Muchtar dan Boneka 'Menari' di Simpang Dago Bandung

Serba-serbi Warga

Muchtar dan Boneka 'Menari' di Simpang Dago Bandung

Muhammad Fadhil Raihan - detikJabar
Kamis, 08 Sep 2022 08:00 WIB
Muchtar dan boneka menari.
Muchtar dan boneka 'menari'. (Foto: Muhammad Fadhil Raihan/detikJabar)
Bandung -

Di tengah keramaian simpang Dago, terlihat seseorang sedang memainkan sebuah boneka. Boneka tersebut menari sembari diiringi lagu untuk menghibur para pengendara.

Boneka tersebut tampak memiliki wujud serupa dengan penggeraknya. Dengan tinggi setara paha, boneka tersebut dilengkapi atribut yang membuatnya seolah jelmaan penggeraknya.

Adalah Muchtar (68) orang di balik penggerak boneka tersebut. Tidak seperti pengamen pada umumnya, Muchtar menggunakan boneka untuk menghibur para pengendara.


Muchtar mengaku boneka tersebut terinspirasi dari boneka-boneka yang ia temui saat masa kecil. Berangkat dari hal itu, Muchtar mencoba memanfaatkan boneka sebagai alatnya mencari nafkah. Boneka itu pun dibuat dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemui.

"Karena awalnya saya pengen mengembangkan boneka, akhirnya buat sendiri. Dulu itu kan waktu anak-anak suka bikin (boneka) dari tanah, cuma kalau pake tanah kan bisa hancur. Jadi saya bikin yang bisa digerakin dari bahan karet, dari karet bingung juga jadinya pake karet sendal," ucap Muchtar saat ditemui di Simpang Dago, Jalan Ir. H. Djuanda, Bandung, Rabu (7/9/2022).

Muchtar menyebutkan bonekanya kerap berganti pakaian yang berbeda warna. Saat ditemui, boneka tersebut menggunakan pakaian dengan warna senada dengan yang dikenakan Muchtar, yaitu biru.

Muchtar mengaku sudah beberapa kali membuat boneka tersebut. Namun, untuk boneka yang sekarang sudah menemani Muchtar sejak tahun 2013.

Muchtar dan boneka 'menari'.Muchtar dan boneka 'menari'. Foto: Muhammad Fadhil Raihan/detikJabar

Mengamen Sejak Tahun 1994

Muchtar mengaku berprofesi sebagai pengamen sejak tahun 1994. Sebelum menggunakan boneka, ia mengamen menggunakan kibor di berbagai tempat.

"Kalau ngamen pake alat musik dari tahun 1994 di bis kota Jakarta. Terus mulai pake boneka di Kota Tua (Jakarta) tahun 2011," ucap Muchtar yang kini bertempat tinggal di Padalarang.

Kemudian pada tahun 2016 Muchtar dan bonekanya berpindah tempat untuk menghibur rakyat Padalarang. Sementara itu, ia mengaku baru meramaikan Simpang Dago selama 1 tahun 9 bulan.

Sementara itu, sebelum mengamen pada tahun 1994 Muchtar mengaku berprofesi sebagai pedagang asongan di Jakarta.

Kini, Muchtar setiap harinya harus pulang-pergi ke Padalarang. Oleh karena itu, ia hanya bisa meramaikan Simpang Dago sampai sore hari.

"Saya kan pulang ke Padalarang, jadi sampe sini jam 7 pagi mulai main, kalau nggak hujan biasanya sampe jam setengah 6 sore," ucap Muchtar.

Muchtar dan boneka 'menari'.Muchtar dan boneka 'menari'. Foto: Muhammad Fadhil Raihan/detikJabar

Dari profesinya tersebut, Muchtar mengaku sudah cukup memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Meskipun ia harus pulang-pergi menggunakan kereta api, tidak mematahkan semangatnya terus menghibur masyarakat.

"Penghasilan alhamdulillah bisa mencukupi. Paling banyak sehari bisa dapat Rp 200-300 ribu, itu pun kalau nggak hujan. Biasanya rame waktu hari Sabtu dan Minggu, atau lagi liburan," ucap Muchtar.

(orb/orb)