Nilai Tukar Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Segini Nilainya

Nilai Tukar Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Segini Nilainya

Tim detikFinance - detikJabar
Kamis, 29 Sep 2022 15:05 WIB
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Squirescape).
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah menguat. Saat ini tembus Rp 15.200. Beberapa produk di Indonesia pun dikhawatirkan mengalami kenaikan harga.

Dikutip dari detikFinance, Direktur Center of Economic and Law Studies CELIOS Bhima Yudhistira menjelaskan merosotnya nilai tukar Rupiah berisiko terhadap beberapa bahan pangan yang impor. Sebab, biaya impor akan membengkak. Kondisi demikian membuat distributor mengerek harga di dalam negeri.

"Dari biaya impor akan membengkak karena rupiahnya melemah, membuat para distributor akan menyesuaikan harga di dalam negeri. Yang artinya, akan memicu imported inflation atau inflasi karena biaya impor yang membengkak," kata Bhima, Kamis (29/09/2022).


Bhima menyebut ada beberapa bahan pangan yang masih diimpor Indonesia, di antaranya gandum 100 persen impor, bawang putih 93 persen, kedelai 91 persen, gula 70 persen, garam 68 persen, dan daging sapi atau kerbau 38,5 persen dari total kebutuhan nasional.

Tidak hanya itu, menurut Bhima, biaya input produksi di dalam negeri pun juga akan terkena imbas naiknya dolar AS. Dalam sektor pertanian saja, sebagian bahan baku pupuk juga masih impor. Ditambah lagi, baru-baru ini harga BBM naik yang berpengaruh pada biaya operasional.

Karena pupuk sebagian juga impor, atau bahan baku pupuknya impor, maka akan mengakibatkan terjadinya kenaikan biaya input produksi, sehingga pertanian seperti beras seperti beras itu juga terancam harganya mengalami kenaikan," kata Bhima.

Imbas pelemahan Rupiah terhadap dolar AS ini begitu besar terhadap sektor perekonomian. "Barang elektronik, barang otomotif, spare part, yang sebagian juga mengikuti kurs dolar AS. Maka ketika dolar AS trennya terus mengalami penguatan terhadap rupiah, ini juga akan berpengaruh terhadap harga jual di dalam negeri," jelasnya.

Bhima menambahkan, belum tentu konsumen siap menghadapi dampak pelemahan rupiah terhadap lonjakan harga barang-barang yang dibutuhkan masyarakat di dalam negeri. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada.

Lebih lanjut, Bhima memproyeksikan, dalam satu tahun depan inflasi Indonesia diperkirakan masih cukup tinggi. Kondisi ini juga berisiko terhadap melemahnya pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, Pengamat Ekonomi dari CORE Piter Abdullah memperkirakan, pelemahan nilai tukar rupiah ini tidak berlanjut untuk waktu yang panjang. "Saya sendiri memperkirakan pelemahan rupiah ini tidak akan berlanjut dalam waktu yang panjang," kata Piter.

Ia menilai dampak naiknya nilai tukar dolar AS ini masih bersifat sementara. Artinya, belum berdampak pada barang impor, termasuk pangan.

"Kalau kenaikannya hanya temporer belum akan berdampak ke harga-harga barang impor termasuk barang pangan. Baru akan berdampak kalau kenaikannya berlanjut dalam jangka waktu yang panjang," kata Piter.

(sud/mso)