Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dibangun dengan mimpi besar. Saat diresmikan pada 2018, bandara ini diproyeksikan menjadi simpul baru penerbangan internasional, pusat haji-umrah, hub logistik, hingga motor penggerak ekonomi Jawa Barat.
Namun delapan tahun berselang, realisasi di lapangan jauh dari skenario masterplan awal. Kondisi bandara di Majalengka itu memprihatinkan karena minimnya jadwal penerbangan reguler.
Direktur Utama PT BIJB, Ronald H. Sinaga, mengungkapkan banyak asumsi perencanaan yang meleset. Mulai dari komitmen maskapai, akses transportasi, hingga skema pengelolaan bandara mengalami deviasi besar dari rencana semula.
Dari sisi komersial, BIJB semula dirancang melayani berbagai maskapai besar domestik maupun internasional, seperti Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Batik Air, Sriwijaya Air, Nam Air, AirAsia, hingga Singapore Airlines.
"Ada Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Batik Air, Sriwijaya Air, Nam Air, AirAsia, dan Singapore Airlines. Kenyataannya yang terbang cuma Super Air Jet, Citilink, Malaysia Airlines, AirAsia, dan Scoot," ujar Ronald, Kamis (15/1/2026).
Namun, jumlah itu terus menyusut. Dalam enam bulan terakhir, sebagian besar maskapai berhenti beroperasi di Kertajati. Saat ini, bandara tersebut tercatat hanya menyisakan rute menuju Singapura dengan maskapai Scoot.
"Tapi ini pun sudah tidak terbang, dulu terbang semua. Baru enam bulan terakhir saja tidak terbang, hanya tersisa Scoot," katanya.
Rencana menjadikan BIJB sebagai pusat haji dan umrah juga meleset dari target. Layanan ini diproyeksikan aktif pada 2018, namun kenyataannya penerbangan haji baru terlaksana pada 2023.
"Dulu kami memproyeksikan haji dan umrah terbang pada 2018. Nyatanya baru 2023. Umrah baru akan dicoba tahun ini pada 6 Februari, tapi sampai sekarang baru dapat 100 penumpang. Kami terpaksa mencarter pesawat Garuda," ungkap Ronald.
Simak Video "Video: Kondisi Langit Iran Sepi dari Penerbangan Internasional Usai Ditutup"
(bba/mso)