoditas teh. Ia menyebut kawasan Ciwidey dan Pangalengan, termasuk Malabar, sebagai wilayah penghasil teh unggulan di Jawa Barat yang harus terus dioptimalkan.

"Tehnya teh Ciwidey, teh Pangalengan, teh Malabar," ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan identitas lokal melalui produk seperti kopi, teh, hingga kuliner tradisional dapat memberikan kesan mendalam bagi para wisatawan yang berkunjung.

"Hal itu akan membangun daya ingat. Ketika berkunjung ke sana, rasa kopi berbeda, aroma teh berbeda, termasuk saat menikmati kuliner seperti lotek," katanya.

Menurutnya, pengalaman otentik tersebut sangat penting untuk menciptakan keterikatan emosional wisatawan terhadap suatu daerah. "Itu yang harus bisa mengikat orang yang datang," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: WN China Diserang Gerombolan Bermotor Pengguna Narkoba di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(ral/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads