Harga Sayuran Merosot, Petani di Bandung Ngamuk!

Harga Sayuran Merosot, Petani di Bandung Ngamuk!

Yuga Hassani - detikJabar
Rabu, 21 Sep 2022 17:21 WIB
Foto video petani ngamuk gegara harga sayur merosot
Foto video petani ngamuk gegara harga sayur merosot (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Viral video di sosial media adanya seorang petani di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung yang merusak sayuran yang ditanamnya. Hal tersebut dilakukan karena harga sayuran saat ini merosot.

Dilihat detikJabar di group Facebook suara keluh kesah rakyat Kabupaten Bandung, video tersebut diunggah oleh akun facebook Agung R. Terlihat dalam video tersebut seorang petani menebas sayuran dengan menggunakan pisau.

Terlihat sedang kesal, petani tersebut melakukan sabetan pisaunya dengan beberapa kali ke berbagai area. Kemudian petani tersebut terlihat mencabut sayurannya dan melemparkan lagi.


Tak hanya itu, petani tersebut sesekali menendang sayurannya. Bahkan aksinya tersebut berakhir saat dirinya melakukan aksi koprol hingga tiduran di ladang sayuran tersebut.

Pengunggah video yang juga seorang petani, Agung Rizky Yuda, mengatakan aksi petani tersebut merupakan salah satu luapan kekecewaan terhadap harga sayuran yang semakin menurun. Bahkan, kata dia, penurunan tersebut telah terjadi beberapa hari yang lalu.

"Video itu kiriman dari teman. Memang sekarang harga sedang anjlok, semua sayuran pecay, kubis, bawang daun lagi pada turun harganya," ujar Agung, saat dikonfirmasi, Rabu (21/9/2022).

Agung menambahkan aksi yang dilakukan petani tersebut merupakan salah satu bentuk rasa kecewa dari harga sayuran yang semakin merosot. Sehingga itu dilakukan untuk protes terhadap pemerintah.

"Mudah-mudahan pemerintah bisa melihatnya. Supaya tahu nasib petani saat ini," jelasnya.

Agung mengungkapkan saat ini harga pecay atau Sawi putih dibeli oleh bandar hanya berkisar Rp 200 per kilogram. Menurutnya harga tersebut jauh dari harga normal.

"Pecay harga normalnya berkisar Rp 2.500 sampai Rp 3.000 per kilogram. Makanya petani dibebankan dengan biaya upah kuli panggul dan kuli panen. Kalau dijual, untuk upah kuli saja tidak mencukupi," katanya.

Menurutnya jika hal tersebut terus berkelanjutan bisa membuat para petani merugi. Pasalnya para petani sudah mengeluarkan modal yang besar untuk kebutuhan pupuk dan biaya lainnya.

"Kita modal pupuk aja besar," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran menyebutkan hal tersebut diakibatkan karena kapasitas produksi yang tidak terjaga. Sehingga harga sayuran di para petani langsung merosot.

"Kemarin itu kan kemarau basah, jadi produksinya melimpah," ujar Tisna, saat dikonfirmasi terpisah.

Tisna menjelaskan ketersediaan barang yang melebihi kebutuhan akan mempengaruhi harga. Menurutnya hal tersebut sesuai dengan hukum ekonomi.

"Selain itu terjadi juga rantai distribusi panjang yang membuat harga di tingkat petani jauh dibanding harga di tingkat konsumen. Kemarin saya mengecek harga bawang. Di pasar harganya masih lumayan tinggi, mencapai Rp 40 ribu per kilogram," ucap Tisna.

"Kemudian di tingkat petani harga bawang hanya Rp 17 ribu per kilogram. Itu ada selisih harga ditingkat konsumen sekitar Rp 23 ribu per kilogram," tambahnya.

Tisna menambahkan dengan adanya kasus di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung bisa segera diselesaikan. Sehingga dirinya terus mengupayakan hal tersebut.

"Kami sedang mengupayakan untuk menyelesaikan masalah ini," pungkasnya.



Simak Video "Duduk Bareng Jokowi, Petani Tebu di Mojokerto Curhat soal Harga Pupuk"
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)