Kisah Wawan 22 Tahun Bergulat dengan Korek Api di Bandung

Serba-serbi Warga

Kisah Wawan 22 Tahun Bergulat dengan Korek Api di Bandung

Rifat Alhamidi - detikJabar
Sabtu, 15 Okt 2022 07:00 WIB
Wawan, tukang servis korek api di Pasar Cikutra, Kota Bandung.
Wawan, tukang servis korek api di Pasar Cikutra, Kota Bandung. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Korek api bagi kebanyakan orang biasanya hanya benda sekali pakai. Ketika sudah gasnya habis ataupun koreknya rusak, benda itu langsung dibuang.

Namun di tangan Anwar M Said (56) atau yang akrab disapa Wawan, korek api yang sudah kosong atau rusak itu justru jadi ladang cuan.

Kesehariannya, Wawan adalah tukang servis isi ulang korek api gas yang membuka lapak jasanya di Pasar Cikutra, Kota Bandung, Jawa Barat. Tak main-main, Wawan ternyata sudah menekuni profesi itu dari awal tahun 1990-an.


Saat ditemui detikJabar, Jumat (14/10/2022), Wawan yang sudah berusia kepala lima tampak masih bugar. Mata dan tangannya begitu cekatan melakukan reparasi atas permintaan pelanggan untuk isi ulang korek api gas mereka. Tapi ia harus menggunakan kacamata agar bisa melihat dengna jelas komponen-komponen rumit saat proses reparasi di lapaknya.

Wawan bercerita soal bisnis yang mulai ia tekuni saat memilih merantau dari kampung halamannya, Tasikmalaya ke Bandung. Kala merantau, Wawan masih bujangan.

"Dulunya jualan asongan di Tasik sebelum ke Bandung. Nggak lama akhirnya ngerantau ke sini, langsung buka lapak isi gas (servis korek api gas isi ulang)," kata Wawan saat berbincang dengan detikJabar.

Wawan, tukang servis korek api di Pasar Cikutra, Kota Bandung.Wawan, tukang servis korek api di Pasar Cikutra, Kota Bandung. Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar

Awal mula melakoni usahanya, Wawan tak langsung mendirikan lapak di lokasi sekarang. Butuh usaha besar yang ia lakukan sebelum akhirnya para pelanggan berdatangan.

Sembari mengingat kembali masa-masa itu, Wawan mengaku sempat berkeliling dari toko ke toko untuk menawarkan jasa isi ulang korek api. Itu terjadi saat bulan-bulan pertama Wawan datang ke Bandung setelah merantau dari Tasikmalaya.

Namun karena kelelahan, Wawan memutuskan membuka lapak supaya bisa menawarkan jasa servisnya. Bermodal lapak sederhana mengandalkan kardus bekas air botol kemasan, Wawan mulai menekuni usaha jasa servis isi ulang korek api gas itu di Pasar Cikutra.

"Saya buka lapak ini dari nol. Sebelumnya pernah ngider ngeliling sampe ke Antapani nawarin isi gas (isi ulang korek api gas) ke kios-kios rokok. Tapi karena capek, akhirnya buka lapak di sini. Awalnya cuma pake dus doang, gasnya cuma 3 biji. Sampe diusir sama orang juga pernah," kenang Wawan mengingat kembali masa-masa awalnya merintis usaha jasa isi ulang korek api tersebut.

Setelah membuka lapak, satu per satu pelanggan Wawan mulai berdatangan. Ia lalu memutuskan membuat tempat jualan yang lebih nyaman untuk menawarkan jasa servisnya. Bermodal kayu berukuran sekitar 50 cm X 50 cm yang ia pesan dari tukang, Wawan makin memantapkan diri menjalankan usaha itu.

Supaya usahanya mendatangkan keuntungan, Wawan sampai mencari tabung gas berukuran 220 gram dengan harga murah. Lewat tabung gas yang biasanya digunakan untuk kompor-kompor mini para pendaki gunung ataupun traveller itu, Wawan bisa mendapatkan untung dari jasa servis isi ulang korek apinya.

Wawan, tukang servis korek api di Pasar Cikutra, Kota Bandung.Wawan, tukang servis korek api di Pasar Cikutra, Kota Bandung. Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar

"Waktu itu mah saya patok harganya juga cuma Rp 35 perak (rupiah), terus jadi Rp 50 perak. Kalau sekarang Rp 1.500-2.000. Tapi gratis juga dikasih," ucapnya.

Perlahan tapi pasti, usaha Wawan mulai mendatangkan keuntungan. Dalam sehari, kini ia bisa melayani permintaan untuk isi ulang korek api gas 30-40 buah. Kios Wawan juga makin besar yang ia lengkapi dengan barang-barang jualan lainnya.

Untuk menambah penghasilan, Wawan mulai merambah jasa servis jam maupun kacamata. Ia mematok harga Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu untuk jasa reparasi itu. Meskipun terbilang kecil, Wawan bersyukur karena bisa menghidupi keluarganya dari usaha tersebut.

"Prinsip saya mah walaupun kecil, yang penting disyukuri. Kan kalau dikumpulin mah bisa besar. Tapi yang jelas, pelayanan ke pelanggan tetap yang paling utama. Jangan sampai pelanggan dikecewakan," pungkasnya.

(ral/orb)